Chapter 3

1.2K 137 35
                                        

AUTHOR POV














"I'm sitting eyes wide open and I got one thing stuck in my mind, wondering if I dodged a bullet or just lost the love of my life?"

Seulgi memejamkan matanya, tidak peduli anak-anak kelas berbondong-bondong keluar dari kelas karena bel istirahat pertama sudah berbunyi. Ia membenamkan kepalanya dalam kedua tangan yang ia sedekapkan di atas meja, membiarkan poni tipis nya menutupi mata.

'Pina colada. Dia membuatku penasaran. Apa tujuan nya?'


Akhir-akhir ini, Seulgi tidak bisa konsentrasi. Dia tidak mampu melanjutkan karya imajinasi fantasi liar nya tentang Joohyun, pembaca dengan akun bernama Pina Colada sedikit membuat dia was-was.

Sempat terlintas di pikiran nya kalau si pengirim surat kaleng misterius alias Pina Colada mungkin saja adalah orang terdekat nya. Tapi, siapa yang dekat dengan nya?

Satu sekolah sedang menjauhi dan mencurigai nya karena rumor buruk yang berhasil disebarkan oleh Jennie dan kawan-kawan.


Seungwan, yah dibilang dekat sih tidak juga. Dia mengenal Seungwan karena dia salah satu saingan untuk mendapat beasiswa, mereka sama-sama kandidat dari Ansan dan dibanding jadi teman dekat, Seulgi lebih menganggap Seungwan sebagai saingan.

"Yah, ireona shibal."


Plak


Jennie memukul kepala Seulgi dengan buku yang cukup tebal, sedikit membuat kepala Seulgi pusing tapi dia tak menunjukkan ekspresi sakit di depan Jennie. Dia hanya menatap Jennie dengan tatapan malas dan tak peduli.

"Ada urusan sama kamu?"

Jennie mendecih pelan, "Memuakkan sekali melihat wajah sombong mu itu, Kang. Apa yang kau sombongkan eo??"


"Kalau begitu tidak usah repot-repot dilihat."

"Neo jinjja-"

Jennie hampir menjambak rambut Seulgi sebelum sebuah tangan memegang nya. Jennie lantas terkejut dan menatap siapa yang berani-berani nya menghalangi dia.


"Seingatku, kelas mu bukan disini. Benar, kan?"

"A-aish, wae?!!" jawab Jennie tergugu dalam bentakan nya.

Orang itu melepas cengkraman nya pada Jennie dan menatap Jennie dengan datar dan dingin serta membawa Jennie hingga ke pintu kelas, Jennie masih terdiam dan menatap orang itu takut-takut.


"Urusan mu sudah selesai kemarin, Jennie-ya. Aku tidak membutuhkan mu lagi." bisik orang itu sepelan mungkin, dia tidak ingin Seulgi mendengar apa yang ia bisikkan pada Jennie.

My Wildest Fantasy [SR] | Uncut Version |Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang