Act 0. Rodenius - Chapter 4

76 14 1
                                    

Indonesia. Aku tidak tahu negeri semacam apa itu, namun saru hal yang pasti. Mereka pasti sangat luar biasa.

Unit terbang yang sempat melintasi langit Qua Toyne sama sekali tidak bisa kami dihentikan. Lalu sekarang kami sedang menuju ke negara mereka menggunakan kapal yang jauh lebih besar dari apa yang pernah dilaporkan angkatan laut. Saat pertama kali melihatnya, aku sampai tidaj bisa bergerak sedikitpun, mematung memandangi sesuatu yang sungguh luar biasa. Di tambah kapal ini tidaklah bergerak dengan sebuah layar ataupun dayung, tetapi dengan apa yang mereka sebut "Mesin diesel". Sungguh, itu mesin yang sangat besar saat kami melihatnya.

Aku sangat tidak sabar lagi untuk melihat seperti apa wajah negara mereka.

Yagou berada dalam kabinnya, mencatat dengan detail apa yang sudah dia rasakan selama ini.

Tentu bagi seseorang yang pertama kali melihat barang-barang modern, dia akan sangat terpukau. Terutama ketika perbedaannya sangat amat jauh dari apa yang ada dalam akal sehatnya.

•-•

Perjalanan sudah berlangsung selama 2 hari penuh, dan saat ini kapal yang membawa rombongan Qua Toyne segera bertambat di pelabuhan milik ASDP Merak.

Merak adalah pelabuhan kapal Ferry, oleh karena itu menambatkan kapal pesiar yang ukurannya melebihi 200 meter sangat memakan ruang parkir dermaga. Bukan hanya itu, menempatkannya pun  harus ekstra hati-hati. Merak dipilih karena pelabuhan di jakarta, terutama tanjung priok sangat penuh, banyak kapal yang tidak bisa berlayar akibat banyaknya perusahaan asing pemilik kapal tersebut menghilang. Tentu mereka menghilang karena tragedi bintang yang terjadi belakangan ini.

"Tuan-tuan, di sini adalah pelabuhan merak, yang berada di kota Cilegon, provinsi Banten. Dan juga saya ucapkan, Selamat datang di Indonesia" ujar Iskandar yang akan memandu para diplomat Qua Toyne Selama di Indonesia.  "Setelah ini, kita akan pergi menuju Ibukota Jakarta. Jadi mohon untuk sedikit bersabar."

Di dermaga sudah menunggu jemputan para tamu, empat mobil hitam yang di kawal dengan satu mobil polisi dan empat motor besar. Para tamu dari Qua Toyne langsung di persilahkan untuk menaiki mobil itu, agar segera di antar menuju jakarta.

"Aku kita tidak akan terkejut lagi, namun sekarang aku terus saja di kejutkan. Lihat saja ini, aku tidak mengira ada sebuah kendaraan yang akan berjalan mulus di atas tanah. Dan disini sangat nyaman,"

"Anda benar tuan Rinsui, lihat saja jalanan ini. Jalanan nya sangat mulus, dan banyak kendaraan semacam ini yang berlalu-lalang di atasnya. Dan perkotaan ini terlihat sangat besar, aku tidak sabar melihat bagaimana ibukota mereka. Seharusnya itu jauh lebih baik dari ini bukan?"

Para rombongan Qua Toyne terus mengobrol sepanjang perjalanan menuju Jakarta, namun isi dari obrolan mereka bukanlah membahas apa yang akan mereka bicarakan saat konferensi, tapi itu hanyalah obrolan biasa yang kebanyakan adalah bentuk keterkejutan dengan negara yang sedang mereka kunjungi.

Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya rombongan Qua Toyne sampai di salah satu hotel bintang 5 di Jakarta.

"Tuan-tuan, kita akan Check-inn terlebih dahulu."

Sementara Iskandar melakukan check-inn di resepsionis, robongan Qua Toyne duduk disebuah sofa yang berada di lobby hotel. Terlihat Rinsui sangat menikmati tempat duduknya

"Aaaghh... Sofa ini sangat nyaman untuk di duduki. Aku ingin cepat beristirahat, tooh.. Itulah yang aku pikirkan sedari tadi. Namun semakin aku memperhatikan Lingkungan ini, semakin penasaran di buatnya. Bagaimana negara sehebat ini tidak pernah aku dengar? .. Apakah mereka benar-benar berasal dari dunia lain.."

When Indonesia at an Another WorldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang