Layaknya sebuah sistem yang memiliki batas, manusia pun memiliki batas. Jikalau sebuah sistem dibatasi oleh entropi yang terus naik dan akan berhenti di satu titik, manusia memiliki umur sebagai batasnya.
Kejadian tersebut menggemparkan banyak pihak, tak terkecuali sang profesor. Dia mengkhawatirkan keadaan psikologis dari mahasiswa terbaiknya itu. Rasa penasaran, menurut sang profesor, adalah pedang bermata dua. Dan keadaan psikologi yang kacau, dengan rasa penasaran, dapat berubah menjadi kemelut yang luar biasa bagi dunia.
Kriiinggg!!!!
Telpon Sean berbunyi dengan kencang membangunkan dirinya yang tertidur pulas selepas memakamkan ibunya. Ia terbangun dan langsung mengangkat telpon itu. "Selamat pagi Profesor, maaf saya belum bisa ke kampus hari ini. Saya kurang fit selepas kejadian kemarin."
"Iya, tidak apa-apa. Saya juga tidak mau menyuruhmu ke lab. Turut berduka atas kabar yang kurang mengenakan itu ya. Kalau malam ini kita mengopi di kedai dekat kampus, kamu bisa?"
Sangat aneh, kopi dan penelitian sepertinya memang memiliki hubungan erat, tetapi mengajak mahasiswanya ngopi bukanlah jalan yang akan ditempuh oleh Profesor Newman. Sean pun tanpa basa-basi segera mengiyakan ajakan tersebut. Dia yakin, sang profesor sepertinya dapat menjadi jawaban dari ambisi barunya.
Malam pun tiba dan mempertemukan kedua orang penggila sains ini. Tetapi mereka berada di jalan yang berbeda kali ini, Sean dengan ambisinya mencari jawaban atas kematian ibunya, sementara Newman memiliki tujuan untuk membuat Sean ikhlas dengan kematian sang ibunda. Kedai kopi di dekat kampus akan menjadi saksi bisu dari deklarasi perang antara 2 ilmuan ini.
"Malam Sean, untuk malam ini saya yang traktir."
"Terima kasih, prof. Tumben sekali anda mengajak saya untuk bertemu."
"Kematian bukanlah hal yang mudah untuk dihadapi. Apalagi penyebabnya sungguh menyakitkan seperti ibumu. Aku takut kau kenapa-napa. Itu saja."
"Hahaha, tidak apa-apa prof. Saya sudah ikhlas."
Ikhlas di mulut, lain di tangan. Profesor Newman melihat bahwa tangan Sean mengepal dengan gestur yang penuh dendam. Dia yakin dengan hipotesisnya tentang anak ini. Sean, akan mencari cahaya dengan jalur yang penuh kegelapan jika dia tidak menghentikannya.
"Yakin? Wajahmu tidak menunjukkan keikhlasan. Aku hanya takut kau terbawa dengan dendam, dan menjadi orang yang sama dengan pembunuh ibumu. Dirimu begitu pintar, dan ada satu yang kutakuti dari orang pintar. Mereka tidak pernah puas akan hipotesis, mereka butuh jawaban."
Sean yang mendengar perkataan itupun langsung tertawa.
"HAHAHAHA! Memang luar biasa dirimu ini, Prof. Ya, saya belum puas. Saya ingin mencari kebenaran mengenai siapa yang membunuh ibu saya. Saya akan mencarinya sampai jawaban itu ketemu."
"Sean! Saya khawatir denganmu. Bagaimana kalau kita ke psikolog? Kalau sampai kamu menempuh jalan investigasi sendiri, bisa-bisa dirimu menjadi kriminal yang juga berbahaya."
"Prof! Apakah dengan saya menyerahkan ini kepada polisi, maka pembunuh ibu saya akan dapat ditemukan? Bahkan, tidak ada satupun tanda-tanda dari CCTV yang dimiliki tetangga saya menunjukkan adanya orang yang memaksa masuk. Ibu saya seakan-akan dibunuh oleh orang yang tidak jelas dari mana asalnya. Dan ini adalah soal keadilan, Prof! Keadilan!"
"Sean! Pahami hal ini, dunia ini ada batasnya, dan batas kita adalah hukum. Kau tidak boleh lebih dari ini, atau kemalangan akan menimpa dirimu."
"Tidak, Prof! Seperti yang anda bilang, batas semesta adalah entropi. Entropi rendah menghasilkan simplisitas, entropi menengah menimbulkan kompleksitas, dan entropi maksimum menimbulkan penyelesaian yang berdampak pada simplisitas."
"Kejadian ibu saya adalah hasil dari entropi menengah. Adalah wajar untuk saya melakukan tugas saya, untuk mempercepat suatu sistem mencapai entropi maksimum. Saya akan menggunakan sains dan ilmu pengetahuan untuk menghancurkan siapapun di muka bumi ini yang ternyata berhubungan dengan kasus pembunuhan ibu saya. Dan siapapun yang menentang, akan menjadi lawan saya."
Sean mengangkat dirinya dari tempat duduk dan segera meninggalkan kafe. Pertarungannya dengan Newman sudah dimulai. Newman memang belum sadar, tetapi dia tahu kalau dia harus segera mencegah anak ini bertindak. Entah bagaimanapun caranya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Entangle
Science FictionSeluruh partikel yang membentuk manusia selalu memiliki pasangannya yang berada dalam fasa entangle satu dengan yang lainnya. Hubungan ini memengaruhi partikel dalam skala kuantum. Namun, manusia dan seluruh yang ada di alam ini juga terbentuk dari...
