TAMAT-LENGKAP
Sea bermimpi menjadi editor profesional. Namun, di usia ke 24, ibunya mendesak agar Sea ikut kencan buta. Demi menghindari kencan buta, ia meminta seseorang menggantikannya. Ternyata itu tidak berjalan lancar karena rencana tersebut ga...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sepasang mata Tika mengawasi Sea yang memakan sate dengan lahap. Mendadak gadis itu bertingkah seperti makhluk aneh yang telah lama tidak diberi makan. Dari arah pintu rooftop, Vonny datang membawa sepiring sate lagi. Gadis yang masih duduk di bangku SMA, pun menggeleng heran karena tingkah aneh Sea.
"Rakus amat, Mbak," komentar Vonny.
"Gue lagi kesel. Lagi laper. Tambah lagi, dong." Sea meminta seakan-akan di rumahnya sendiri. Memang tidak tahu malu.
"Udah abis. Itu aja nambah lagi pasti lo yang habisin, Se." Tika akhirnya bersuara. "Lo mending resign daripada depresi. Kasihan, mana masih muda."
"Jangan asal bicara, Mbak. Sebentar lagi bakal dikasih tau siapa yang akan jadi editor tetap. Gue nggak mau dipecat," kata Sea sesaat setelah mengusap bibir dengan selembar tisu.
"Tapi, lo jadi gila begini."
Sea mendelik pada kedua sepupunya. Tika, hanya terkekeh. Sedangkan Vonny menyimak seraya ikut mengambil beberapa tusuk sate. Malam yang dingin dan ditemani curahan hari Sea yang merasa dinistakan di tempat kerja. Apa lagi kalau bukan cerita tentang si pimpinan redaksi yang maksanya sungguh tidak main-main.
Langga jadi super sensitif sejak salah satu penulis di Bookland hilang kabar. Dengar-dengar, sang penulis dengan nama pena SagaAuthor ternyata juga ditawari terbit oleh Bahtiar Pustaka. Di mana itu adalah penerbit mayor, besar, yang kualitasnya dan jejaknya sangat bersih. Bagaimana Langga tidak jengkel setengah mati? Sea yang menangani SagaAuthor lantas menjadi sasaran kemarahan Langga.
"Kabarnya dia belum menerima pinangan Bahtiar Pustaka. Dapatkan segera!"
"Gimana, sih? Kamu usaha lagi, dong. Kabari dia terus. Naskahnya menarik ini. Kapan lagi kita bisa menerbitkan naskah high fantasy. Meski peminatnya tidak terlalu banyak, tetapi kalau karya ini akan booming. Saya yakin."
"Awasi terus. Jangan sampai ada kabar kalau beliau menerima Bahtiar Pustaka."
Sea bahkan masih ingat kata-kata Langga beberapa hari ini. Sang pemred sedang uring-uringan karena naskah tersebut. Iya, Sea sempat memberikan ulasannya dan Langga tertarik sampai membaca karya SagaAuthor di Bookland. Barangkali Langga merasa pundi-pundi rupiah dan kepopuleran akan segera datang ke Star Media dan Saga Author. Makanya dia ngotot tidak mau melepas sang penulis.
Omelan Langga selalu diterima oleh Sea. Sebenarnya Sea bisa saja berhenti, tetapi sudah kepalang optimis bakal dapat posisi tetap di Star Media. Ia ingat lagi dengan mimpinya menjadi editor profesional. Hanya karena temperamen Langga? Oh, tidak! Sea tidak akan menyerah.
"Atasan lo ngotot banget, Se. Jangan-jangan alasannya nggak cuma naskah yang menarik?" tanya Tika.
"Karena duit juga kali. Dia agak mata duitan." Sea tidak ragu-ragu menyuarakan kejengkelannya.
Vonny terbahak sesaat. "Orang yang lo sebut mata duitan adalah orang yang lo temui pas blind date."
"Gue heran sama selera ibu. Kenapa malah tertarik sama pria macam Pak Langga? Jangan-jangan dia pelit juga, ya? Kalau gue nikah sama dia, bisa-bisa disuruh hemat melulu."