17 || Sebuah Janji, dan Permintaan

82 29 11
                                        

17|| Sebuah Janji, dan Permintaan
.
.
.

Sabtu, 8 April 2023, merupakan H-2 sebelum dilaksanakannya Ujian Sekolah. Putri mengajakku dan juga Vio untuk berkumpul di rumahnya. Dan tentunya, akan ada Raka juga di sana. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan Vio padanya.

Dari sejak beberapa menit yang lalu, aku berdiri di depan cermin. Memilah bando yang cocok untuk ku kenakan. Sebelum akhirnya Vio meneleponku dan memberitahu kalau dia sudah tiba. Dengan supirnya tentunya. Karena semenjak beberapa minggu yang lalu, Vio sudah tidak lagi diperbolehkan untuk menyetir mobil sendiri.

Aku sesegera mungkin turun ke bawah dan menemui Vio. Dia sudah duduk manis di kursi belakang dengan pakaian tebalnya. Entahlah, akhir-akhir ini ia sering mengenakannya. Apalagi di malam hari. Katanya, sering terkena flu jika terkena suhu yang cukup dingin. Apalagi terkena angin malam.

Cukup masuk akal memang jika ia pakai di malam hari. Namun masalahnya, di sekolah dengan cuaca panas pun ia mengenakan jaket. Dan hal itu mulai sering ia lakukan beberapa minggu belakangan ini. Meski khawatir, namun sebisa mungkin aku berusaha untuk mempercayai kata-katanya. Dan aku hanya berharap, semoga ia selalu baik-baik saja.

"Masuk Nata, kita akan terlambat." ujar Vio yang mungkin sadar kalau aku tak kunjung masuk ke dalam mobil.

"Nata...?" panggilnya panggilnya lagi.

Aku tersenyum, kemudian langsung masuk, dan duduk di samping Vio.

"Jalan Pak" ujarnya. Kemudian, tak lama setelahnya, mobil yang membawa kami melaju di jalanan.

"Kamu kenapa Nata? Sakit?" tanya Vio lagi

"Enggak kok, gak sakit. Aku cuma mikir aja, sebentar lagi ujian, jadi pengen cepat lulus!" jawabku ngasal

"Memang kalau sudah lulus kamu mau apa?"

"Lanjut kuliah, biar cepet jadi dokter. Biar bisa ngobatin orang sakit."

"Nanti kalau kamu sakit, dateng aja ke aku. Aku yang obatin. Gratis!!" lanjutku

Vio menatap ke arakhu, tersenyum, namun sangat samar.

"Kalau sakit saya parah dan gak bisa diobati gimana?"

"Kok ngomong gitu?"

"Seandainya Nata ..."

"Kalau gitu, aku bakal terus temenin kamu dan buat kamu bahagia. Aku bakal kabulkan semua keinginan kamu. Gimana?"

Vio terkekeh pelan, "Serius?"

Aku mengangguk, "Serius lah"

"Kalau begitu, anggap saja sekarang ini saya sakit parah, dan waktu saya untuk hidup hanya tinggal 1 tahun lagi. Kamu mau kabulkan permintaan saya?"

"Mau. Emang kamu mau apa?" jawabku cepat.

"Saya mau lihat senja. Di pantai, bersama kamu. Gimana?"

"Deal!! Nanti kita lihat senja. Sebelum acara kelulusan."

"Saya pegang ucapan kamu," ujarnya kemudian tersenyum. Sangat manis

"Itu aja? Gak ada yang lain? Biasanya di film film, kalau orang mau pergi tu ada banyak banget permintaannya." Ujarku bercanda

"Kalau gitu satu lagi"

"Apa?"

"Saya ingin melihat kamu bahagia. Jadi jangan nagis waktu saya gak ada nanti."

Entah kenapa, Vio seperti serius saat mengatakan ini. Namun lagi-lagi aku hanya tertawa untuk menanggapinya.

"Iya. Gak akan! Aku gak akan nangis kalau kamu gak ada."

NATAVIO {SUDAH TERBIT}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang