•
•
•
•
"Gue butuh bantuan lo."
Gelas bening berisi air putih baru saja Raihan raih untuk ia minum. Kedatangan seseorang yang tidak diundang membuatnya sedikit terganggu dan heran akan ucapannya barusan.
Raihan mengacuhkan pernyataan tersebut, ia memilih untuk meminum obatnya lalu tidur dan beristirahat. Kesehatan Raihan sedikit membaik seiring dengan waku serta perawatan Dokter. Jika bisa lebih baik lagi maka dia seharusnya sudah pulang ke Pesantren.
Namun, kejadian malam itu membuatnya tidak ingin menatap Mirza yang sedang berdiri di tepi ranjang.
"Gue gak bersalah."
Posisi Raihan berbalik memunggungi Mirza sembari mengacuhkan perkataannya barusan.
"Bukan gue yang nusuk, lo!" Mirza menyambung lagi.
Satu-satunya orang yang bisa membantunya keluar dari masalah ini adalah Raihan. Mirza tidak lagi peduli tentang siapa orang yang selalu menerornya ataupun dimana keberadaan ayahnya. Yang dia pikirkan saat ini adalah bagaimana caranya menghentikan Pico dan melindungi Kiai Hasan.
Itu adalah tujuan Mirza menemui Raihan. Tanpa bantuannya dia tidak bisa apa-apa. Polisi juga akan segera menangkapnya jika dia terus berkeliaran seperti ini. Mau bagaimana lagi, demi ayahnya, Mirza rela berbuat sesuatu. Walaupun harus menunduk dibawah kaki Raihan.
"Sejak awal aku tidak menyukaimu. Kamu sendiri yang datang membawa bencana pada Abi-ku, seharusnya kamu sudah paham." Tanpa menatap Mirza ucapan Raihan mengalir begitu saja.
"Kamu tidak bisa mengelak dengan kejadian yang menimpamu saat ini, saranku adalah menyerahkan diri kepada polisi. Saat ini kamu adalah seorang BURONAN."
Tentu saja Mirza kesal. Ia menarik kerah baju Raihan begitu keras hingga membuat sang empu meringis. Selang infus ditangannya terlepas akibat Mirza. Begitu pula dengan perban dibagian perutnya. Raihan sangat tersiksa, ia tak boleh banyak gerak saat ini. Tapi karena Mirza yabg sudah emosi, pria itu sama sekali tidak peduli akan keadaan Raihan.
"Gue tau kalau lo sangat benci sama gue. Oke. Gak masalah. Tapi, ini tentang Kiai Hasan. Nyawanya sedang terancam sama orang itu!"
"Kalau lo menganggap diri lo sebagai seorang anak, lo pasti mengerti kenapa gue minta bantuan sama lo!"
"Omong kosong!" Ini Raihan yang berbicara. Dia tidak percaya dengan omongan Mirza.
Bertambah stres lah Mirza. "BUKA MATA LO. CERNA SITUASI SEKARANG. JIKA LO SAJA GAMPANG DI TUSUK SAMA ORANG ITU, SUATU SAAT NANTI KIAI HASAN JUGA AKAN MENGALAMINYA. BAHKAN LEBIH PARAH DARI LO." Keluar sudah amarah yang menggebu itu. Mirza sangat emosi sampai terlihatnya urat dibagian leher serta tangannya.
"Orang itu sudah bertindak. Tolong kerjasamanya, tolong selamatkan ... Ayah gue."
Deg.
°°°°°
"Alhamdulillah ...."
Betapa bahagianya Raihan menatap wajah ceria diwajah sang ayah yang sedari kemarin memancarkan aura sedih. Kesembuhannya kali ini sangat manjur sebagai obat kebahagian ayahnya dan itu membuat Raihan ikut bahagia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Bukan Sekadar Santri (END)
Jugendliteratur[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] [ON GOING] Belum di revisi Pria dengan kopiah hitam dikepalanya yang sedikit miring tengah memandang satu bangunan yang cukup besar di hadapannya. Sarung yang tadinya ia pakai kini berada dilehernya dan bergelantungan bebas...
