Have fun ya
•••
Pukul 07.00 pagi, seperti semalam Fathir dan Ailee kembali keruangan Fazlan. Karena Fazlan yang belum bisa pulang, jadilah mereka harus lebih sering datang untuk memeriksa bagaimana perkembangan kondisinya.
Fathir merupakan dokter pribadi keluarga Bagaskara. "Selamat pagi tuan muda. " sapa Fathir seraya tersenyum, dibelakangnya ada Ailee dan satu orang lagi yang tidak Fazlan tahu.
Fazlan tidak menjawab karena sibuk memakan buah dengan kaki yang ia lipat. Melihat itu Fathir langsung panik dan langsung meluruskan kaki Fazlan.
"Tuan muda, tulang kaki anda belum sepenuhnya sembuh. Jangan di patahkan dulu, nanti semakin parah. " ucap Fathir yang hanya dianggap angin lalu oleh Fazlan.
"Bagaimana keadaan tuan muda ketiga, Fathir? " tanya pria itu dengan menatap fokus pada Fazlan. Dia bodyguard yang di utus Bagaskara untuk melihat perkembangan kondisi Fazlan.
Fathir menoleh dan mengangguk. "Keadaannya sudah lebih membaik, dan tidak ada luka lain selain tulang kakinya yang masih agak bermasalah. " jawabnya.
"Kapan dia bisa pulang? "
"Satu minggu atau dua minggu lagi. "
"Kata tuan Bagaskara, sembuh atau tidak tuan muda Arnata harus pulang. "
Fathir menghela nafas, sedikit terkejut dengan perkataan Antonio. "Bagaimana bisa tuan Bagaskara berbicara seperti itu? Sedangkan kaki tuan muda belum membaik, jika dipaksa berjalan takutnya akan semkin parah. " Fathir langsung menolak, dirinya akan berusaha menahan Antonio agar tidak membawa Fazlan.
"Turuti jika anda masih ingin bekerja dengan tuan Bagaskara. " Antonio hanya memberi ancaman, lalu pergi dari sana.
"Sudahlah menurut saja. Kaki saya juga sudah membaik."
Fathir langsung menatap Fazlan. "Tidak bisa tuan muda, anda masih harus berada disini. " ucap Fathir, benar-benar tidak berdaya.
"Tapi saya mau pulang. "
Fathir dan Ailee menahan nafas, merasa sesak dengan tekanan yang Fazlan berikan kepada mereka. Tatapan mata Fazlan sangat tajam, walau terlihat sedikit lemah.
Pada akhirnya Fathir menyetujuinya. Ia hanya seorang dokter, bukan pihak keluarga Fazlan yang bisa sesuka hati melarang. "Baiklah, sore ini anda sudah boleh pulang. Tapi diharapkan tuan muda tidak berkegiatan dulu, setidaknya sampai kaki anda sembuh. " setuju pria itu, lelah.
"Permisi, tuan muda. " Fathir keluar bersama Ailee yang kerap mengikutinya.
Dan sepeninggal keduanya, Fazlan menatap kosong luar jendela. Ingatannya berputar pada kejadian semalam.
"Oh? Tempat apa ini? Terlalu sunyi, " Fazlan berjalan dengan memperhatikan sekelilingnya yang begitu asing, dan bernuansa gelap—tidak ada kehidupan.
"Apa saya mati dua kali? Tidak mungkin, lagipula saya hanya tidur sebentar tadi. "
Sibuk dengan pikiran nya, Fazlan sampai tidak sadar jika dia sudah terlalu jauh dari tempatnya tadi.
"Eh, ada danau... " sesaat dirinya sadar, Fazlan melihat ada danau yang sedikit jauh darinya, yang airnya berwarna hitam pekat.
"Em.... Fazlan Alsace Gyanendra ya? "
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]
Novela Juvenil[ERA BROMANCE AND BROTHERSHIP! NOT BL/HOMO!!] Bagaimana jadinya jika pemuda Office Boy ber-transmigrasi kedalam novel dan menempati raga seorang remaja SMA yang berperan sebagai antagonis? ••• 📍Cerita hasil otak yang gabut mikir. 📍No plagiat! 📍...
![𝐅 𝐀 𝐙 𝐋 𝐀 𝐍 : 𝐓𝐫𝐚𝐧𝐬𝐦𝐢𝐠𝐫𝐚𝐬𝐢 𝐎𝐟𝐟𝐢𝐜𝐞 𝐁𝐨𝐲 [Revision]](https://img.wattpad.com/cover/373851541-64-k493255.jpg)