Pengakuan di Balik Debu Masa Lalu

308 50 7
                                        

​Kamis pagi terasa lebih berat dari biasanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

​Kamis pagi terasa lebih berat dari biasanya. Giselle melangkah cepat menyusuri koridor sekolah yang mulai sepi karena bel masuk hampir berbunyi. Matanya sembab, sisa dari tangis semalam yang tak kunjung usai. Ia berusaha menenggelamkan diri dalam tumpukan buku di perpustakaan, menghindari satu sosok yang sejak pagi terus membuntutinya.

​Namun, pelariannya terhenti di halaman belakang sekolah. Langkahnya tertahan saat sebuah bayangan tinggi menghalangi jalannya.

​"Giselle!" Panggilan itu terdengar parau dan mendesak.

​Giselle tak menoleh. Ia mempercepat langkah, merapatkan jaketnya seolah bisa bersembunyi dari kenyataan. Namun, sebuah tangan kokoh namun lembut meraih lengannya, memaksanya berhenti.

​"Lepaskan, Kak!" Giselle mengempaskan tangan Jeno dengan kasar. Napasnya memburu, dadanya terasa sesak oleh amarah yang bercampur dengan rasa pedih.

​"Kenapa kamu menghindariku seperti ini? Setidaknya beri aku kesempatan untuk bicara," tanya Jeno. Wajahnya tampak pucat, ada guratan luka yang belum sembuh di dahinya akibat kecelakaan kemarin, namun sorot matanya jauh lebih terluka.

​"Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Anggap saja kita orang asing yang tidak sengaja berpapasan di koridor," jawab Giselle dingin. Ia mencoba berbalik, namun Jeno menahan kedua bahunya, memaksanya untuk menatap lurus ke dalam matanya.

​"Katakan padaku, ada apa? Apa ini karena Renjun?" suara Jeno melembut, namun tetap tegas.

​Giselle tak tahan lagi. Pertahanannya runtuh. Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras membasahi pipinya. "Apa Kakak tidak punya rasa bersalah sedikit pun? Setelah semua yang Kakak lakukan... Kakak masih berani muncul di depanku?"

​Jeno mengerutkan kening, tampak benar-benar bingung. "Giselle, apa yang sebenarnya kamu bicarakan?"

​"Kak Jeno adalah orang yang merenggut nyawa Kak Mark! Dia kakak kandungku, Kak! Bagaimana bisa aku menatap pria yang menghancurkan keluargaku sendiri?" teriak Giselle di tengah isak tangisnya.

​Dunia seolah berhenti berputar bagi Jeno. Nama itu kembali muncul seperti hantu dari masa lalu yang paling kelam. Ia melepaskan bahu Giselle, namun tatapannya tidak goyah.

​"Itu tidak benar, Giselle," ujar Jeno pelan namun penuh penekanan. "Kak Mark meninggal karena pilihannya sendiri, bukan karena aku. Aku ada di sana, aku tahu apa yang terjadi malam itu. Kamu harus percaya padaku."

​"Cukup!" Giselle menutup telinganya, sesenggukan. "Kita baru saja saling mengenal. Mari kita berhenti di sini sebelum semuanya semakin menyakitkan. Jangan pernah temui aku lagi."

​Giselle membalikkan badan untuk lari, namun Jeno kembali menarik lengannya. Kali ini, ia menarik gadis itu ke dalam jarak yang sangat dekat, hingga deru napas mereka bersahutan.
​"Aku mencintaimu," ucap Jeno tiba-tiba. Suaranya rendah, tulus, dan penuh keputusasaan.

​Giselle mematung. Isak tangisnya terhenti sesaat, matanya membelalak tak percaya. "A-apa?"

​"Aku menyukaimu, Giselle. Sejak pertama kita bertabrakan di koridor itu," ulang Jeno, menatap lurus ke dalam mata cokelat Giselle yang masih basah.

​Hening menyergap. Giselle merasa otaknya berhenti berfungsi. Di tengah konflik berdarah tentang masa lalu kakaknya, pria ini justru menyatakan cinta?

