Bab 02 - Keinginan Kecil

25 0 0
                                    

Aku masih terus menangis dalam gendongan bibi. Menumpahkan air mata tanda kepiluan hatiku, sedari mamah juga semakin terisak saat kedatanganku yang  membuat suasana hati mamah bertambah runyam.
       
Apa salah jika seorang anak ingin melihat orang tuanya? Itu yang di pikiranku saat itu. Terlalu dangkal memang, aku menyalahkan dan mencap dokter serta para perawat itu jahat karna tidak memperbolehkanku melihat papah.
        
Ayolah, gadis ini sudah lama tidak merasakan pelukan hangat sang papah tercinta. Seorang papah yang biasa orang-orang sebut dengan cinta pertama para anak perempuan, ternyata memang benar adanya. Ya, aku hanya membenarkannya, tapi tidak bisa merasakannya.
        
Sudah lama aku tidak merasakan pelukan papah. Tapi aku yakin, papah sangat sayang denganku, dengan atau tanpa merasakan pelukannya.  Cukup dengan bukti kecilnya saja, dia mau terus berjuang untuk sehat agar bisa menemaniku kembali. Itu adalah bukti kecil yang sangat nyata.
        
"Bibi, lihat papah.” aku kembali meminta hal kecil itu kepada bibi. Kenapa sulit sekali untuk berjumpa dengan papah? Mamah sendiri sudah menopang wajah dengan kedua tangannya. Dengan bahu bergetar, mata yang kian membengkak karna air mata yang terus menderas. Mamah berusaha untuk menenangkan dirinya sendiri.
       
Bibi memberikan pengertian, "Az boleh kok, lihat papah, tapi liatnya dari luar saja, ya sayang. Di depan pintunya, oke." Bibi membujukku, namun dasarnya aku yang keras kepala. Kepala batu! Aku akan terus bersikeras  dengan pilihanku sampai bibi memenuhinya. Tidak peduli jika aku akan di cap anak kepala batu! Tapi sungguh, siapa sih yang bisa menahan Rindunya terhadap orang tua? Jika hanya melihat dari kejauhan tanpa memeluk, tidak akan puas rasanya! Oh, ayolah! Kabulkan sedikit permintaan kecil ini.
         
Bibi menghela nafas berat  sebentar. Menunjukkan jika dia sangat berat memenuhi keinginanku. Namun sedetik kemudian dia berjalan membawaku mendekati pintu ruangan papah. "Jangan, abangmu sedang beristirahat," mamah menginterupsi pergerakan bibi. Hatiku berkomentar, ‘Apa kedatanganku di sini hanya sebagai pengganggu?’ Entahlah. Padahal aku hanya ingin melihat sebentar, tidak akan mengeluarkan suara seperti toa!  Tapi mamah selalu saja melarangku! Huh menyebalkan. Bibi tidak bergeming, dia hanya menjawab pelan, "Hanya di depan pintu, mbak." jawab bibi sembari terus membawaku ke depan pintu ruangan papah.
         
Bibi mengusap surai rambutku pelan. "Nah, itu papah sayang." Bibi menunjuk seorang lelaki yang sedang tertidur  di brankar dengan selang oksigen yang bertengger di hidungnya. Jangan lupakan alat yang dipasang pada tangannya.

        
Sosok lelaki itu begitu pucat wajahnya. Nafasnya teratur, tetapi matanya tidak kian membuka. Itu yang membuat hatiku bergemuruh hebat. Ketakutan merayapiku tanpa ada cela untuknya berpikir positif, sedikit pun.

Kenapa juga aku sangat cengeng sekarang. Aku kembali menangis, tapi kali ini sangat histeris. Meraung-raung ingin masuk ke dalam sana. Bayangan wajah papah yang pucat langsung membuatku takut, aku sangat takut kehilangan papah. Berbagai kasus kematian yang sering aku liat di televisi kian membuat ketakutanku kian membesar.
        
"Bukan, itu bukan papah!" Aku berteriak sambil menangis. Sungguh, aku menginginkan papahku sembuh, tersenyum manis ke arahku, bukan papah yang terbaring lemah dengan alat-alat yang terpasang di tubuhnya.
         
Masih dengan isak tangisnya, mamah mendekati aku dan bibi. Mamah kembali mengambil alih aku dari gendongan bibi, "Mah, mau lihat papah." Tangan kecilku terus-menerus menunjuk ke arah ruangan tempat papah berada. Mamah tersenyum pedih, tampak terlihat jejak air mata di pipinya.
        
"Nanti ya, sayang. Papahnya lagi istirahat, tuh. Kamu jangan nangis, nanti papah sedih kalau liat Az nangis." Mamah memberiku  pengertian. Tangisanku tidak kunjung mereda. Sesak rasanya melihat orang yang kita sayangi terbaring lemah di sana.
        
Apa bisa keinginanku untuk melihat papah menjemputku di gerbang taman kanak-kanak terwujud? Apa bisa keinginan kecil seorang gadis lugu untuk bermain bersama super hero terkasihnya terwujud?
       
Hanya sebuah keinginan kecil, Tuhan. Tapi kenapa sukar di dapat?
       
Keinginan seorang gadis kecil yang haus pelukan sang papah ....
       
Hanya pelukan, bukan hadiah ataupun hal lainnya. Tapi kenapa engkau tidak mengabulkannya, Tuhan?
Suara batin itu kian semakin menggema tanpa dipinta. Dia bersuara mewakili sang pemilik jiwanya yang kini sedang dalam keadaan rapuh.
       
Tanpa mengindahkan perkataan mamah, Az malah semakin menangis tanpa henti. Mamah kembali menangis, "Az sayang, Az sayang papah, kan? Ayo dong doakan papahnya, Az gak boleh nangis terus, sayang," Mamah tak henti-hentinya memberikan pengertian kepadaku. Seolah air mataku membuat kondisi papah melemah. Seolah air mataku membuat luka di hati mamah.
        
Bibi sedari tadi ikut menangis, tampak sulit menenangkan bocah sepertiku. Bocah kecil yang seharusnya membawa kebahagiaan untuk semua orang, kini malah membawa air mata.
         
Apa aku salah? Menangisi papah? Dalam hatiku sangat yakin jika papah akan sembuh. Tapi kenapa air mata ini seakan tidak ingin berhenti untuk luruh? Apa tidak ada harapan lagi untukku bermain bersama papah?
         
Pertanyaan itu terus terngiang di dalam pikiranku, sampai saat tiba-tiba suara mamah memecahkan ribuan pertanyaan yang sejak tadi mengerumuni otakku.  "Az sayang, tadi katanya mau makan sama mama dan papah, kan? Nah, kali ini Az makan dengan mamah dulu, ya. Nanti kalau papah sudah sembuh, kita makan sama-sama, oke." bujuk mamah yang ke sekian kalinya.
          
Aku tetap tidak bergeming, rasanya bibirku terlalu kelu untuk menolak ataupun mengiyakan ucapan mamah.
        
Mamah memberi isyarat pada bibi melalui gerakkan bibirnya untuk menjaga papah sebentar. Samar-samar, dapat kulihat bibi tersenyum. Tanpa menunggu balasanku, mamah langsung membawaku menuju ke kantin rumah sakit. Isak tangisku sudah sedikit mereda.
        
Tidak ada percakapan selama di perjalanan menuju kantin, mamah seakan memberiku ruang untuk menangis. Aku semakin memeluk erat leher mamah. Seakan tidak ingin terpisah kembali dengan sosok penuh damba ini. Sosok baik penuh kasih.
         
Sampai di kantin, mamah memesan makanan, kemudian duduk di kursi yang telah disediakan. Tangan lembutnya mengusap sisa air mata di pipiku. "Az anak mamah yang kuat. Az jangan nangis ya sayang, nurut sama bibi. Nanti kalau papah sembuh, kita pergi ke tempat mana pun, yang Az mau." Senyuman lembut mamah membuat hatiku menjadi sedikit tenang. Sihir ajaib dari bibirnya membuat jiwaku bangkit kembali.
           
"Janji mamah?" Aku mengulurkan jari kelingking mungilku untuk bertaut pada jari mamah.
           
"Janji, dong!" Mamah berseru semangat ketika mendengar suaraku. Kebahagiaannya seakan bangkit setelah aku bersuara. Ternyata, sesederhana itu mengembalikan senyum kebahagiaan mamah kembali.
           
Tak lama kemudian, pesanan mamah datang, aku dan mamah makan dengan semangat. Senyum mamah tidak pernah luntur sedikit pun saat menatapku.
         
"Mamah, apa papah sudah makan?" Bibir mungil ini seakan tidak pernah berhenti untuk berceloteh ria. Menanyakan pertanyaan yang tidak seharusnya ditanyakan saat sedang makan.
           
Mamah menghentikan sebentar makannya, sebelum kemudian  menjawab, "Sudah, sayang." jawab mamah melanjutkan makannya.
           
"Oh, ya? Papah makannya dari mana mah? Bukannya tadi papah pakai penutup mulut itu?" Aku bertanya kembali, rasa penasaranku selalu muncul di saat yang tidak tepat. Aku menanyakan bagaimana cara papah makan? Sedangkan oksigen bertengger di hidung dan mulutnya.
          
Mamah selalu dengan sabar mendengar setiap celoteh mulutku. Aku menatap mamah, dapat kulihat mata mamah yang kembali berkaca-kaca.
           
‘Astaga! Aku memang bocah pembawa air mata rupanya!’ Suara batinku berkomentar. Aku memegang tangan mamah. Mamah sedikit tersentak kaget dengan sentuhanku.
          
"Mamah kenapa nangis?" pertanyaan lugu itu kembali lolos dari bibirku. Di relung hati, aku sedikit merasa bersalah karna sudah membuat mamah menangis.
           
Mamah menggelengkan kepalanya pelan, "Mamah gak nangis, kok. Ini makanannya terlalu pedas," kilah mamah cepat yang kutahu sebuah kebohongan. Dari tadi, mamah sama sekali tidak memasukkan sambal ke dalam makanannya. Jadi, mana mungkin mamah kepedasan.
            
"Mamah bohong, kan?" Aku bertanya jenaka. Mengeluarkan senyuman kecil yang mampu membuat mamah tersenyum juga. Tidak menjawab, mamah hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan.
            
Aku mengerutkan bibirku sebal. Apa sulitnya sih, menjawab pertanyaanku. Apa mamah tidak capek jika terus menerus tersenyum seperti itu?
           
"Mah, senyum terus dari tadi. Mamah belum jawab pertanyaan Az, loh."
            
Memah mengerutkan sedikit keningnya. "Pertanyaan yang mana?"
           
"Yang itu loh, mah. Yang papah makan dari mana tadi? Kan mulut papah ditutup pakai penutup mulut." Polosku mengajukan pertanyaan yang sama.
           
"O--h," mamah sedikit gugup sambil mengusap pelan belakang telinganya. Aku tetap sabar menunggu kalimat selanjutnya dari bibir mamah.
          
Mamah menarik nafas sebentar sebelum menjawab, "Papah makan menggunakan selang, sayang." Jawab mamah yang mampu membuatku tertegun.
         
"Selang?" Beoku.

Selamat membaca, untuk jiwa-jiwa kuat. Semoga lelahmu, menjadi lillah
•••

Anak Perempuan PertamaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang