Jreng...
Hening menatap Renja heran, padahal tadi ia sudah mengirim pesan kalau ia tak bisa keluar karena ada kerja kelompok dengan teman sekelas mereka, Liam. Tapi Renja tetap pergi ke rumah Hening. Entah hal apa yang membuat nya kesini, ia sendiri merasa bodoh.
"Lo belum baca chat gue, Ren?"
"Hm" Renja mengangguk, untung saja ia mematikan fitur pesan sudah terbaca atau belum.
"Sekarang udah baca?"
"Udah"
"Yaudah"
"Apa?"
"Balik sana"
Dasar mulut! Hening merutuki dirinya sendiri.
"Hah?"
"Ekhm, maksud gue.. kan kita nggak ada urusan gitu.. jadi lo kalo mau pulang ya, silahkan" jelas Hening hati-hati.
"Nggak mau"
Hening terkejut, begitu pula Liam yang dari tadi fokus menulis kini ikut menatap Renja penuh selidik. Disisi lain Hening merasa senang, ralat, sangat senang. Apakah benar ini salah satu tanda jika Renja juga menyukainya? Ah Hening sangat bahagia kalau itu benar.
"Dia saudara lo?" Tanya Liam penasaran.
"Bukan"
"Iya, saudara jauh"
Liam mengangguk lalu kembali fokus pada tugasnya. Tanpa sadar Hening mengerucutkan bibirnya, ada rasa kesal setelah mendengar jawaban Renja.
"Pantes kalian kalau di sekolah deket banget, gue kira kalian cuma temen. Untung lah" celetuk Liam di sela-sela aktivitas menulisnya.
Renja dan Hening sama-sama mengerutkan alis, saling memandang, lalu kembali menatap Liam.
"Untung kenapa?" Tanya Hening.
"Ya untung lah, soalnya yang namanya temen antara cowok sama cewek itu biasanya salah satu dari mereka ada rasa"
Lagi-lagi kalimat itu, Hening jadi terpikir bagaimana kalau dirinya yang menjadi pihak memiliki rasa lebih? sedangkan Renja benar-benar menganggap nya sebagai teman, bahkan saudara.
"Sebenernya kita bukan saudara kok, biasa si Renja suka ngibul" ucap Hening tak ingin ada kesalahpahaman lebih lanjut.
Liam melirik Renja, karena pria itu yang bilang kalau ia dan gadis didepannya bersaudara.
"Tapi rasa saudara, saking deketnya. Iya kan, Ren?"
"Wah iya, bener banget" jawab Renja lalu menegak air mineral yang Hening sediakan dengan cepat.
Ada rasa kecewa saat Hening mendapat jawaban Renja, tapi bagaimanapun juga ia harus menutupi perasaannya karena Hening rasa Renja tidak menganggap nya lebih dari sekadar teman.
"Tugas kalian masih lama?"
"Bentar lagi selesai kok, kenapa?"
Renja menggelengkan kepala.
"Gue ke atas" Ucap Renja lalu menaiki tangga.
Hening tahu, pasti Renja akan ke kamarnya seperti biasa untuk tidur sejenak.
"Dia sering main ke rumah lo?" Tanya Liam.
"Iya"
"Ngapain sih dia ke atas?"
"Um.. ke balkon sih biasanya"
"Balkon kamar-"
"Balkon kamar tamu" Hening memotong ucapan Liam, sebelum pria itu kembali bertanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Love Countdown | Moonmeng
Novela Juvenil"Gue hitung mundur, kalo lo nggak pergi, gue anggap lo terima dan nggak ada kesempatan untuk lo kabur" [END] start : 22/7/22 finished : 4/9/22
