Bab 28

127 32 39
                                        

┍━━━━━━━━━━┑
Sorakan penonton mencapai
puncak, sekarang tiba saatnya
untuk pertunjukan akhir
di mana kau yang akan
menjadi bintangnya.
┕━━━━━━━━━━┙

****

Aroma manis bagai permen kapas, sedikit bau basah bagai darah segar, Alice tidak tahu apakah dia sudah bangun atau belum lantaran dunia yang terlihat oleh mata hanyalah kegelapan tanpa ada satu pun cahaya.

Namun, gemuruh banyak orang berkumandang amat keras. Dia jadi sesak napas lantaran saling hantam ingin meraup oksigen. Berulang-ulang Alice coba untuk bergerak, barangkali seperti memisahkan dua pergelangan tangan yang saling menyatu.

"Sialan, apa ini?"

Alice tercekat, dia dengar suara Rachel mengeluh kasar walau tidak yakin darimana asal gumaman tersebut. Gadis itu serasa nyaris ada di dalam mimpi lantaran pusing, kepalanya berdenyut sangat sakit.

Tiba-tiba sorak penuh suka cita datang semakin riuh dan berganti jadi tepuk tangan tanpa henti. Setelah suara seperti kain panjang yang ditarik, mereka teriak amat kompak mengatakan 'bakar' atau 'bunuh' bagai ada dalam perseteruan ramai.

"Selamat datang di sirkus Mother Goose!"

Bulu kuduk meremang tak karuan, Alice mulai tahu sekarang ada di mana, suara pemuda bernada manis beri sambutan keras di tengah semangat para penonton, decitan suara anak-anak yang sangat aneh ikut bercampur jadi satu.

Alice hanya bisa sesak napas dipenuhi rasa bingung.

"Tamu malam terakhir kita adalah Gadis Baik dan Gadis Egois. Mereka berdua telah berjuang sangat keras untuk hidup sampai hari ini, mari beri sambutan meriah!"

Perlahan Alice mulai bisa rasakan cahaya terang dari lampu setelah ikat hitam yang menutupi pandangan sirna, betapa terkejutnya. Dia lihat ada begitu banyak penonton duduk di hadapan mereka sambil membawa boneka porselin di pangkuan masing-masing.

Bertepuk tangan seolah dapat menyaksikan panggung dengan jelas walau memakai topeng.

Semua orang berpakaian serba hitam termasuk pemuda pirang di hadapannya. Tiada riasan aneh ataupun polesan warna seperti layaknya anggota sirkus, suara Theodore yang sering didengar oleh Alice selama berhari-hari melalui ponsel sekarang jauh lebih nyata.

Jas kekurangan bahan yang dia pakai terlihat sangat-sangat cocok dengan tubuh terlatihnya, dia bahkan tidak malu memamerkan otot perut penuh kebanggaan.

Alice tak bisa berkata-kata.

Tanpa sadar dia menoleh ke arah samping, ada Rachel di kursi seberang dengan kondisi sama-sama terikat tak berdaya. Alice menelan ludah, dia menunduk ke lantai bermotif lingkaran dan ukiran aneh berwarna merah padam.

"Nama saya Theodore Benjamin Hunter, tahun ini saya terpilih menjadi Pemuda Altar yang akan merayakan hari terakhir sebagai tuan rumah."

"Omong kosong macam apa ini?!" jerit Rachel keras-keras sampai khalayak ramai yang sedang bertepuk tangan mendadak berhenti.

Theo menoleh sejenak ke samping kanan, tersenyum lebar seakan penuh tanya. Padahal di sini dia tengah menyambut para penonton, berani sekali Rachel menyela sorakan keras tadi.

"Ke mana badut rambut biru! Aku sudah buat perjanjian dengannya, dia berkata kalau aku bisa pulang setelah Gio tiada, kenapa kalian justru ikut membawaku ke sini bersama dia, aku harusnya pulang!"

Ternyata benar, Rachel sudah buat perjanjian dengan salah satu anggota sirkus sehingga dia harus kuatkan diri dan berbuat tega terhadap Giofani, meninggalkannya seorang diri setelah percaya bahwa Alice dibalik semua ini.

(TELAH TERBIT) Mother Goose's Circus [TXT - Taehyun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang