****
Anindhya melihat luka yang ada di pipi mulusnya, ia berdecak kesal, jika bukan Daren pelakunya, mungkin orang itu akan ia habisi saat itu juga. Panjang luka itu hampir 15 cm, tidak terlalu dalam, namun lumayan memberi rasa nyeri pada pipi Anindhya, sudah hampir seminggu, tapi, luka itu belum juga hilang.
Ia keluar dari kamar, menutup pintu dengan kencang, hingga menimbulkan suara yang membuat pengang telinga yang mendengar. Gadis itu kembali menata rambut nya yang dibuat Curly hari ini, dia berdiri di pembatas lantai 2, hari ini gadis manja itu akan pulang kerumah. Anindhya mendengus kesal saat melihat seluruh keluarga nya sedang berkumpul menyambut kepulangan sang adik.
"Terlalu berlebihan, dia bahkan bukan balita." Sungut Anindhya kesal. Ia berjalan menuruni setiap anak tangga dengan hentakan keras, membuat semua yang ada di ruang keluarga, menoleh untuk melihat siapa pelaku dari hentakan suara nyaring itu.
"Kakak,," panggil Ansara riang. Gadis kecil itu melambaikan tangan memanggil Anindhya.
Anindhya tersenyum miring, ia tak suka, sungguh. Di mata Anindhya semua yang di lakukan Ansara adalah salah.
"Tidak, waktu ku terlalu berharga." Balasnya.
"ANINDHYAAAAA!!!" Teriak Maria marah, wanita tua itu menaruh cerutu yang sedang di hisapnya, ia mengambil tongkat di samping tempat duduknya, berjalan kearah Anindhya.
Suara tamparan membuat semua diam tak menyangka, jika Maria akan menampar Anindhya.
Anindhya tertawa sumbang, "ya, karena aku bukan keturunan asli Mahatma. Maka kalian memperlakukan ku begitu buruk!" Ucap Anindhya keras, ia menghentikan kaki dan berlalu meninggalkan ruangan keluarga itu.
Karina mengelus pelan surai hitam Ansara, ia berbisik pada Ansara, "Mommy menyusul kakak dahulu, sayang." Ucapnya, Ansara mengangguk menyetujui.
"Sayang, akan lebih untuk beristirahat, kau harus segera pulih. Bukankah sudah merindukan sekolah?" Ucap Daren, ia berjalan kearah Ansara, mengulurkan tangan untuk mengajak gadis kecilnya beristirahat. Ansara menerima uluran itu, Maria dan Ares menyetujui saran dari Daren, Ansara memang butuh istirahat yang lebih agar lekas membaik.
"Ares, kau harus terus awasi Anindhya." Ucap Maria memberi perintah.
Ares mengangguk, "Oma, tidak perlu khawatir. Aku akan mengawasinya mulai saat ini,"
"Ya, sudah seharusnya." Maria kembali mematik api untuk menghidupkan kembali cerutu miliknya.
"Aku yakin, Anindhya adalah anak dari wanita itu. Akan ku pastikan, aku tidak Sudi jika perbuatan salah yang di lakukan Shaka tanpa sepengetahuan Karina itu membuahkan hasil. Tidak akan ku biarkan, wanita itu menghancurkan keluarga besar ku." Ucap Maria dalam hati, ia menghisap cerutu nya dengan kuat.
Karina memegang bahu Anindhya, membuat langkah Anindhya terhenti.
"Anakku, maafkan Oma ya sayang." Karina mengelus pipi anak keduanya itu, jujur Karina sangat menyayangi Anindhya, sama besarnya dengan cinta yang ia miliki untuk Ares dan Ansara.
Anindhya menangis keras, ia langsung memeluk Karina. "Mom, apa kau menyayangi ku?" Tanya Anindhya.
"Tentu sayang, kau putri ku. Bagaimana bisa aku tidak menyayangimu,"
"Kau hidupku, kau napasku. Mommy sangat menyayangi Anin." Tambah Karina lagi.
"Terimakasih Mom, karena sudah menyayangi." Ucap Anindhya pelan.
"Kau tidak perlu berterima kasih, kau anakku, tentu aku menyayangimu." Jawab Karina ia mengecup berkali-kali puncak kepala putri keduanya.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomanceHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
