22

157 19 0
                                    


Beberapa hari berlalu.

"Ada apa?" Tanya Vino karena Aksa menemuinya.

"Tolong jangan marah pada El, Vin. Pernikahan kami tidak seperti yang kamu pikirkan" ucap Aksa membuat Vino reflek tertawa.

"Memangnya Apa yang Aku pikirkan?" Tanya Vino.

"Kami hanya terjalin sumpah pernikahan, Aku dan El bahkan tidak satu kamar"

Vino mendengar itu pun mengerutkan dahinya.

"Aku tidak memiliki perasaan lebih pada El, Vin. Kami-"

"Apa maksudmu tidak memiliki perasaan lebih? Tetap saja kalian sudah menikah!" Entah mengapa Vino merasa marah dengan apa yang di ucapkan oleh Aksa.

"Key, Aku hanya ingin menikah dengan Key"

Entah mengapa lidah Vino rasanya kelu saat ingin mengucapkan soal kehamilan El pada Aksa. Mengapa Aksa bisa berbicara seperti itu setelah El hamil.

"Tolong berbicaralah dengan El. El terus murung beberapa hari ini Vin"







"Hasil check up mu" ucap Vino memberikan beberapa lembar kertas pada El.

"Vino" El.

"Pihak rumah sakit menghubungiku untuk mengambilnya, karena saat itu Aku menulis nomer telepon ku saat mendaftarkan mu" ucap Vino.

Pihak rumah sakit menghubungi Vino soal hasil check up milik El yang sudah bisa di ambil.

"Jika ada yang ingin kamu jelaskan, cepetlah" ucap Vino terkesan dingin.

"Aku terpaksa menggantikan Key, keluargaku dan keluarga Kak Aksa maksa karena mereka tidak bisa membatalkan pernikahan itu"

"Kak Aksa bahkan tidak tau kalau Key yang mengalami kecelakaan dan Koma. Kak Aksa taunya itu Aku. Dia tau setelah acara pernikahan selesai"

Vino mengepalkan tangannya, tandanya El bisa saja menghentikan pernikahan itu.

"Aku tau itu salah ku, harusnya Aku saja yang terbaring menggantikan Key. Kenapa harus Key yang mengalami kecelakaan dan koma"

"Aku juga tidak mau semua ini terjadi,  Aku ingin Key dan kak Aksa menikah. Aku juga ingin hubungan kita baik-baik saja"

"Lalu bagaimana bisa kamu hamil?" Vino.

"Kak Aksa marah saat tau jika yang menikah dengannya itu Aku dan Key terbaring koma di rumah sakit. Kak Aksa mabuk berat dan semuanya terjadi begitu saja"

"Kak Aksa juga pasti masih mencintai key. Aku juga tidak tau harus bagaimana dengan kehamilan ku" ucap El.

Entah mengapa Vino menjadi iba, kenapa Ia tidak tega pada El padahal El menghianati nya. Kenapa Ia malah kasian pada El. Apa sebesar itu rasa sayang Vino pada El.

Vino menghampiri El dan memeluknya, El langsung menangis. Bagaimana bisa Vino masih bisa memeluknya setelah apa yang El lakukan pada Vino.

Vino melepas pelukannya, mengahapus airmata di pipi El.

"Berhentilah, kamu akan sesak nafas jika menangis seperti itu" ucap Vino dengan nada dingin hanya saja terkesan hangat untuk El.

"Dokter bilang kandunganu sangat lemah, di usia yang masih muda" ucap Vino menghela nafas. Harusnya Ia berbicara seperti ini pada El saat El mengandung anaknya bukan anak orang lain.

"Kamu harus menjaga pola makan mu dan mengurangi aktivitas berat, secara fokus ataupun mental. Jangan terlalu setres"

Namun setelah mendengar yang El ucapkan Vino yakin El terlalu banyak fikirkan sampai kandungannya lemah seperti ini.

"Minum vitamin-"

"Vino" panggil El membuat Vino menghentikan ucapannya.

"Aku bisa melakukannya sendiri" ucap El membuat Vino paham. Karena ini memang bukan urusannya.

.


.


"Kenapa Lagi?" Tanya Theo.

"Gua bener-bener kehilangan El" ucap Vino.

Theo hanya bisa menghela nafas. Bagaimanapun Ia tau bagaimana sayangnya Vino pada El makannya Theo sangat marah dengan apa yang El lakukan.

"Mulai move on deh, kecuali El sama Aksa cerai saat Key bangun" Theo.

"Itu kalau Lo mau nunggu El dan balik lagi sama Dia" Theo.

"Sulit" Vino.

Kehamilan El hanya El dan Vino yang tau.

"Udah lah, gak perlu galau-galau terus. Yang Lo galauin udah jadi istri orang" Theo.

Aksa menyodorkan rokok miliknya lalu Vino mengambil satu rokok milik Theo dan menyalakannya. Ia ingin menenangkan pikirannya sejenak.

.

.


"Lo ngomong gitu ke Vino?" Kean.

"Kalau Vino nunggu Lo sama El pisah gimana? Lo sama aja ngasi harapan ke Vino" Kean.

"Gua gak tau, Gua mulai bingung lagi sama perasaan Gua ke El" Aksa.

Kean jadi ikut pusing.

"Lo harus mulai mikirin ini, mau tetep nunggu Key atau merjuangin El sebelum Vino ngambil El lagi dari Lo. Kita gak tau perasaan El gimana"

"El kemungkinan masih mencintai Vino. Ia terus murung beberapa hari ini setelah berbicara dengan Vino" Aksa.

"Yang penting itu Elo, Aksa. Perasaan Lo mau kemana? El tetep istri Lo Dia gak bisa main-main selama kalian masih sah jadi suami istri dan harusnya Lo gak bisa ngasi harapan Ke Vino kaya gitu. Kita gak ada yang tau masa depan. Gua berharap key bangun itu pasti tapi gak ngorbanin lagi semua yang udah terjadi selama Dia koma" Kean.




Regret In Mistakes Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang