Di ujung koridor gedung STEM Track lantai tiga, Alea menutup loker dengan beberapa barang yang ia masukkan pada dua tote bag berukuran sedang yang nampak penuh. Tasnya sudah di bahu, bersiap kembali ke rumah dan menata kembali barang-barang yang sempat ia tinggalkan di loker.
Ia sedikit tersentak kaget melihat seseorang berdiri dari balik pintu lokernya.
"Lo pulang sekarang?"
Gadis itu tersenyum lembut dan mengangguk. "Gue mau pulang lebih cepet."
Sunghoon berdiri beberapa langkah darinya, tangan masuk ke kantung celana, ekspresinya santai seperti biasa. "Bareng aja ke parkiran."
Tidak biasanya Sunghoon membawa mobil. Teman satu kelasnya itu lebih memilih naik kendaraan roda dua karena merasa lebih segar dan bebas saat angin meniup sekujur tubuhnya dengan lembut. Alea menyadarinya, alasan paling sederhana agar mereka bisa berjalan menuju parkiran yang sama.
Keduanya berjalan menuju lift kelas.
"Sini tote bag lo, biar gue bawain."
Alea menarik dua tote bag-nya begitu Sunghoon hendak mengambil alih.
"Gak usah, gue bisa."
"Gak papa sini, lo keliatan repot."
Tanpa menolak lagi, gadis itu memberikan kedua tote bag-nya pada Sunghoon. "Padahal cuma hal kecil, lo selalu cari perhatian," sindir Alea yang menatap Sunghoon sedikit mengejek.
"Semua tentang lo itu bukan hal kecil Al."
"Hm, flirting lagi."
"Serius," Sunghoon mencondongkan tubuhnya ke samping Alea. "Lo tuh bukan hal kecil, tepatnya hal yang bikin kepala gue sakit."
"Sunghoon!" Alea menatap tajam pemuda yang tertawa di sampingnya. Hilang atmosfer romantis di antara mereka.
"Bener––"
Gadis itu bersedekap dada. "Oh maksudnya gue nyusahin lo, termasuk bawain tote bag ini?"
"Bukaaan," Sunghoon menyilangkan tangan. "Contohnya lo nekat bawa mobil, ujung-ujungnya pulang bareng Sera. Kenapa gak bareng gue aja?"
Alea tidak langsung menjawab, ia mengalihkan pandangan ke arah lain. "Gak mau, ngerepotin."
"Nah itu Alea, lo bikin kepala gue sakit, apalagi hal yang harus gue lakuin biar bisa ngomong sama lo. Atau hal apa yang bisa bikin lo duduk lama sama gue." suara koridor tetap ramai di sekitar mereka. Namun percakapan mereka terasa seperti ruang yang lebih sunyi.
Kini gadis itu kembali menatapnya.
"Dan lo cuma minta permen karet ke gue, sisanya lo gak mau." Sunghoon menghela pelan menciptakan ekspresi dramatis di depan Alea. "Perjuangan gue kecil banget cuma sebatas permen karet."
Alea mencubit lengan Sunghoon, tidak begitu kuat namun jarinya masih bertengger di tempat cubitan itu. "Hoon, lo tau jawabannya bukan itu."
Sunghoon melanjutkan dengan suara yang tetap tenang, tetapi lebih dalam. "Sebagai manusia, ada hari-hari dimana gue takut Al. "
"Takut apa?" Alea agak terbata.
"Takut terlalu sabar sampai kesempatan gue hilang."
Sunghoon tidak bisa menahan perasaannya lagi. Berita kedatangan Jay yang Juno sampaikan mengganggu pikirannya bermalam-malam. Ia tahu bahkan sampai detik ini pun, Jay masih mendominasi isi pikiran Alea.
Langkah mereka terhenti sejenak, angin sore yang masuk dari jendela tinggi meniup perlahan rambut mereka. Keduanya bersitatap tanpa obrolan.
"Alea," katanya pelan, "Gue gak pernah minta lo buat langsung suka gue. Gue juga gak pernah maksa lo buat ngelupain siapa pun."
KAMU SEDANG MEMBACA
Possessive: Some Lies Are Worn Like Love
Novela JuvenilIa tidak pernah setengah-setengah dalam mencintai. Sampai hadir seseorang yang tidak meminta dimiliki, membuatnya jatuh karena menggenggam terlalu erat.
