Senang dari Baraga

15 0 0
                                        

***

Baraga menyugar rambutnya kasar, ia melirik spion pada motornya beberapa kali untuk memastikan penampilannya. Ia bersiul pelan, sambil mengalihkan pandangan ke sekeliling halaman parkir AHS mencari keberadaan Ansara.

Ia tersenyum kecil, saat melihat gadis itu berjalan pelan bagaikan seekor siput. Lucu, gadis itu berjalan dengan menggenggam erat kedua sisi tali pada ransel coklat-nya.

Baraga melambaikan tangan, saat Ansara menengok ke kanan dan kiri.

"Ansara, disini!" Teriak Baraga. Ansara tersenyum lalu mengangguk, berjalan menghampiri Baraga.

"Maaf lama, An, harus mengembalikan beberapa buku." Ucap Ansara merasa tak enak pada Baraga.

"Tidak masalah, ayo kita pergi." Baraga menaiki motornya, ia memberikan helm bogo berwarna merah muda pada Ansara. Entah darimana ia mendapatkan helm itu.

Ansara memandang helm dan motor Baraga secara bergantian, membuat Baraga menyerit bingung.

"Kenapa?"

"Naik kesini bagaimana, Kak?" Tanya Ansara bingung, Baraga tertawa kenapa gadis ini begitu lucu sekali.

Baraga mengambil alih helm di genggaman Ansara, memakaikan dengan hati-hati pada kepala gadis berbanda merah muda di hadapannya. Lalu, ia mengulurkan tangannya.

"Pegang tangan gue!" Perintah Baraga, Ansara dengan ragu menggenggam tangan Baraga.

"Injak bagian ini, lalu naik." Ucap Baraga memberikan intruksi pada Ansara, yang langsung di pahami gadis itu dengan baik.

Baraga melepas jaket kulit, yang menutupi seragam sekolahnya. Memberikan pada Ansara.

"Tutup bagian rok, An. Angin lumayan kencang hari ini," perintah Baraga, yang langsung di lakukan oleh Ansara.

"Pegang!"

"Pegang apa kak?" Tanya Ansara bingung.

Baraga menarik tangan Ansara, untuk melingkari pinggang laki-laki itu.

"Supaya lo gak jatuh," ujar Baraga, cowok itu mulai menghidupkan mesin motornya dan berlalu meninggalkan lapangan parkir AHS.

"Cemburu kan lo?" Tanya Ares, cowok ber-headband itu sedang berada di dalam mobil milik Daren.

Daren menoleh pada Ares, menatap penuh permusuhan kepada sahabatnya itu.

"Kau sungguh cerewet, Res." Jawab Daren datar. Ares hanya menggerakan bibir mengejek ucapan sahabatnya itu.

Daren menekan in-ear-monitor di telinga kanannya, "awasi Ansara, jangan sampai lebih dari yang ku lihat di parkiran, James!" Perintah nya dengan kesal.

"Selamat menahan rasa cemburu, karena kebodohanmu sendiri, Daren." Ledek Ares, ia keluar dari mobil milik Daren, sambil membawa tongkat Baseball miliknya. Ya, hari ini Ares ada latihan sampai sore.

"Bajingan!!" Umpat Daren kesal.

***

Kevin menghentikan langkahnya, saat melihat Carolina memasuki ruang kepala sekolah. Ada urusan apa dia kesana, bukankah wanita itu bilang pada Kevin sudah kembali ke Apartemen.

Kevin bisa melihat, sebelum memasuki ruangan itu, Carolina menoleh pada sekitar, setelah wanita itu merasa aman ia masuk ke dalam yang pintunya secara otomatis tertutup kembali.

"Kenapa, dia berbohong." Gumam Kevin kesal. Ia melangkah mendekati ruangan kepala sekolah. Ia bisa mendengar jika kepala sekolah AHS itu memarahi Carolina, dan, mengatakan wanita itu sangat bodoh.

The VillainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang