17 [dendam yang terkubur]

253 25 3
                                        

.

Setelah acara perpisahan selesai, Felix sudah ditunggu Yeji, Minho, Jisung dan Seungmin yang akan mengantarnya ke bandara. Hyunjin masih belum sadar dari koma-nya.

"Felix, bisa bicara di rooftop sebentar, ini terkhir kalinya sebelum kau berangkat." Jeongin menahan lengan Felix.

Felix mengangguk saja, dari rautnya jelas-jelas dia terpaksa.

"Jeongin, maaf. Tapi Felix harus buru-buru. Seungmin menahan tangan Jeongin yang hendak menarik tangan Felix. Seungmin kali ini sudah tidak tahan, kemarin dia melihat Jeongin yang tersenyum ketika melihat kebakaran yang terjadi. Dia jelas senang melihat Felix menderita. Kali ini setan ini mau apa?

Jeongin tersenyum.

Jisung merinding seketika, menggenggam erat lengan Minho. Senyuman Jeongin yang itu berbeda dengan senyum biasanya. Tidak ada aura ceria, yang ada malah aura mistis dan pembunuh yang digabung menjadi satu.

"Aku tidak akan melakukan apa pun. Hanya mengucapkan salam perpisahan sejenak."

Felix menahan tangan Seungmin yang hendak menariknya pergi, "tidak apa. Ayo."

"Apa yang mau kau katakan?" ucap Felix langsung. Saat ini Jeongin dihadapannya. Rooftop sepi, tidak ada orang sama sekali di sini.

"Aku tahu sejak awal, Felix." Jeongin menatap Felix dengan tatapan datar. Seakan tidak ada Felix di sana.

"Sejak kau berkenalan dengan Hyunjin di sini. Kau mungkin tidak tahu, aku membuntuti Hyunjin. Sebelum dia pergi ke rooftop dia menemuiku dulu."

Felix mengalihkan wajah.

"Awalnya aku heran, bagaimana bisa Hyunjin mendengar nama Felix. Padahal di sekolah kau dikenal dengan nama Yongbok, kau jarang menggunakan name tag mu tapi kenapa Hyunjin tahu nama Felix? Kupikir karena mendengar dari Jisung. Ternyata lebih dari itu.

"Ditambah lagi kau ternyata akrab dengan Yeji."

Felix diam saja, membiarkan Jeongin melepaskan semua unek-uneknya.

"Waktu itu, Hyunjin mengantarku ke mobil. Aku berniat mengajaknya pulang bersama, tapi dia bilang ada urusan pribadi. Sejak kapan Hyunjin jadi punya privasi yang ketat? Aku pergi. Di tengah jalan aku teringat barangku tertinggal di kelas. Shock berat melihatmu mencium bibir Hyunjin. Aku bahkan tidak boleh mencium pipinya sekilas saja. Tapi kau..

"Melihat wajahmu yang mengeras sebenarnya aku langsung menyadari kalau kalian memang pacaran. Aku memilih untuk diam saja. Diluar dugaanku, ternyata kalian memang sudah melakukan lebih jauh. Aku mengenalmu dari kecil, kau tidak akan pernah mau menggunakan pakaian yang menutup leher. Kau pasti menyembunyikan sesuatu di balik kerah panjang itu. Tanda kepemilikan, mungkin? Entahlah."

"Kau jahat sekali tidak memberitahuku, bukankah kau memberitahu Jisung dan Seungmin. Kenapa Felix?"

Felix menoleh, menatap wajah Jeongin. "Maaf, Jeongin. Tapi Hyunjin tidak mencin-"

Crat!

Belum selesai kalimatnya, sebuah belati lebih dulu terbang melewati pipinya, sedikit tergores. Felix mengusap darah yang menetes. "Jeongin?"

"Berisik, Felix. Seharusnya Hyunjin bisa mencintaiku. Tapi kau kenapa malah datang tak diundang pulang tak diantar. Menganggu saja!"

Felix agak tekejut tiba-tiba Jeongin menyerangnya dengan tendangan beruntun. Benar juga, dulu mereka belajar taekwondo di tempat dan guru yang sama.

Felix menghindar, ketika mendapatkan kesempatan dia menggunakan teknik tikungan. Jurus ini biasanya bisa mengalahkan Jeongin, sejak dulu, sampai saat ini pun sepertinya berhasil. Jeongin sahabatnya masih sama.

Long Time no See // HYUNLIX [BL]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang