Seandainya perasaan bisa kuatur dengan mudah, maka kupastikan tidak akan pernah menjadikanmu sebagai pilihan.
***
Deru angin begitu kuat menerpa wajah sepasang manusia yang sedang duduk di tepi pantai. Mata salah satu diantaranya terlihat nanar menatap debur ombak, terkadang dia menyibakkan rambutnya yang terurai menutupi wajah sambil sesekali mengusap lembut lengannya yang terasa dingin.
"Kalau aku suruh kamu memilih antara langit dan laut, kamu pilih yang mana?" tanya Aksa membuka pembicaraan, sembari menatap lurus laut biru yang tenang.
Nara memiringkan kepala sembari mendelikkan bahu tanda tak tahu, "Entahlah, aku suka keduanya"
"Meski keduanya berbeda?" Tanya laki-laki itu lagi sembari memicingkan mata.
"Hmm" Nara mengangguk sebagai jawaban.
"Indahnya cara lautan menolak untuk berhenti menyapa tepi pantai, membuat aku yakin bahwa masih ada orang di dunia ini yang tidak akan berhenti untuk mencintaiku, sedangkan langit keindahannya mengartikan makna sekejap lekas berlalu. Matahari yang tenggelam lalu berganti bintang menyiratkan makna tentang seindah apapun yang ada digenggaman, pada akhirnya akan meninggalkan juga. namun hal itu akan berganti dengan sesuatu yang lebih baik." Gadis itu beralih menatap laki-laki yang ada di sampingnya.
"Karena itu aku nggak bisa memilih diantara keduanya" Gadis itu terdiam sejenak sebelum akhirnya bertanya dengan ragu.
"Kalau kak Aksa lebih suka langit atau laut?"
"Kalau ditanya suka, aku juga suka keduanya" Aksa memiringkan kepala untuk menatap mata gadis yang ada di sampingnya.
"Tapi karena perempuan yang aku suka seindah lautan, jadi aku akan lebih memilih laut" laki-laki itu tersenyum samar.
"Laut?" Tanya Nara penasaran.
"Dia kadang membuat isi kepalaku berisik seperti ombak, bahkan suaranya mampu membuatku membisu seperti karang" lanjut Aksa.
"Kak Rony lagi suka sama seseorang?" tanya Nara memastikan.
Laki-laki itu menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Tapi dia nggak tahu, dan mungkin nggak akan pernah tahu". ucap Aksa sambil mengedikkan bahunya.
"Gimana dia mau tahu kalau kak Aksa nggak pernah kasih tahu?". Nara tersenyum samar.
"Nanti, kalau dia sudah sembuh dari masa lalunya, aku akan bilang ke Dia". Aksa menatap dalam mata Gadis yang ada di sampingnya.
Entahlah, sejak kejadian beberapa hari yang lalu di rumahnya, Aksa merasa kalau kedekatannya dengan Nara satu langkah lebih maju, percakapan mereka melalui whatsApp pun kini jauh lebih intens dari sebelumnya, laki-laki itu merasa bahwa Nara sedikit demi sedikit lebih terbuka untuk mengobrol atau bepergian dengannya.
***
Nara berjalan pelan saat hendak masuk ke dalam rumah, namun langkahnya terhenti ketika mendengar suara bariton laki-laki dari ruang tengah yang meneriakkan namanya, jantungnya berdegup kencang, antara takut dan rindu dengan sosok yang baru saja memanggilnya.
"Dari mana saja kamu?" tanya laki-laki paruh baya itu dengan ekspresi wajah yang kurang menyenangkan.
"Bukan urusan Ayah" balas Nara.
"Jelas ini urusan Ayah, aku ini orang tua kamu". ucap laki-laki itu menghampiri anaknya yang terlihat sedang melepas sepatu.
"Yah aku capek, mau istirahat" Nara melenggang pergi, namun saat Gadis itu baru menaiki beberapa anak tangga Ayahnya kembali berucap.
KAMU SEDANG MEMBACA
HE? MINE
Teen FictionKalimat apa yang bisa memulai ceritaku tentang dia? Bahagiakah atau sebaliknya? Dia adalah sosok yang susah sekali ditebak, jadi sulit bagiku mendefinisikannya dengan sebuah kata. Tapi, menurut hatiku. Dia adalah laki-laki yang baik, tawanya juga ca...
