Back

180 31 6
                                        


Happy reading💙
.
.
.
.
.
.
.
.
.

Daffin masih betah dikasur kesayangannya yang telah lama ia tinggalkan. Begitu tidak bisa tidurnya Daffin tadi malam karena banyaknya kegiatan yang ia lakukan dikamar yang telah lama tidak ia tempati.

Daffin terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk bernostalgia Bersama barang barangnya yang masih tertata rapih dikamarnya, sampai ia tak sadar bahwa waktu telah menunjukan pukul 2 pagi dan telah berganti hari. 

Cahaya matahari sedikit malu malu menembus kamar Daffin yang dihalangi oleh tirai biru yang bertengger rapih dijendela kamarnya. Seperti biasa, sinar matahari yang sedikit mengintip dari celah tirai kamarnya tidak pernah berhasil membuat pemuda manis itu membuka Netra indahnya.

"Wooi kebo! Bangunn! Mau sampe kapan tidur teruss!?" Teriakan yang cukup keras itu berasal dari depan pintu kamar Daffin, rupanya ada yang berusaha membangunkan Daffin dan sedikit mengesampingkan fakta bahwa anak bungsu Mahendra ini terkenal sangat sulit sekali dibangunkan.

TOK TOK TOK TOK Suara ketukan pintu kamar Daffin terus berbunyi, namun sang pemilik kamar belum juga kunjung bangun dari tidurnya.

"Kalau sampe belum bangun juga gue dobrak ya pintunya! Gue ga main main lo ni Daffin!" Teriak orang itu lagi.

"Januu Daffinnya udah bangun belum? Kalau udah suruh turun cepetan!" Bunda yang sedang sibuk didapur berteriak demi memastikan apakah anak keduanya itu berhasil membangunkan Daffin yang tukang molor atau tidak.

Janu yang telah berdiri selama 10 menit di depan pintu kamar Daffin hanya menghela nafas pelan, cukup Lelah ternyata membangunkan adik kecilnya itu.

"Belum bundaaa sebentarr! Kalau belum bangun mau Janu siram aja." Jawab Janu pada bundanya.

Entah alarm peringatan dari mana, sepertinya telinga Daffin sangat sensitive terhadap beberapa kata berbahaya. Saat mendengar kata 'siram' Daffin reflek membuka matanya dan segera bangkit dari kasurnya yang posesif.

Daffin segera bergegas berlari dan membuka pintu kamarnya. Janu yang berada tepat didepan pintu cukup kaget dengan pintu yang tiba tiba terbuka dan menampakkan tampilan lusuh bangun tidur Daffin yang sangat berantakan.

"Daffin udah bangun kok bundaa!" Teriak Daffin.

Janu sedikit memundurkan badannya, ia menaikkan satu alisnya dan menatap heran kearah adiknya. "Waras lo?" Tanya janu.

"Mandi sana, baru turun. Iler dimana mana gitu ewh, bauu." Ucap Janu melanjutkan kalimatnya.

"Iyaa." Jawab Daffin malas.

Setelah Daffin bangun, Janu merasa kewajibannya disini telah selesai, jadi ia memutuskan untuk turun dan menemani bundanya didapur. Saat melewati pintu kamar kembarannya, Jarvis, Janu menghentikan langkahnya sejenak, ia sedikit mendekat dan mengetuk pelan pintu kamar Jarvis.

"Viss! Jangan lupa sarapann woyy." Janu tidak tau kembarannya itu akan mendengar atau tidak, namun setidaknya dia sedikit berusaha agar pagi ini adiknya dapat tersenyum karena kakak dinginnya sarapan Bersama di meja yang sama.

"Udah selesai bun? Apa lagi?" Janu menghampiri bundanya yang terlihat masih sibuk didapur.

Bunda Jia yang melihat Janu mendekat hanya tersenyum. "Engga ada kok, udah semua. Daffin udah bangun kan?" Tanya bunda memastiikan.

"Udah kok bun, aman itumah." Jawab Janu seraya mengacungkan jempolnya.

Bunda Jia mengangguk sebagai jawaban. Ia lalu melepaskan celemeknya yang masih bertengger dibadannya dan berencana untuk mencuci peralatan masak yang masih menumpuk kotor ditempat cuci piring.

The Past Wound || Jeongbby HwanbbyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang