Chapter 2.

1K 177 21
                                        

"pupi"

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"pupi"

"ciel cudah capek kita alan telus dali tadii kaki ciel cakit pupi"ciel terus mengajak pupi berbicara walau pun Ciel tahu pupi tidak akan membalas ucapannya

pagi-pagi sekali Ciel dan pupi sudah pergi dari tempat mereka bermalam saat ini mereka benar-benar sudah sangat jauh dari kota sehingga Ciel bisa bernafas lega karena paman-paman menyeramkan itu tidak akan bisa menemukannya

"pupi ciel capek huhu"Ciel pun berhenti lalu duduk begitu saja membuat pupi mau tidak mau juga ikut berhenti

"pupi tau ini di ana? Ciel nda tau empat ni cama sekali"Ciel sayang kamu terlalu polos dan lugu

Jika pupi bisa bicara sudah dipastikan kamu tidak berbicara sendiri lagi ciel

mana bisa pupi menjawabnya ciel, pikir Ciel sedih dia tidak tau sekarang ada dimana semuanya begitu asing untuknya, mau bertanya kepada seseorang pun dia merasa takut saat bertatapan dengan orang lain

"pupi, ciel mau ulang nda mau di cini lumah ciel yang dulu ebih naman tuk ciel tidul. nda sepelti sekalang Ciel nda bica tidul cama cekali pupi"

Walau nyatanya rumah yang dibilang Ciel nyaman untuk tidur hanya sebuah gubuk tua peninggalan kakek nenek yang merawatnya tapi sekarang mereka sudah tiada meninggalkan ciel sendirian

"pupi anti itut ciel ulang ke lumah ciel na"gumam Ciel menatap pupi kecilnya yang hanya menatap dirinya

Ciel andai kamu tau sampai kapan pun kamu tidak akan bisa kembali kerumah yang kamu bilang nyaman karna kamu saat ini begitu jauh dengan rumahmu

disisi lain negara China yang di juluki Negara Tirai Bambu, disebuah ruangan yang bernuansa hitam di campur gold  terlihat sangat mewah dan elegan

"Jadwal saya setelah ini?"ujar seorang pria dengan perawakan tegas dan memiliki sikap dingin

"setelah ini anda tidak memiliki jadwal lagi Tuan"jelas sang sekretaris

Pria itu pun mengangguk sebagai jawaban tidak kuasa mengeluarkan suara sedikitpun

Kembali lagi ke posisi Ciel dan pupi berada, keduanya yang sejak tadi berjalan kaki tanpa arah pun kini berhenti karna si kecil kelelahan lalu mengeluh sesak pada dadanya kepada anjing kecil yang tidak mengerti sama sekali

"pupi pelut Ciel cakit"lirih Ciel menatap berkaca-kaca pupi

Pupi yang peka bahwa si kecil tidak baik-baik saja pun menggonggong pelan

"c-cakit pupii"gumam Ciel memukul perutnya yang semakin sakit seperti di tusuk-tusuk oleh benda tajam

"Hei ada apa"seorang gadis dengan pakaian yang cukup formal menghampiri Ciel

"eung? Kakaa ini ca-cakit"lirih Ciel membawa tangan gadis itu ke perutnya

Entah apa yang dilakukan gadis tersebut di tempat sepi seperti ini dan masih menggunakan pakaian tersebut

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Dec 04, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

CielTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang