"Mas, sarapan dulu. " Salma berteriak dari dapur.
Rony keluar dari kamar dengan rambut yang masih acak-acakan, basah.
Salma berbalik, "Mas, kok belum pake baju sih. " Salma berdecak karena Rony masih bertelanjang dada.
Hari ini adalah hari pertama mereka masuk kuliah kemungkinan hanya ospek dalam waktu seminggu kedepan.
Salma kembali ke kamar mengambil baju kaos dengan kemeja planel milik Rony.
Rony tengah duduk dibangku pantry, bermain ponsel. Salma kelimpungan sendiri rasanya seperti mengurus anak tk yang mau sekolah.
Salma mengambil ponsel Rony, meletakkannya dimeja lalu menatap Suaminya berang. Melotot. Bagaimana tidak kesal, ia sudah rapi sementara lelaki itu masih acak kadut. Ingin rasanya Salma berteriak karena kesal dipagi-pagi buta seperti ini.
"Nih, pake baju dulu. Abis itu sarapan."
Sebenarnya Rony sengaja melakukan itu, caper lebih tepatnya. Ia mengulum senyum. "Jangan cemberut dong. " ujarnya melihat bibir Salma sedikit manyun.Salma mencubit pinggangnya, "Gimana gak cemberut, kamu tuh ya. Kaya anak kecil tau gak, aku berasa ngurusin anak tk yang mau sekolah. " Salma mengomel, omelan yang selalu membuat Rony tersenyum. Dia suka Salma mode ngomel seperti ini. Katanya gemas.
Rony memakai kaosnya lalu kemeja juga, ia melipat lengan kemejanya tanpa menjawab omelan Salma. Salma masih cemberut tapi tangannya menyisir rambut Rony dengan sisir lalu mengacaknya pelan, dirapihkan namun tak terlalu rapi. Rony tersenyum, meraih tangan Salma lalu mengecupnya. "Aku sengaja."
"Hah? "
Rony mengecup tangan Salma lagi, tersenyum. "Aku sengaja ngelakuin ini biar kamu ngomel. " ujarnya tengil.
Salma memukuli lelakinya bertubi-tubi, kesal. Sedangkan Rony justru tertawa. "Caper banget sih jadi orang. " gerutu Salma.
Rony masih menyisakan tawa, "Sesekali boleh kali. " guraunya.
Salma mendengus, "Nyebelin." lanjutnya, "Lain kali bodoamat gak aku urusin."
Rony mengelus kepala Salma yang sudah terbalut hijab dengan lembut, "Maaf, yaudah sebagai gantinya aku suapin deh makannya ya? " membujuk rupanya.
"Emang aku kaya kamu yang makan aja masih disuapin. " ejeknya. Salma mengambil nasi goreng miliknya sendiri lalu melahapnya tanpa cakap masih kesal.
"Cie, ngambek. Nanti kita ospeknya pisah loh. Jangan kangen ya. " godanya.
Salma mencebik, "Ge-er banget sih, Mas. "
Rony mencolek dagu Salma, entah kenapa Rony hari ini usil sekali. Dipagi buta seperti ini lelaki itu sudah menyebalkan, pikir Salma.
"Yakin? " tanyanya, nada menggoda.
Salma mengusap dagunya, membersihkan karena tadi sempat dicolek lelakinya. "Yakin lah. " balasnya ketus.
"Beneran ya? " masih menggoda.
Salma mendengus menatap Suaminya, ia mengambil sendok lalu menyuapkan nasi goreng yang ia buat pada mulut lelaki itu. "Berisik." decaknya.
Rony tertawa pelan sambil mengunyah. Salma melahap makanannya dalam diam, masih sebal.
Rony meminum air yang sudah tersedia digelas. "Ca, belum pisah aja aku udah kangen. "
"Makan, gak usah banyak omong nanti telat. " omelnya. Rony tertawa lagi, pelan.
Karena dalam satu kota yang sama, mereka juga memilih apartemen yang lumayan dengan kampus mereka jadi dengan berjalan kaki saja sebenarnya sudah bisa sampai. Namun Salma malas, ia memilih mengenakan bus saja. Lagipula jika berjalan kaki cukup menguras tenaga karena mereka harus berjalan sekitar 1 kilometer.

KAMU SEDANG MEMBACA
Hi Switzerland (belum END)
Novela Juvenil#Karya 4 [Romance Funfiction] Sequel You're SPECIAL ●○●○●○●○ Switzerland is a dream country bagi seorang gadis untuk melanjutkan pendidikannya disana, namun orang tuanya melarang jika ia hanya pergi seorang diri. Jalan pintasnya adalah ia dinikahkan...