Beberapa menit sebelumnya, di posisi Halilintar dan Taufan, malam hari di luar supermarket.
Langkah Taufan semakin lama semakin memberat.
Di belakangnya Halilintar mengikuti perlahan, menyesuaikan jarak dengan temannya itu.
Yang dipaksakan memang tidak baik, Taufan sedikit tersandung saat ia melangkah.
Kini keduanya pun berhenti, di depan bangunan setengah runtuh.
"Ada urusan apa? Sampai lo ngikutin gua sekarang..." Lirih Taufan.
Malas untuk menjawab, Halilintar diam.
"Sebenarnya apa yang lo mau lakuin bareng Gempa, Hali?" Tanya Taufan walau ia tahu itu semua akan diabaikan oleh Halilintar.
Detik demi detik, tiada jawaban.
Taufan mendongak ke atas, mata penuh kekosongan itu menatap bentang luasnya langit malam.
'Kapan gua bisa mati dengan tenang, ya?' Batin Taufan.
Pandangan Halilintar sedikit berubah, bukannya ingin bersimpati namun melihat temannya seperti itu hanya membuatnya merasa buruk.
"Taufan. Gua bakal kasih tahu." Kata Halilintar.
Taufan memutar badannya lalu menatap lawan bicaranya itu, ia siap mendengarkan.
"Rencana gua dan Gempa adalah memisahkan diri dengan kelompok mereka. Kita berdua ingin membawa lo juga, Fan."
"Tentang ramuan penawarnya tidak apa-apa, kita punya yang sudah sempurna. Karena ramuan tersebut dibikin oleh perempuan itu hanya sedikit, gua dan Gempa sedikit egois untuk mengambil tindakan ini."
"Daripada kita bersama kelompok mereka, lebih baik kita bertiga saja yang menghadapi dunia tidak karuan ini."
Penjelasan Halilintar yang sangat tidak biasa dari sifatnya itu membuat Taufan tercengang.
Sayangnya, Taufan sangat membenci rencananya.
Niatnya memang baik namun ramuan-ramuan itu dibuat oleh Liana dan Taufan tidak akan pernah mau diselamatkan oleh apapun yang berkaitan dengan perempuan brengsek itu.
"Hah... Sangat bodoh..." Gumam Taufan sembari menahan sakit pada tangan kirinya.
"Bodoh? Apa maksud lo, Fan?"
Sepertinya Halilintar sedikit tersindir oleh gumaman yang dibuat Taufan.
Tangan kiri Taufan kini terasa panas dan berdenyut-denyut, mimik wajahnya tetap ia paksa tersenyum, "Kalian bodoh. Sebab, sampai gua mati pun, gua nggak akan pernah mau diselamatkan oleh ramuan penawar buatan perempuan brengsek itu."
"Lagipula kalian juga membius yang lain, buat apa gua percaya sama kalian sekali lagi?"
"Pembiusan itu pasti rencana lain kalian berdua 'kan?"
"Jawab gua, Li."
Tidak bisa menentang, Halilintar terdiam.
"Lebih baik lo kembali, Hali. Karena gua sudah memutuskan." Ucap Taufan.
Halilintar bingung, "Apa?"
"Gua memutuskan untuk pergi dari semuanya." Jawab Taufan.
Dengan sekuat tenaganya, ia berlari menjauh dari Halilintar yang berusaha keras menggapai Taufan yang semakin lama semakin jauh.
Dan saat itu juga, Halilintar berhenti mencapai temannya itu.
Manik merahnya berkaca-kaca memandang Taufan berlari ke lautan berkumpulnya para zombie.
KAMU SEDANG MEMBACA
RUN 2 [Boboiboy] ✔️
De Todo~Sequel of RUN~ Setelah 5 tahun kedamaian tanpa adanya makhluk mengerikan tersebut. Kali ini makhluk mengerikan tersebut datang kembali ke kehidupan mereka. Tidak ada waktu untuk diam, waktunya untuk berlari lagi dari kejaran mereka. story by redav...
![RUN 2 [Boboiboy] ✔️](https://img.wattpad.com/cover/234276301-64-k545660.jpg)