Tukang bangunan

909 7 0
                                        

Lina baru saja menyelesaikan kuliahnya dan dua bulan lalu sudah mendapatkan izajah sarjana nya. Dia hanya tinggal sendirian di kawasan perumahan yang cukup mewah orang tuanya membeli rumah ini ketika ia pertama kali datang untuk menempu pendidikan sekolah menegah.

Berjarak sekitar tiga rumah dari rumahnya. Ada rumah yang sedang di renofasi total dan ia mengenal salah satu dari pekerja yang bekerja disana.  Mereka berkenalan saat pria itu membantu Lina menyeret motornya ke bengkel terdekat dan kebetulan pria itu lewat dan membantu dan mereka berkenalan singkat dan saling menyapa ketika bertemu.

Karena belum ada niatan untuk melnajutkan untuk bekerja Lina hanya berdiam diri di rumah dan sesekali keluar dengan temannya. Di rumah Lina hanya menggunakan G strin dan bra yang sexy ia banyak mengoleksi lingerin untuk di pakai di rumah.

Sekarang ia sedang membuka vidio porno dari komputer di kamarnya dan tangannya sibuk memompa dildo keluar masuk dari miliknya. Desahan dari Lina dan orang dalam vidio saling bersahutan hingga beberapa kali organisme ia hampir lemas.

Selesai dengan kegiatan rutinnya ia merasa kemarnya sangat panas dan memencet beberapa kali remot ac namun tidak menyala. Melihat waktu ini sudah hampir jam lima dan layanan perbaikan ac di sekitaran tidak bisa di hubungi.

Kebetulan Dandi tukang bangunan yang membantunya lewat dan awalnya hanya saling menyapa dan Lina menanyakan nomor tukang perbaikan Ac namun Dandi menawarkan diri memperbaikinya.

Lina menyuruh Dandi masuk kerumahnya dan membawanya masuk kedalam kamar. Ketika Dandi masuk kamar masih dalam keadan sebelumnya komputer masih menyala dengan gambar wanita yang menunggangi penis besar pria di bawahnya dildo di atas meja dan lingerin yang baru ia gunakan di atas ranjang.

Dandi berusaha tidak menghiraukannya dan meminta izin menggunakan kursi untuk memeriksa Ac. Lina tidak menghiraukan saat Dandi melihat semua kekacauan di kamarnya yang tidak senonoh.

"Mbak sepertinya kabelnya putus"
Dandi memberi tahukan keadaan kepada Lina

Mematikan pusat listrik rumah menjadi gelap. Lina membantu Dandi memegang senter saat Dandi menyambung kabel.

Tanpa mereka sadari di luar hujan deras di sertai angin kencang. Akhir-akhir ini cuaca tidak menentu.

Ac sudah di perbaiki dan lampu sudah kembali di nyalakan. Dandi tidak bisa kembali dan Lina menawarkanya untuk makan.

"Terimakasih yah dandi sudah membantu"
Lina menyajikan makan di atas meja

"Sama-sama mbak Lina"
Dandi hanya menunduk melihat makannan di depannya

"Kalo nda ada Dandi sampe lusa harus tidur panas-panasan"
Lina duduk di dekat Dandi dan hanya tersenyum melihat pria yang pemalu di sampingnya

"Di makan makanannya jangan di lihatin aja"
Lina memengang punggung Dandi

"Iya mbak Lina"

Dan keduanya makan dan sesekali lina melemparkan pertanyaan dan di jawab oleh Dandi. Di luar masih hujan dan tidak tau kapan nakan reda.

Lina menyalakan Tv dan duduk dengan Dandi menonton film di salah satu layanan prabayar.

"Jadi sekarang Dandi udah nda sekolah?"
Lina duduk menyilangkan kakinya dan celana pendeknya terlihat seperti celana dalam

"Iya mbak Lina, Uang sekolah mahal kakek saya nda sanggup kalo saya lanjuti sekolah"
Dandi terlihat fokus dengan Tv dan sesekali melirik Lina

"Gaji kerja tukang bangunan berapa sebulan?"
Lina bertanya sambil memperhatikan Dandi

"Gak tentu mabak sehari di gaji 100 rb"
Dandi tersenyum canggung

"Besok Dandi kerja nda?"
Lina mulai menekati Dandi

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jan 30 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

XXXXTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang