BAB 1

16K 394 17
                                        

Happy Reading

***

SETIAP keluarga menyimpan rahasia, dan setiap rahasia memiliki cerita yang tak selalu ingin diungkap. Di balik gemerlap kemewahan sebuah mansion raksasa, tersimpan kisah tentang seorang anak yang terpaksa diasingkan jauh dari tanah kelahirannya. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat, namun bagi sebagian orang, luka masa lalu tak pernah benar-benar sembuh oleh jarak maupun waktu.

Begitupun dengan kepulangan sang bungsu bukan hanya menjadi momen penyambutan, tetapi juga awal dari kisah baru yang masih sepenuhnya belum selesai, amarah, dan rahasia yang belum sepenuhnya terungkap.

Childhood wounds made him untouched.

Ia temperamental jarang memperlihatkan perasaannya. Wajahnya hampir selalu datar, terkesan dingin, bahkan kadang tampak kejam. Yang paling membuat orang segan adalah ia sangat tidak suka diganggu, terlebih oleh perempuan.

“Mas...” suara lembut Siska terdengar, sedikit bergetar. “Nathaniel... akan berangkat malam ini. Aku takut bagaimana reaksi Nathaniel nanti, tapi... aku berharap semuanya akan baik-baik saja.”

I also hope like that... tidak ada anak yang benar-benar lupa akan luka masa kecilnya sayang.”

“Aku tahu, Mas,” jawabnya pelan. “Aku hanya takut... kalau kepulangan ini akan membuka luka lama.”

I am worried, kalau El tidak menyukai Luna bagaimana? Kalau El nyakitin Luna... atau bahkan membenci kita—”

Calm down, semuanya akan baik-baik saja,” bisiknya menenangkan.

“Kadang, luka memang harus dibuka kembali,” Zack menepuk lembut pundak sang istri. Melanjutkan “agar bisa benar-benar berdamai dengan lukanya.”

Siska mengangguk pelan di pelukan  sang suami, membenarkan.

Hening sejenak. Hanya terdengar detak jam antik dan desir angin yang menyusup lewat celah jendela.

“Tapi, Mas… apa Nathaniel akan senang kalau dia tahu punya adik baru?” tanya Siska pelan, suaranya penuh keraguan saat menatap sang suami.

Zack menghela napas pelan, lalu mengangkat tangannya untuk mengusap lembut dahi sang perempuan yang berkerut dengan ibu jarinya.

Sure, dia akan senang sayang, trust me hm? Dia akan menjaga dan menyayangi Luna.”

Siska tak lagi menyahut.

Zack dengan tenang mengelus lembut rambut cokelat sang istri. Walaupun ucapan beberapa detik tadi terlontar untuk menenangkan sang istri itu, juga tidak berlaku untuknya. Karena kini ia meragu dengan perkataannya sendiri.

Apa Nathaniel akan menyukainya?

Apa Nathaniel akan menerimanya?

Apa Nathaniel akan senang menemuinya?

***
Rumah mewah bergaya classic itu berdiri megah di salah satu kawasan elit Manhattan, dikelilingi pagar besi tempa berwarna hitam dengan ukiran elegan bergaya Eropa. Dari luar, fasadnya memancarkan nuansa old money yang menenangkan-dindingnya dilapisi batu marmer putih keabu-abuan, pilar-pilar tinggi menjulang di sisi kanan dan kiri pintu utama, lengkap dengan ukiran dedaunan halus di bagian kepala pilar.

Begitu mata menelusuri ke atas, tampak jendela-jendela besar berbingkai kayu ek berlapis pernis mengilap, berjajar rapi dengan tirai panjang berwarna gading yang menutupi sebagian cahaya rembulan malam. Balkon kecil di lantai dua dihiasi tanaman yang menjalar lembut di pagar besinya, memberikan kesan hangat.

Halaman belakang rumah itu seluas taman kecil di tengah kota. Rumput hijau terpangkas rapi, bunga mawar putih tumbuh di sepanjang jalan setapak dari batu granit. Di tengah taman berdiri air pancuran marmer berbentuk malaikat kecil yang memegang kendi-airnya berkilau memantulkan sinar rembulan malam.

Disitulah seorang anak laki-laki berdiri di tepi halaman belakang, menatap datar ke arah air pancuran yang berkilau. Wajahnya tak menampakkan ekspresi apapun, dingin dan tenang, sementara jemari kecilnya memutar pisau lipat kesayangannya di ujung telunjuk-terlihat berbahaya But, for him only an ordinary game.

He knows everything, bahwa sebentar lagi dia akan mempunyai adik. No, adik angkat. Sejak dua bulan lalu, dia sudah mendengar semua percakapan antara Oma dan Mommy-nya lewat telepon kala itu. Meski hanya sepintas, tetapi kata-kata itu terus berputar di kepalanya.

He was curious-what kind of child like that? Why should there be a stranger entering his family? And why everyone looks happy, except him?

Dan kenapa... perasaan itu begitu mengganggunya?
Rasa asing yang tak bisa ia jelaskan-antara cemburu, marah, dan sesuatu yang bahkan belum benar-benar ia pahami.

Sejak kecil, Nathaniel terbiasa menjadi pusat segalanya. Semua perhatian, kasih sayang, dan kehangatan keluarga selalu mengelilinginya. Namun kini, hanya dengan kabar sederhana tentang "adik baru", semuanya terasa berbeda. Seolah dunia kecil yang selama ini hanya miliknya perlahan terancam berubah.

Ia menatap langit malam yang ditaburi oleh bintang-bintang berkilau, membiarkan pikirannya tenggelam dalam hening. Obsidian gelap itu muncul riak halus di dalam bola mata hitam pekatnya-dingin, tapi bergejolak.

Menutup kembali pisaunya dengan satu klik halus.
Tatapannya kembali ke pancuran air, namun pikirannya sudah melayang jauh-ke tempat lain, ke seseorang yang belum pernah ia temui.

“Adik, ya...” bisiknya pelan, nyaris tak terdengar. “Kita lihat saja nanti, apa dia benar pantas jadi bagian dari keluarga Albert, or can only be a troublesome spoiled child.

“Tuan, semuanya sudah siap,” ucap seorang remaja yang usianya tak jauh berbeda dengan Nathaniel, suaranya terdengar hati-hati namun tetap sopan.

Nathaniel menoleh perlahan. Tatapan matanya tajam, menusuk, dan penuh tekanan. Seketika, remaja itu menunduk, menelan ludah gugup, bertanya-tanya dalam hati — apakah ia baru saja melakukan kesalahan tanpa sadar?

Tanpa sepatah kata pun, Nathaniel berbalik dan melangkah pergi dengan langkah tenang namun berwibawa, meninggalkan remaja itu yang masih terpaku di tempat.

Satu gerakan ringan, tajam, namun penuh kendali-seperti dirinya.

______

90% dirombak.

Salam Hangat
Penulis amatir
23-03-2024
07:17

Crazy Obsession (END/ REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang