Rintikan semakin lebat disertai suara petir yang menggelegar, bak keadaan elin yang saat ini sangat hancur dan berantakan. Air mata sudah tidak ada lagi yang keluar begitu pula dengan suaranya.
Dia hanya termenung diam dalam dekapan hangat pria yang sudah menodainya, merenggut segala yang ada pada tubuhnya. Pria itu sudah tertidur pulas setengah jam yang lalu, tapi Elin tak bisa menutup mata dengan menikmati kehangatan yang dia dapatkan dimalam ini.
Perasaan hancur dan kecewa pada dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga diri, rasa benci yang dia rasakan pada pria jahat sedang mendekapnya hangat. Elin benci pria ini. Dia sangat benci.
Elin bangkit perlahan dari ranjang, walau susah tapi dia tetap berusaha. Memungut pakaiannya dan memakainya kembali, lalu Elin menoleh lagi pada pria jahat yang sudah merusak nya.
"Siapapun kamu, aku harap kita tidak pernah bertemu lagi. Setelah apa yang kamu lakukan padaku, aku tidak akan meminta tanggung jawab karena aku tidak mau hidup dengan orang yang sangat ku benci. Aku sumpahi hidupmu tidak akan tenang setalah ini" ucap Elin pelan dengan suara yang putus-putus.
Perempuan itu keluar dari kamar dan mendapati tasnya berada di dekat sofa, Elin secara perlahan berusaha membuka pintu apartemen. Memasukkan kode secara acak dan sudah rejekinya akan keluar, Elin berhasil membuka pintu kokoh itu.
"""""""""""""""
Saat sampai di luar, Elin berjalan dengan menahan sakit dibadannya. Rintikan hujan tak menghalangi jalannya sedikitpun, tetesan air yang menerpa tubuhnya dan angin yang berhembus menyerbu.
Elin menatap jalan sepi dengan pandangan kosong, seperti tidak ada harapan hidup dipandangan matanya. Menangis, meraung, sudah tak bisa lagi dia lakukan, setelah menyadari seperti apa garis takdir yang dia punya tak berjalan sesuai kehendaknya.
gadis 17 tahun itu berjalan dipinggir jalan yang sepi, menahan rintikan hujan dengan tubuh tak berdaya.
Waktu terus berputar, langit yang tadi gelap sudah berangsur terang, rintikan hujan sudah berhenti menghantam bumi. Sang surya sudah terbit.
Elin sampai di terminal dan memasuki salah satu bus yang akan berangkat menuju selatan. Gadis belia itu duduk di kursi penumpang dengan menggenggam erat tas ransel miliknya. Berharap dengan kepergiannya dia bisa menemukan kehidupannya yang sesungguhnya.
""""""""""""""""""
Matahari sudah naik seperempat, sinarnya masuk kesela-sela gorden jendela di apartemen seorang pria yang tidak mengenakan apa-apa. Pria itu menggeliat dan membuka perlahan matanya, tersenyum menyambut pagi setelah teringat kejadian tadi malam.
Secara langsung senyum itu sirna saat sadar apa yang membuatnya tersenyum, mengedarkan mata kepenjuru kamar "mana gadis itu?" Pikirnya saat tak menemukan gadisnya disana.
Kevin duduk dan bersandar dipan ranjang, melihat sekeliling "elin" panggilnya. Tak ada sahutan Kevin berjalan menuju kamar mandi, disana dia tak menemukan elin lalu keluar dari kamar menuju ruang tamu.
Kevin sudah tak menemukan tas elin yang tadi malam dia letakkan disamping sofa "dia sudah pergi?" Monolog nya.
Senyum miring tercetak dibibir Kevin, "suatu hari nanti aku akan menemukan mu, kita akan mengulangi aktivitas kita tadi malam" seringainya.
Dengan tak ada rasa bersalah Kevin kembali kekamar untuk mandi, lalu keluar lagi setelahnya hanya dengan handuk yang membalut hingga pinggang. Duduk di ranjang, dan tersenyum lagi, ranjang inilah yang dia gunakan untuk memecah perawan gadis belia yang sebelumnya tidak dia kenal. "Elin" sebutnya.
Tangan kevin mengusap ranjang dan tak sengaja matanya menemukan sebuah cincin yang berwarna putih, sepertinya emas putih. Kevin membolak-balik cincin ditangan nya, tersenyum lagi dan bangkit menuju kemari dengan cincin putih itu ditangannya.
""""""""""""""""""""
How are you?
KAMU SEDANG MEMBACA
Cincin putih
Romancekisah satu malam. pertemuan pada malam itu ternyata menjadi jembatan untuk kehidupan mereka ke depannya, selalu terbayang akan kejadian pada satu malam yang takkan terlupakan. bayangan kejadian itu bukan tanpa alasan, ada benda yang selalu menginga...
