***
"Bagus tidak?" Tanya Rania. Ia sudah berputar menunjukan kemewahan gaun berwarna maroon yang saat ini sedang ia kenakan.
"Kamu terlihat cantik, Ran." Puji Ansara.
Ya, hari ini mereka ada di salah satu butik ternama, yang hanya melayani kalangan atas. Ansara mengajak ketiga temannya, karena gadis kecil itu akan merasa bosan, jika harus memilih gaun untuk pesta nanti malam sendirian.
"An, lo mau pakai yang mana?" Tanya Jingga si gadis berkacamata.
"Hitam, di sebelah sana." Tunjuk Ansara pada gaun hitam yang tergantung indah di dalam etalase.
"Sangat indah, itu adalah salah satu gaun limited rancangan desainer Amerika." Ucap Jingga kagum. Gaun yang terlihat sederhana namun terlihat mahal dan berkelas tentunya. Sangat cocok untuk seseorang yang lembut dan memiliki pesona yang memikat seperti Ansara Mahatma.
"Tahun ini, pasti akan lebih meriah dari tahun sebelumnya." Ucap Rania, gadis itu menopang dagu dengan kedua tangannya.
"Tentu saja," sahut Bianca. Gadis itu baru keluar dari ruang ganti, setelah berhasil menemukan gaun yang cocok untuk dirinya.
"Terimakasih, untuk traktiran mewah ini ya, An." Ujar Jingga, gadis itu terlihat cantik saat tidak menggunakan kacamatanya.
"Tidak masalah, ini semua Kak Daren yang memfasilitasi. Aku hanya pelantaranya saja," jawab Ansara.
"Apapun yang dimiliki kak Daren, adalah milik lo juga pastinya" ledek Rania.
"Kamu bisa aja, Ran."
"Jadi gimana, udah dapat gaun yang sesuai dengan selera kalian?" Ansara berdiri, dia melangkah untuk melihat detail dari gaun pilihannya.
"Sudah," ucap mereka serempak. Ansara mengangguk lalu tersenyum tipis.
***
Carolina menunduk dia benar benar takut saat ini, bahkan kedua kakinya terasa bergetar karena berdiri di hadapan kepala sekolah AHS dan pria paruh baya yang merupakan orang tua dari Kevin Adtmaja.
"Bagaimana bisa, AHS mempekerjakan wanita yang menjalin hubungan dengan muridnya sendiri?" Sindir Pandu Adtmaja, pria itu menghisap cerutu yang berada di sudut bibir bagian kanan.
Carolina hanya diam, wanita itu bahkan meremas kuat kedua tangannya.
"Kau malu?" Tanya Pandu. Ia berdiri dan memutari tubuh Carolina, meneliti setiap inchi-nya lalu tertawa dengan keras.
Sedangkan wanita yang menjabat sebagai kepala sekolah itu, hanya diam tak mau ikut campur. Karena Jabatannya lebih penting daripada harus membela hidup wanita miskin seperti Carolina.
"Sudah berapa lama?"
"Putra-ku meniduri tubuhmu?" Sambungnya kembali.
Ya, akhirnya bulir bening yang ia tahan mati matian itu, jatuh dengan derasnya, membasahi pipi tirus Carolina. Penghinaan yang diberikan Pandu Adtmaja, sangat melukai harga dirinya saat ini.
"Selain miskin, kau memang berbakat menjadi seorang jalang!" Hardik Pandu, menekan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
"Jauhi Kevin! Atau kau mungkin lebih suka aku membunuhnya?"
Carolina mendongak, ia cukup terkejut mendengar ucapan yang keluar dari pria paruh baya itu. Bagaimana bisa ada manusia gila seperti ayah Kevin di bumi ini.
"Aku lebih baik kehilangannya, daripada harus menanggung malu, akibat perbuatan bodohnya!" Tambahnya kembali.
"Aku akan jauhi Kevin," ucap Carolina pasrah.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
Roman d'amourHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