​"Ah, tidak mungkin! Aku pasti salah dengar!" Giselle buru-buru menutupi telinganya dengan tangan, wajahnya memerah padam antara marah dan malu. Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju gerbang belakang, meninggalkan Jeno yang berdiri membeku di tengah halaman.

​"Bodoh! Kenapa telingaku harus mendengar itu sekarang? Dan Kak Jeno... kenapa dia harus menyatakan perasaannya di saat seperti ini? Aku jadi membenci diriku sendiri karena jantungku malah berdebar!" batin Giselle penuh kekesalan sambil terus berlari.

​Jeno menghela napas panjang, menatap punggung Giselle yang menghilang di belokan. Ia tahu, kata-kata saja tidak akan pernah cukup untuk meruntuhkan tembok kebencian yang dibangun Renjun. "Aku harus mencari Seungmin," gumamnya. "Hanya dia yang bisa membantuku membuktikan kebenaran itu."

​Satu jam kemudian, Jeno sudah berada di sebuah kedai kopi yang remang di dekat sekolah. Di depannya duduk Seungmin, teman lamanya yang dikenal sebagai ahli teknologi dan sistem keamanan yang jenius.

​"Kenapa wajahmu sekusut itu, Jen? Seperti habis ditolak dunia," tanya Seungmin sambil menyesap kopinya.

​"Memang begitu kenyataannya," Jeno mengacak rambutnya frustrasi. "Masa lalu tentang Mark... kembali menghantuiku."

​Seungmin terdiam sejenak, wajahnya berubah serius. "Siapa lagi yang mengungkit kejadian empat tahun lalu itu?"

​"Ternyata Mark adalah kakak kandung Giselle. Dan Renjun... dia sepupu mereka yang sudah seperti saudara kandung. Sekarang Giselle membenciku karena mengira aku pembunuh kakaknya," jelas Jeno pahit.

​"Tunggu, Mark dan Giselle bersaudara? Tapi marga mereka berbeda," Seungmin tampak terkejut.

​"Keluarga mereka rumit, tapi intinya mereka satu darah. Aku baru tahu fakta itu kemarin," Jeno mengangguk lemas.

​"Lalu, apa yang ingin kamu lakukan?"

​"Aku butuh bantuanmu, Min. Kita harus ke sirkuit balap lama malam ini. Aku ingin memeriksa rekaman CCTV dari malam kejadian itu," pinta Jeno dengan tatapan memohon.

​Seungmin tertawa getir, seolah mendengar lelucon yang buruk. "Jen, kejadian itu sudah empat tahun lalu. Mana mungkin rekamannya masih ada? Lagi pula, tempat itu akan digusur total besok malam untuk pembangunan mal."

​"Justru karena itu, ini kesempatan terakhir kita," tegas Jeno, mencengkeram pinggiran meja. "Aku harus membersihkan namaku di depan Giselle sebelum semuanya terlambat."

​Seungmin menghela napas dramatis, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Astaga! Padahal aku sudah ada janji kencan malam ini! Kamu benar-benar penghancur rencana yang hebat."

​"Tolonglah, Min. Hanya kamu yang bisa masuk ke sistem lama itu," bujuk Jeno dengan wajah memelas.

​Seungmin terdiam cukup lama sebelum akhirnya menyerah kalah. "Baiklah, baiklah! Berhenti memasang wajah seperti itu, kamu mirip sekali dengan Hyunjin kalau sedang merajuk. Tapi ingat, kamu yang bayar bensin, kopi, dan kamu harus memberiku voucer makan malam romantis untuk kencan penggantiku besok."

​"Deal!" Jeno tersenyum untuk pertama kalinya hari itu. Secercah harapan muncul di tengah badai masa lalu. Malam ini, ia akan membuktikan bahwa ia bukanlah monster seperti yang dibayangkan Giselle.

RUANG ANTARA KITA | JENSELLE [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang