Sudah seminggu Renjun berusaha mendekatkan diri ke junkyu, tapi hasilnya masih tetap sama. Anak kucing putih itu masih belum mau membuka diri dan selalunya menempel pada Hyunsuk, Hongjoong, atau kalau nggak Jaemin.
"Apa yang harus aku lakukan lagi" gumam Renjun bertahan digunakan. Hembusan napasnya terdengar sangat keras hingga membuat Yeji yang berada disamping ya terganggu.
"Kau ini kenapa sih? Dari tadi mengeluh nggak jelas begitu. Apa anak-anakmu berubah lagi? Atau ini masalah anak baru mu itu?"
Yap. Yeji udah tau sejak insiden pesta kejutan ultah Renjun kemarin kalau anak-anaknya Renjun itu 'tidak biasa'.
Helaan napas kembali terdengar dari pemuda Huang itu. "Memangnya apa lagi?"
"Aku nggak bisa bantu apa-apa nih. Aku nggak punya pengalaman apapun soal pelihara kucing. Jadi, yang semangat ya"
"Sana pergi. Minta saran padamu sama saja aku bicara dengan orang tuli" Renjun melirik tajam gadis yang bermarga hampir sama dengannya.
"Ya siapa suruh kau tiba-tiba datang padaku sambil misuh misuh begitu. Nggak yang nyuruh tuh"
Yeji membalas tatapan Renjun tak kalah tajamnya. "Ya lagian aku mana tau cara rawat hewan jadi-jadianmu itu. Adopsi hewan atau anak sih? Heran"
Pemuda asal China itu menghela napas panjang lalu menopang dagu menatap kosong minumannya. "Apa perlakuan yang dia dapat segitu kejamnya sampai-sampai dia trauma berat seperti ini? Hah... anak kucingku yang malang"
"Kau dekati saja dia pelan-pelan. Obati lukanya kalau dia lagi tidur. Setau ku nih ya, dari pengalaman sepupuku, kau masih ingat Sam, kan? Anjing nya juga pernah seperti itu, dia coba dekati pelan-pelan. Lambat laun anjing nya luluh. Nah, coba kau terapkan itu"
"Akan kucoba nanti"
"Oh iya, bagaimana tanganmu?" Tanya Yeji yang tak sengaja melihat tangan Renjun yang masih diperban. Dia khawatir dengan keadaan lelaki manis itu.
Beberapa hari yang lalu juga gadis itu memergoki Renjun yang meringis menahan sakit dengan darah yang merembes mengotori perbannya. Sudah bisa dia tebak kalau itu adalah cakaran hewan dan sepertinya sangat parah dari apa yang dibayangkan.
"Apa kau tidak mau memeriksanya di rumah sakit? Takutnya lukamu akan infeksi kalau-"
"Yeji, kau tenang saja. Lukanya sudah mengering dan aku juga rajin mengganti perbannya kok" Renjun memperbaiki lengan bajunya.
"Tapi tetap saja, aku khawatir, Huang Renjun. Bagaimana nanti–"
"Hei! Ternyata kalian berdua ada disini! Satu fakultas aku keliling nyariin kalian"
Yeji dan Renjun kompak menoleh ke sang sumber suara. Tak lama ia melirik Renjun. Ah, sepertinya Renjun tidak ingin membahas soal lukanya lagi.
"Giselle! Tumben nyariin. Ada apa?" Tanya Yeji membalas lambaian gadis asal Jepang itu.
Mengalihkan topik pembicaraan dan bersikap seolah tidak membicarakan masalah luka di tangannya Renjun. Ya, lelaki asal China itu peka dan sedikit tersenyum. Lainkali dia akan mentraktir Yeji untuk membalasnya.
"Entar malam jadi nggak nih?"
"Jadi dong masa nggak!"
"Aku tidak tau bisa pergi atau tidak" ucap Renjun menghela napas panjang.
"Masalah anak kucing putihmu itu lagi? Kenapa kau tidak tanya ke Kak Seungmin saja? Aku rasa dia punya solusi untuk itu"
"Aku sudah menemuinya, Aeri. Tapi tidak ada hasilnya sama sekali"
KAMU SEDANG MEMBACA
Haustiere [Discontinue]
FantasyHuang Renjun atau yang sering disapa Renjun atau Injun adalah mahasiswa tingkat dua. Awalnya sih kehidupannya berjalan biasa tidak ada yang aneh. Tapi semua berubah saat suatu hari sebuah kotak misterius datang ke apartemennya. Siapa sangka kalau is...
![Haustiere [Discontinue]](https://img.wattpad.com/cover/246977007-64-k148268.jpg)