Mau promosi sedikittt.
Buat yang udh mampir di cerita ini, vote/komennya, jangan dilupakan ye besti.
Happy Reading🧡🦖
___________
"APA?!"
Dinda dan Dikta berjengit kaget, lalu memutar bola mata malas, malas mendengar drama apa lagi yang akan di keluarkan oleh anak sulung mereka.
"Biasa aja kali kagetnya, bunda bisa budek kalo kamu teriak-teriak terus," keluh Dinda.
Jaja menekuk wajah kesal. "Gimana Jaja gak teriak bun, kalian mau nitipin Egan ke Jaja seharian? Jaja mana bisa ngasuh Egan, yang ada Egan malah depresot kalo main sama Jaja," ucapnya, sedikit mengeluh.
Dinda menghela nafas sabar. "Bunda pergi subuh, abis isya' udah balik Ja, gak usah kayak orang ditinggal bertahun-tahun gitu deh, lagian besok kamu libur sekolah kan, nanti bunda minta tolong ke Nana buat bantuin kamu jaga Egan."
"Ditinggal gak sampek dua puluh empat jam aja, kayak mau depresi aja kamu Ja," cibir Dikta, dan dibalas tatapan tajam oleh Jaja.
"Anak udah dua masih aja mau bulan madu, gitu tuh punya mak bapak gak ada akhlak semua, anak jadi babu deh di rumah," gerutu Jaja, lalu menatap Dinda dengan wajah memelas. "Egan bawa aja deh bun, Jaja janji di rumah gak akan nakal-nakal."
"Apa sih Ja, orang bunda cuma sebentar aja."
Jaja menghela nafas lelah, lalu tersenyum senang saat dirinya teringat sesuatu. "Boleh aja sih bunda titip Egan ke Jaja, tapi ada satu syaratnya."
Dinda dan Dikta menatap Jaja penuh selidik. "Apaan syaratnya?" tanya Dikta.
"Ayah harus izinin Jaja bawa si Ipin lagi, dan bunda juga harus transfer ke Jaja minimal lima puluh juta untuk besok Jaja nemenin Egan," ujar Jaja, penuh semangat serta senyuman lebar terpatri di bibirnya.
Dikta menatap tajam Jaja, serta Dinda yang mencubit Jaja untuk meluapkan rasa kesalnya. "Aww, sakit bun, bunda kok kdta sih," ucap Jaja, sambil mengelus bekas cubitan Dinda di pahanya.
"Kdta apaan?" tanya Dikta, penasaran. "KEKERASAN BUNDA TERHADAP ANAK!"
Dikta mengerutkan keningnya. "Dih apaan sih kok gak nyambung."
"Sambungin aja pakai tali rafia yah," jawab Jaja, asal.
Dinda menghela nafas panjang, selalu saja suami serta anak sulungnya ini membuat darah tingginya kumat. Dengan langkah kesal, Dinda berjalan menjauhi kedua orang yang masih saja beradu argumen tersebut.
Jaja menatap kepergian sang bunda dengan perasaan heran. "Kenapa itu yah? Ngambek ya? Pasti uang belanjanya kurang tuh."
Dikta mendorong kepala Jaja kasar, hingga membuat empu merengut kesal. "Sekate-kate kamu tuh, mana ada uang belanja kurang, yang ada uang belanja kelebihan kalo ayah yang ngasih."
Jaja mencibir. "Alah, sok-sokan uang belanja kelebihan, emang lebih berapa? Palingan lima rebu doang."
Jaja beranjak dari duduknya, berjalan menaiki tangga menuju kamarnya, sebelum sampai di tangga terakhir Jaja lebih dulu berbalik badan dan tersenyum manis kepada sang ayah.
"BUN, AYAH JAJANIN MARPEL LAGI BUN! ABIS LIMA PULUH JETI," adunya pada Dinda, membuat sendal yang dipakai Dikta melayang ke arahnya, namun salah sasaran.
Jaja tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah kesal Dikta. "Kasian amat bapak gue, pasti gak jadi dapet jatah nanti malem."
"JAJA, AYAH MUTILASI YA KAMU!" Dikta menghembuskan nafas lelah.
"KAMU YANG AKU MUTILASI NANTI!" seru Dinda, dari arah dapur, membuat Dikta berjengit kaget, lalu mengusap dadanya bersabar.
"Gak anak, gak bini, sama aja semua sama-sama gak ada akhlak," gumam Dikta, sembari meratapi nasibnya.
✨✨✨
"Ini gurunya ngasih soal gak pake mikir pasti, apaan soal cuma sebaris jawabannya sampek beranak gini," gerutu Jaja, sambil membolak balikkan buku tugas, serta buku paket miliknya.
"Emang itu guru demen banget kayaknya ya nyiksa murid sendiri," timpal Rama.
Dewa menghembuskan nafas panjang. "Kapasitas otak kecil, tapi disuruh mikir berat, ya ngelag buk."
Siapa yang menyangka bahwa Dewa adalah siswa cerdas seperti kebanyakan cool boy di kebanyakan cerita wattpad?
Kalian salah besar, Dewa, Rama dan Jaja, adalah paket lengkap. Sama-sama tidak pandai dalam pelajaran, karena setiap ujian mereka hanya akan mengandalkan Nana atau contekan dari teman-teman yang ada di dekat mereka.
"SIAPA PUN TOLONG KELUARKAN SEMUA BUKU-BUKU INI DARI SINI!"
Rama menghempas semua bukunya agar jauh dari jangkauannya, lalu mengangkat kedua telapak tangannya seperti orang sedang berdoa. "Ya allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang, tolongin Rama dong, tolong selesaikan tugas ini tanpa membuat otak Rama lelah, aamiin," ucapnya, lalu mengusap telapak tangannya ke wajah.
Dewa memperhatikan Rama. "Benar-benar diluar dugaan, otak lo capek banget Juk? Sampek minta bantuan yang maha kuasa, logika aja sih kalo gak dikerjain mana bisa kelar ogeb dah."
"Ya kan gue lagi berusaha meminta, inget Kas 'jangan pernah meminta atau pun berharap pada manusia, karena kamu pasti akan kecewa, tapi jika kamu meminta pada yang maha kuasa, maka kamu akan senantiasa diberi kemudahan' kata orang jaman dulu," ujar Rama, memberi petuah pada Dewa.
Membuat Jaja melongo mendengar petuah dari Rama. "Emang bisa ya, minta tanpa berusaha bakalan ke wujud apa yang kita mau?" tanya Jaja pada Rama.
Rama mendongakkan kepala, merawang ke atas sana. "Gak tau juga sih, gue kan cuma katanya."
Jaja menimpuk kepala Rama menggunakan bantal yang ada disebelahnya. "Yeuuu Marjuki si sok tau."
"Ini angka 2.3 dapet darimana sih?" tanya Dewa, membuat Jaja dan Rama menoleh ke arah Dewa.
"Udah kas kasian otak lo, capek dia, kalo bisa ngomong mungkin dia bakalan ngomong gini, 'hampura mas, aing lelah, butuh represing,'" ujar Jaja, membuat Rama tertawa terbahak-bahak.
"Butuh healing mas, udah lama gak healing," sambung Rama, masih dengan tawanya yang belum reda.
Dewa melempar asal pulpen yang sedari tadi dipegangnya lalu menelungkupkan wajahnya di pinggiran sofa. "Ah udahlah buang aja nih semua buku-buku gue, capek banget mikirin tugas orang tugasnya aja gak pernah mikirin gue."
Jaja dan Rama semakin terbahak-bahak melihat betapa lelahnya Dewa mengerjakan tugas rumah yang diberikan oleh guru. "Kasian amat otaknya mas Eky, udah kapasitas cuma 1.5 gb, eh malah dipaksa kerjain tugas yang membutuhkan kapasitas otak 12 gb, untung gak meleleh," cibir Rama.
Jaja merapikan buku-buku dihadapannya. "Emang paling bener, kita tungguin Nana aja, minta contekan ke dia."
Rama dan Dewa mengangkat dua ibu jarinya. "Saran yang paling ok."
________
Jangan lupa vote/komen/share cerita ini ke temen-temen kalian.
Terima kasih🧡
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Kembar! [Hiatus]
Teen FictionPersamaan tanggal lahir, persamaan nama, juga persamaan sifat dan tingkah laku, membuat keduanya disebut kembar. Namun keduanya bukanlah saudara kembar, mereka berdua terlahir dari dua rahim yang berbeda. _____ "Panggil gue abang Jaja!" "Seenak jida...
![Bukan Kembar! [Hiatus]](https://img.wattpad.com/cover/307499075-64-k795120.jpg)