Giselle, seorang siswi baru di SMA Harapan Bangsa, tak sengaja bertemu kembali dengan Lee Jeno, cinta pertamanya yang populer. Namun, kebahagiaan itu sirna saat ia mengetahui rahasia kelam keluarga: Jeno dituduh sebagai penyebab kecelakaan maut yang...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Pagi itu, sinar matahari yang menembus jendela kelas terasa lebih cerah bagi Giselle. Sambil jemarinya menari di atas kertas untuk menyalin tugas yang menumpuk, pikirannya melayang pada satu nama yang telah menghilang selama seratus hari.
"Oii, bocil!"
Suara cempreng itu menggelegar dari ambang pintu, menarik perhatian seisi kelas. Seungmin berjalan santai dengan cengiran khasnya, seolah tidak peduli dengan tatapan terganggu teman-teman sekelas Giselle. Ia langsung mengambil posisi duduk di bangku kosong sebelah gadis itu.
"Siapa yang kamu panggil bocil?" tanya Giselle, mencoba memasang wajah galak meski matanya berbinar.
"Tentu saja dirimu," sahut Seungmin dengan senyum manis yang memprovokasi.
"Kakak mau mati muda?" ancam Giselle, mengangkat pulpennya seolah itu adalah senjata tajam.
"Sadis sekali," balas Seungmin, berpura-pura ngeri. Namun, raut wajahnya mendadak berubah sedikit redup. "Eh, aku punya kabar yang... sepertinya tidak terlalu enak untuk didengar."
"Apa? Oh, soal Jeno ya? Dia benar-benar kembali hari ini, kan? Dia masuk sekolah?" rentetan pertanyaan Giselle meluncur begitu cepat, membuktikan bahwa antusiasmenya terhadap kepulangan Jeno jauh melampaui rasa penasarannya pada kabar buruk apa pun.
"Dia ada di kelasnya. Tapi, Gis... Jeno itu—"
"Jel! Bagi jawabanmu dong! Hari ini Pak Donghae masuk, dan aku belum menyentuh satu pun tugasnya!" seru Karina yang tiba-tiba muncul dan merampas fokus mereka.
"Ah, sebentar," Giselle terpaksa mengalihkan perhatiannya untuk mencari buku di dalam tas. Tepat saat itu, bel tanda masuk berbunyi dengan nyaring.
"Aku balik ke kelas dulu ya, sudah bel," pamit Seungmin, bangkit dengan terburu-buru seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun tertahan di ujung lidah.
"Oke, Umin!" jawab Giselle ceria, sama sekali tidak menyadari badai yang sedang menuju ke arahnya.
Sore harinya, pintu rumah kediaman keluarga Giselle terbuka dengan kasar. Giselle melangkah masuk dengan bahu bergetar, tangisnya pecah tersedu-sedu hingga napasnya tersengal. Matanya sudah bengkak dan memerah, kontras dengan wajah cerianya tadi pagi.
"Huaaa! Kak Renjun, hiks!"
Renjun yang sedang bersantai di ruang tamu langsung meloncat dari sofa, wajahnya pucat karena panik. "Astaga! Kenapa matamu sampai bengkak begitu?! Siapa yang berani menyakitimu?"
"Hiks... Kak Jeno jahat sekali, Kak!"
"Sudah kubilang, kan? Jangan dekat-dekat dengannya! Lihat sekarang apa hasilnya!" Renjun langsung mengomeli Jeno dalam hati, amarahnya tersulut melihat adiknya hancur.
"Tadi... tadi aku menyapanya, tapi dia bahkan tidak menoleh balik! Dia menganggapku seperti udara, Kak!"
"Hanya karena itu dirimu menangis sampai seperti ini?" Renjun mengembuskan napas lega sekaligus heran.
"Bukan cuma itu! Hiks," Giselle menyeka air matanya dengan kasar. "Dia kembali... dia kembali bersama Kak Nancy! Mereka berjalan beriringan seolah aku tidak pernah ada!"
"Nancy? Kekasihnya?"
"Mantan, Kak! Seharusnya mereka sudah putus!"
Renjun mengerutkan kening, mencoba mengingat sesuatu. "Tapi tidak ada kabar apa pun di forum sekolah atau dari Jaemin. Biasanya kalau pangeran sekolah putus, beritanya akan heboh sampai ke akar-akarnya."
"Mereka benar-benar sudah putus waktu itu! Kak Nancy sendiri yang mengatakannya di warung bakso!" teriak Giselle meyakinkan.
Renjun menatap adiknya dengan tatapan iba, lalu mengambil ponselnya. "Mungkin kamu salah dengar, Jel. Lihat ini, dua hari yang lalu mereka mengunggah foto berdua di Instagram. Duduk berdampingan dengan caption 'My Love'. Mereka terlihat sangat... baik-baik saja."
Dunia Giselle seolah runtuh untuk kedua kalinya. "Huaaa! Mereka pasti balikan! Semua penantianku sia-sia, Kak!"
Renjun menghela napas panjang, lelah melihat drama cinta adiknya yang tragis. "Sudahlah, berpaling saja pada Seungmin. Dia jauh lebih jelas daripada Jeno."
"Kenapa harus Umin?!"
"Dia baik, selalu ada untukmu, dan yang paling penting, dia tidak menghilang tiba-tiba selama tiga bulan hanya untuk kembali membawa kekasih lama!"
"Tidak mau! Aku maunya tetap Kak Jeno!" tangis Giselle semakin histeris.
"Astaga! Aku harus memanggil pendeta untuk mengusir arwah keras kepala ini dari tubuhmu!" Renjun frustrasi.
Tiba-tiba, Bunda muncul dari arah dapur dengan wajah khawatir. "Ada apa ini? Kenapa putri Bunda menangis sesenggukan begini?"
"Lagi patah hati, Bun," jawab Renjun tanpa penyaringan.
Bunda segera memeluk Giselle, memberikan kehangatan yang paling dibutuhkan gadis itu. "Anak Bunda yang cantik... kalau dia tidak baik untukmu, masih banyak pria lain di luar sana yang lebih menghargaimu."
"Renjun akan menjodohkannya dengan Seungmin, Bun. Dia anak yang baik, kan?" usul Renjun.
"Bunda setuju sekali! Seungmin itu sopan dan tulus," dukung Bunda, membuat Giselle semakin ingin menangis.
"Tidak mau! Maunya Kak Jeno saja!"
Renjun geram, hampir kehilangan kesabaran. "Kamu ini minta ditampol ya!"
"Eh, jangan kasar begitu pada adikmu!" tegur Bunda. "Sekarang, Renjun, pergi ke toko depan. Beli tisu yang banyak dan es krim cokelat ukuran besar."
"Untuk apa, Bunda?"
"Untuk Jijel. Sepertinya badai air mata ini akan berlanjut sampai tengah malam," jawab Bunda bijak. Renjun akhirnya menurut dan beranjak pergi meski sambil bersungut-sungut.
Bunda mengusap kepala Giselle dengan lembut. "Besok kau tidak perlu sekolah. Istirahatlah di rumah sampai matamu tidak bengkak lagi. Bunda tidak tega melihatmu seperti ini."
"Baik, Bunda... hiks," jawab Giselle lirih, membenamkan wajahnya di pelukan Bunda. Di tengah isakannya, ia menyadari bahwa seratus hari penantiannya berakhir dengan luka yang jauh lebih perih daripada sekadar rindu.