Marma - Penantang Bulan

17 3 0
                                    

Perjalanan awal dimulai dengan mencari seorang pria bernama Marma. Ratri pergi ke sebuah kota di ujung barat, jarak menuju ke kota itu menghabiskan 3 album Coldplay. Sebenarnya ia ingin naik pesawat, sayangnya tak tersedia bandara di sana, sehingga ia memilih jalur darat.

Sesampainya di kota tersebut, ia mencari sebuah desa bernama Desa Kemendung untuk mencari Marma, sedari sore Ratri mengelilingi desa tersebut, tapi tak kunjung sampai ke lokasi Marma, hingga petang telah datang. Ratri memilih jalan kaki saat hampir sampai ke lokasi. Ketika itu, langit sedang cerah dengan bulan yang sedang cantik-cantiknya purnama. Langkah kaki Ratri terhenti ketika melewati deretan pohon jati yang berjejer rapi di pinggir jalan.

Ketika angin malam berhembus pelan, membuat daun-daun jati itu luruh dan berjatuhan melayang. Daun-daun kering yang melayang itu membuat Ratri melamun sesaat sebelum daun itu menyentuh tanah. Momen aneh itu seolah menuntunnya untuk mengingat suatu memori di masa lalunya. Ia bergegas pergi dari tempat itu, ia semakin tidak nyaman dengan ritme daun-daun yang terus berjatuhan itu.

Setelah melewati pepohonan jati, Ratri masuk ke deretan rumah Marma. Dari kejauhan ia melihat sosok pria duduk di depan teras rumah kosong. Ratri mendekat untuk berkenalan sekadar memastikan apakah itu adalah Marma atau bukan. Tentu Ratri tak akan serta merta bertanya Apa kamu Marma? atau langsung menyampaikan maksud kedatangannya di sana, ia tetap menyimpan pertanyaannya untuk disampaikan di momen yang tepat. Ratri mendekati pria itu.

"Permisi, aku Iluh Ratri, ini desa apa ya?" tanya Ratri.

"Iluh memiliki arti air mata dan Ratri bermakna malam, tangis malam hari. Hmm, nama yang indah" jawab pria itu.

"Loh, bagaimana ia bisa tahu" batin Ratri. "Wah, wawasanmu luas, ya, kebanyakan orang selalu tanya makna dibalik sebuah namaku" jawabnya.

"Halah, ini bukan kekuatan super kok, jadi tak perlu dilebih-lebihkan. Oh, iya, panggil saja aku Marma" jawab pria itu.

"Marma aja atau ada nama lanjutannya?* tanya Ratri.

"Sebaiknya, kau tak perlu mengerti banyak tentangku, pepatah mengatakan semakin sedikit yang kau tahu, semakin baik, barangkali ketidaktahuanmu tentangku bisa menyelematkanmu" jawab Marma.

"Hah, menyelamatkanku dari apa? emangnya aku dalam bahaya" batin Ratri. "Baiklah, aku juga tak akan memaksamu tentang hal itu. BTW, sedang apa kau duduk di sini?" tanya Ratri.

"Sedang duduk-duduk biasa" jawab Marma.

"Apa kamu tinggal di sini?" tanya Ratri.

"Entahlah, aku tak bisa menjawabnya sekarang, semuanya terlalu rumit untuk ku jelaskan" jawab Marma.

Ratri memang masih penasaran dengan sosok Marma, mengapa dia duduk di teras rumah kosong yang cahaya lampunya remang-remang. Ia sebenarnya hendak menanyakan hal itu, tapi ia urungkan karena pasti Marma tak akan menjawabnya.

"Pulanglah, hari sudah malam. Gadis sepertimu tak pantas keluar malam-malam" suruh Marma.

"Nanti dulu, sebagai seorang gadis, aku pun tahu batas keluar malam. Pada waktunya nanti, aku akan pulang tanpa disuruh" jawab Ratri.

"Apa yang kau cari?" tanya Marma.

"Emmm, aku... aku... hanya ingin menjumpai beberapa orang" jawab Ratri. Sebenarnya si Ratri kebingungan mencari jawabannya, ia terbata-bata saat mencari alasan dari jawaban itu.

Tiba-tiba dari arah dalam rumah terdengar suara anak kecil memanggil Marma. Ratri yang mendengar suara itu kaget, sebab rumah itu terlihat kosong dan tidak berpenghuni.

"Kak Marma, apa Ayah sudah pulang?" tanya adik Marma kepada Marma.

"Belum, tidurlah, Ran, habis ini aku akan menemanimu tidur" jawab Marma kepada adiknya bernama Rani.

Dialog Yang Tak Mampir Di KehidupmuTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang