"Saga"
Pria yang merasa terpanggil langsung menoleh, menatap seseorang yang sedang berdiri diambang pintu kamar dengan kuas di genggamannya.
"Ini, kemarin kamu minta belikan kuas kan"
"Iya, makasih pah"
"Ayo cepat ke meja makan, kuasnya simpan dulu, makanan sudah matang" pinta pria tersebut tak luput dari senyumannya yang masih indah.
"Iya paa"
Saga berjalan menuju meja makan, menarik kursi dan duduk di samping sang Papa.
"Pah, maaf tadi Saga lancang masuk kamar Papa"
"Memang kenapa? Nggak masalah toh" jawab pria yang disebut Papa tersebut dengan seulas senyuman.
"Tadi Saga nemu buku catatan harian, terus Saga baca, itu bukan punya papa deh kayaknya soalnya warnanya pink"
Saga mengambil lauk, karena piringnya sudah terisi nasi yang disiapkan beberapa waktu lalu.
"Masa muda papa seru banget ya, papa juga ternyata romantis waktu nembak pacar papa, nembaknya di rooftop lagi, dibawah sinar bulan" lanjut Saga terkekeh.
Sang Papah tersenyum tipis, walaupun ia tak semuda dulu tapi ingatannya tentang momen itu tak pernah sempat ia lupakan.
"Tapi pah, Saga cari di buku itu nggak ada nama cewek yang mungkin aja pemilik buku itu"
"Buku itu punya siapa ya pah? Punya mama bukan?"
Saga mengerutkan keningnya.
"Eh, masa punya mama sih?" gumam Saga, pasalnya isi buku harian itu belum pernah Saga dengar ceritanya dari sang Mama.
Biasanya Mama menceritakan masa mudanya pada Saga.
Pria itu hanya menatap putranya sambil tersenyum, lalu melanjutkan makannya.
"Punya mantan pacar papa ya? Papa belum move on dari mantan pacar papa?"
"Ih kamu masih kecil udah tau mantan segala. Move on juga, tau dari mana si?"
"Dari temenku pa, dia mantannya lima!"
"Buset"
Renja menatap putranya sambil tersenyum tipis, tak menghiraukan pertanyaan yang putranya lontarkan.
Sedangkan Saga hanya menghembuskan nafas ringan lalu melanjutkan makannya.
"Mama ke mana si Pah? belum pulang dari rumah oma? Tumben lama banget"
"Iya, makanya kali ini papa yang masak, soalnya tadi mama nelfon bakal lama sampe rumah takutnya kamu telat sekolah kalau nunggu mama pulang, belum lagi lama nunggu masaknya" jelas sang Papa
Saga yang sudah selesai dengan persiapan berangkat sekolah nya pun berlari kecil menuju pintu depan.
Namun baru saja ia membuka pintu, sang Mama menyambutnya dari luar dengan dua kresek berisi sarapan.
"Anak ganteng mama udah sarapan?"
"Udah mah, tadi papa masak nasi goreng. Saga pamit ke sekolah mah"
Sang Mama mengangguk, lalu masuk ke dalam rumah menuju dapur.
"Aku berangkat anter Saga dulu, nanti pulangnya kita hang out"
"Iya, hati-hati"
"Papa! Saga udah mau telat nih!"
Sang Papa tertawa, putranya itu memang sangat bersemangat untuk berangkat ke sekolah, ini hari pertama dia menduduki bangku SMP.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Countdown | Moonmeng
Teen Fiction"Gue hitung mundur, kalo lo nggak pergi, gue anggap lo terima dan nggak ada kesempatan untuk lo kabur" [END] start : 22/7/22 finished : 4/9/22
