Astrophile 13: Jangan Berubah, Ya
Aku telah berhasil mengungkapkan perasaanku padamu. Telah berhasil juga aku mendobrak rasa ragu yang semulanya terus bersemayam di hatiku. Setelah ini, akan banyak kejutan yang terjadi, bukan? Entah, beberapa kemungkinan bisa saja terjadi. Kamu yang nantinya menjaga jarak dariku, kamu yang lebih dekat denganku, atau aku sendiri yang akan melakukan itu.
Jujur, yang aku takutkan setelah ini adalah perubahan. Perubahan yang membawa kita pada jarak jauh, hingga langkahmu yang biasanya beriringan di sampingku, kini tiada lagi. Jika boleh egois untuk kesekian kalinya lagi, bisakah aku memintamu untuk tetap di sampingku?
****
Silla tengah sibuk memakan rotinya dengan lahap. Roti yang dia beli di warung sebelum tiba di sekolah. Biasanya saat pagi hari, Silla tidak terbiasa memberi perutnya asupan makan, tapi untuk kali ini kebiasaannya tidak berlaku. Energinya sudah habis terkuras tadi malam, dan ditambah dia juga tidak memberi asupan makan perutnya. Mungkin karena hal itulah pagi ini lambungnya itu terasa begitu perih.
Suasana kelas masih sepi, hanya ada ketua kelas, dua lelaki yang sibuk bermain game di belakang, dan terakhir adalah Silla. Bahkan Athala saja belum tiba di sana. Hari ini memang Silla tidak berangkat bersama dengan Athala. Setelah semalam berbagi cerita padanya, Athala memutuskan untuk pulang tak lama setelah itu. Di pagi harinya juga lelaki itu tidak menyuruh Silla untuk menunggu agar berangkat bersama. Jadi, Silla putuskan untuk berangkat ke sekolah sendirian. Lagian, tanpa Athala, Silla juga berani sendirian. Seperti apa kata Chandra, dia harus berani.
Kedua pipi Silla menggembung dengan sempurna, dipenuhi roti isi yang dia masukan ke mulutnya semua. Bahkan dirinya saja kewalahan untuk mengunyahnya.
Karena sibuk memikirkan bagaimana cara mencerna makanan penuh yang ada di mulutnya, dia tak sadar jika Chandra dengan langkah yang mengendap-endap tengah mendakat ke arahnya. Mengambil ancang-ancang untuk mengagetkan perempuan itu.
"Satu, dua, tiga ... DOR!!" pekik Chandra dengan lantang seraya tangannya yang dia arahkan kepada Silla. Lelaki itu terlihat puas sekali akan tingkahnya.
"Uhuk-uhuk!" Karena rasa terkejutnya itu, Silla tersedak oleh roti yang sedang coba dia telan. Tangannya menepuk-nepuk dadanya sendiri untuk meredakan batuknya. Sial, seolah tenggorokannya saat ini dipenuhi potongan-potongan roti yang belum siap dicerna. Sulit bernapas dan juga dahaga yang melanda membuat Silla kesetanan sendiri.
Chandra panik. Dia melihat Silla kelabakan sendiri oleh tingkahnya. Ditambah wajahnya yang memerah dengan tangan yang menepuk dada seraya mulutnya yang sedikit terbuka, membuat kadar kepanikan Chandra bertambah. Dia segera menyerahkan botol minum yang ada di depannya kepada Silla. Tanpa basa-basi juga, perempuan itu langsung menerimanya. Membuka tutupnya dengan paksa, kemudian langsung menenggaknya.
Roti yang belum selesai dicerna di mulutnya itu, harus terpaksa dia larutkan ke lambung dengan air putih yang dia minum. Rasa sakit saat menelannya pun menjalar di area tenggorokannya. Dia langsung menatap Chandra dengan tajam, tatapan yang seolah ingin menerkamnya. "Anjir ya emang lo! Gua hampir mati geblek!"
"Maaf, La, gak sengaja sumpah. Niatnya kan cuma ngagetin aja, gak ada niatan bikin lo keselek," lontar Chandra meringis pelan. Dia menggaruk pipinya yang tak gatal. Wajahnya tak enak hati menatap Silla.
"Lagi anjir dateng tiba-tiba. Sumpah anjir, Chan untung gua masih bisa nelen tuh makanan. Jail banget sih," ketus Silla sembari mengelus dadanya sendiri yang terasa sakit. Tangannya kembali menutup botol yang isinya tinggal setengah lagi. Menaruhnya di meja seperti semula.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ephemeral 293 [Sudah Terbit√]
Romance{Sad Romance-Based on True Story} ||>Diterbitkan oleh Cakra Media PublisherSebagai pemenang juara umum dalam event writing marathon batch 05 =>Sebagai pemenang kategori best of massage 1 => Sebagai pemenang kategori Penulis Terbaik Sejak aku menyad...
![Ephemeral 293 [Sudah Terbit√]](https://img.wattpad.com/cover/344789196-64-k415417.jpg)