🤍 Chapter 30

175 15 0
                                        

Seribu Rindu

---A&A---

Pukul dua siang mereka sampai dirumah ketika kabar duka itu datang.

Saat itu Aira tengah menghapus riasan diwajanya. Sedang Afar tengah berganti pakaian. Keduanya melakukan kegiatan masing-masing dalam hening. Lalu kemudian terdengar dering ponsel memecah keheningan tersebut.

Afar yang baru saja mengenakan celana pendek selutut urung mengambil baju di lemari. Ia memilih mengechek ponselnya yang masih terus menyala.

Ada sebuah panggilan dari nomor tak di kenal. Biasanya Afar sama sekali tak berminat mengangkat panggilan dari nomor asing. Tetapi kali ini tanpa berpikir dua kali dia mengangkat panggilan itu.

"Hallo."

"...."

"Iya benar. Saya sendiri."

"...."

"Jangan bercanda."

Setelahnya tak ada lagi suara.

Hening.

Cukup lama keheningan itu bertahan. Aira, yang duduk di meja rias akhirnya melirik sang suami dengan ekor matanya. Kening Aira mengerut. Ia melihat tubuh Afar mematung dengan ponsel masih di telinga, entah panggilan itu masih berlangsung atau tidak ia tidak yakin.

Yang Aira kwatirkan, raut wajah sang suami mendadak kelam. Mata suaminya itu hanya memandang ke arah pintu tanpa berkedip.

"Kenapa, Kak?"

Setelah membuang kapas wajah yang baru saja ia gunakan, Aira menghampiri Afar lalu menyentuh lengan suaminya yang masih mematung.

Seolah baru tersadar, Afar melirik Aira dengan nafas naik turun. Ia merasakan sesak luar biasa.

"Ada apa?" Sekali lagi Aira bertanya.

"Papa Mama, Ra."

Perasaan Aira mulai tak enak.

"Papa mama kenapa, Kak?

"Mereka kecelakan."

"Astagfirullah."

Aira menutup mulutnya tak percaya. Tubuhnya mendadak lemas. Kalau tidak langsung di pegang Afar mungkin dia sudah terduduk di lantai.

"Mereka baik-baik aja kan kak?"

Afar menuntun Aira untuk duduk di atas ranjang.

"Aku gak tahu, Ra. Aku mau susul ke rumah sakit. Kamu tunggu di rumah aja ya."

"Tapi Aku mau ikut, Kak."
Bagaimanapun Aira tidak bisa hanya menunggu di rumah. Ia harus ikut memastikan dan menyaksikan langsung kalau kedua mertuanya baik-baik saja.

"Enggak. Kamu di rumah aja. Nanti Aku langsung kabarin."

Dengan serba cepat Afar mengganti kembali pakaiannya dengan celana panjang dan baju kaos yang bisa ia jangkau dengan mudah.

Aira hanya bisa merelakan kepergian sang suami dengan iringan doa. Ia berdo'a semoga kedua mertuanya baik-baik saja. Semoga insiden yang mereka alami hanya kecelakaan ringan.
Ia juga berharap sang suami tiba dirumah sakit dengan selamat.

Kembali Aira melanjutkan aktifitasnya meski dengan perasaan yang masih mengganjal. Setelah memastikan riasan diwajahnya bersih dengan sempurna, ia berganti pakaian lalu mengambil air wudhu. Sebenarnya Aira sudah sholat zuhur di mesjid saat perjalan pulang tadi. Jadi ia hanya mengerjakan sholat wudhu dilanjutkan membaca Al-Qur'an. Baginya tidak ada yang dapat memberikan ketenangan selain mendirikan sholat dan membaca kalamullah.

Bukan Cinta Yang Sederhana | CompletedTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang