Tidak pernah kurasakan waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin aku memulai libur panjang, sekarang aku harus menginjakkan kaki kembali ke kampus. Pagi untuk hari pertama ke kampus tidak ada drama apa pun. Aku bangun tepat waktu, sampai di kelas, dan mengikuti kuliah dengan rasa malas. Hanya saja aku lupa untuk me-restock cadangan susu, sehingga sekarang ini aku harus melangkahkan kaki menuju FT Mart. Nada telah lebih dulu ke kantin.
Saat membuka pintu, aku dihadang oleh seseorang yang mengenakan kemeja flanel biru—menutupi sebagian kaos hitamnya—dengan tas yang disampirkan di bahu. Aku sedikit mendongak, hingga akhirnya menemukan wajah Aksa. Sejenak seluruh otot di tubuhku menegang.
"E...Sa," sapaku sambil mengulaskan senyum yang semoga saja tidak terlihat canggung.
"Hai, Re." Aksa memberikan senyuman yang tidak terlihat dipaksakan. Ia lalu bergeser, memberikanku ruang untuk masuk, dan mulai mengambil langkah menjauh sampai aku secara tidak sadar menghentikannya.
"Sa!" Aku membalikkan badan.
Aksa menarik ujung bibirnya dan menaikkan kedua alis.
"Congrats..."
Keningnya mengerut sesaat.
"On your hackathon," lanjutku menjelaskan.
Aksa membuka mulutnya. "Kamu kan udah ngasih selamat, Re." Ia terkekeh pelan.
"Emangnya nggak boleh dua kali?" kilahku. "Lagian yang kemarin lewat chat doang."
Salah satu sudut bibirnya terangkat. "Thanks once again kalau gitu." Aksa mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas kepalaku. Ia mengacak pelan rambutku yang terurai. "Aku duluan, Re."
Tidak ada kata balasan yang mampu keluar dari mulutku. Aku masih mematung, mencerna peristiwa yang terjadi beberapa detik yang lalu. What was he doing? Why was he doing that? Namun, lebih mengejutkan lagi adalah respons yang keluar dari diriku.
Kenapa gesturnya mampu membuatku terpaku? Kenapa aku tidak bisa bersikap biasa saja? Kenapa?
Mengenai hackathon, aku mengetahuinya ketika libur ujian. Pada saat itu, aku melihat story Instagram Damar. Terpajang foto Aksa dan dua orang asing lain memegang sertifikat penghargaan. Aku mengingat kembali saat aku menemukan kontrakan Aksa dan Damar dalam kondisi berantakan—saat akan melakukan social project tempo hari. Aku sempat melupakan fakta itu ketika mengingat Aksa yang mampu membawa acara dies berjalan dengan lancar dan sukses.
Ia mendapatkan juara dua. Satu hal yang kurasakan ketika melihatnya adalah bagaimana leganya diriku. Lega? Mungkin wajar saja, karena akhirnya ia bisa mendapatkan apa yang ia inginkan. Setelah sebelumnya, secara langsung aku mengambil peran dalam gagalnya Aksa mengikuti hackathon yang ia inginkan. Mungkin rasa bersalah itulah yang membuatku sampai saat ini tidak mampu bersikap biasa saja jika itu menyangkut Aksa. Bukankah begitu?
Berjalan memasuki mart, aku memikirkan bagaimana jelasnya hubunganku dengan Aksa. Kami sudah putus, itu jelas. Aksa adalah mantan, begitu juga sebaliknya, itu adalah fakta. Kami memang tidak mempunyai hubungan permantanan paling akrab, tapi tidak juga secanggung ini. Dari mana asalnya? Setelah festival? Rasanya sebelum itu.
Ah, right. That night.
Apakah kali ini waktu yang tepat untuk bercerita?
Semuanya dimulai dari ajakan Mas Riandy untuk hangout setelah acara seminar selesai. Mengikuti formalitas, aku mengantarkan Mas Riandy ke hotelnya terlebih dahulu. Kembali ke venue untuk beres-beres sisa acara dan evaluasi, kami bersiap untuk pulang.
"Nanti aku jemput aja," celetuk Aksa yang berjalan menghampiriku dari belakang.
Aku menoleh ke arahnya. "Pake motor? Bertiga?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Mysteriously Matched [Completed]
RomanceRegen tidak suka sesuatu hal yang rumit. Akan tetapi, sekarang ini ia dihadapkan dengan persimpangan; masa lalu yang muncul kembali tanpa aba-aba, masa depan yang terlalu menggoda untuk dilewatkan, dan seorang anonim yang mampu mengalihkan perhatian...
![Mysteriously Matched [Completed]](https://img.wattpad.com/cover/350610039-64-k770381.jpg)