***
Ansara berlari dengan Rocket dan Molly di pinggir pantai, dua anjing berbeda jenis kelamin itu merupakan hadiah ulang tahun yang diberikan oleh Daren. Anjing poodle itu memang hadiah yang diinginkan Ansara sejak gadis itu berulang tahun ke 10. Namun, saat itu Ansara belum begitu mengerti bagaimana cara merawatnya dengan baik. Maka, Daren baru mengabulkan keinginan sang kekasih saat Ansara berusia 15 di tahun kemarin.
Daren mengikuti langkah Ansara, cowok itu sibuk dengan kegiatannya. Yaitu, merekam seluruh aktivitas Ansara hari ini. Saat ini, mereka sedang berada di Pantai, sesuai keinginan Ansara. Melepaskan penat dari segala masalah yang muncul bertubi-tubi belakangan ini.
"Molly, kemari!" Panggil Ansara. Anjing poodle berwarna putih itu berlari dengan gesit, kedalam pelukan Ansara.
"Pintar sekali, anak perempuan kak Daren." Bisik Ansara pelan pada Molly. Gadis berbandana merah muda itu tertawa kecil.
Daren hanya mengeleng pelan, melihat ucapan yang dilontarkan Ansara pada anjing poodle putih itu.
"Mau es krim?" Tawar Daren. Cowok itu memajukan kamera, untuk menyorot wajah Ansara yang disinari cahaya senja.
Ansara mengangguk, "mau, Kak!" Jawab Ansara senang.
Daren tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Ansara. Gadis kecil itu mengambil tangan Daren menggengamnya erat sama seperti yang dilakukan Daren. Berjalan secara berdampingan menyisiri tepian pantai, ditemani Molly dan Rocket serta cahaya senja yang indah dan hangat.
"Buka mulutnya!" Perintah Ansara. Gadis kecil itu sudah melayangkan sendok seperti sebuah pesawat. Saat Daren membuka sedikit kedua bibirnya, Ansara menjahili sang kekasih, dengan memutar balik sendok yang ia pegang kearah dirinya.
"Hm, enak sekali, Kak." Ucap Ansara. Setelah mencoba rasa es krim Vanilla kesukaannya.
Daren mengacak pelan surai Ansara, "kau sangat jahil, sayang." Ujar Daren. Ia kembali memegang kamera, untuk merekam aktivitas Ansara. Karena jika Daren merindukan gadis kecilnya, ia bisa mengobati sedikit rasa rindu itu dengan video Ansara.
"Jangan direkam, jelek tahu, Kak!" Ansara mencoba menggapai kamera hitam milik Daren.
"Tidak! Ansara Mahatma sangat cantik."
Daren mengangkat kedua tangan, menjauhkan kamera miliknya dari jangkauan tangan kecil Ansara.
"Tidak bisa, kau masih kecil, sayang." Ucap Daren menjahili sang kekasih. Ia berjalan mundur menjauhi Ansara.
"Awas ya, kalau dapat. An, akan hapus video yang jelek!" Kesalnya. Ia berlari kearah Daren.
Daren menjatuhkan diri pada sofa panjang, ia masih menyimpan kamernya, agar tidak diambil Ansara.
"Jangan dihapus, sayang. Ini adalah obat rindu untuk kakak." Ujar Daren. Cowok itu merebahkan diri, sambil menggeser layar di kamera melihat seluruh foto maupun video milik Ansara.
"Kemari, dan lihatlah, kau sangat cantik sekali, sayang." Kata Daren.
Ansara melangkah, ia merebahkan kepalanya diatas dada bidang milik Daren.
"Coba An, lihat." Ansara memegang benda itu, mulai menggeser setiap potret dan momen yang diabadikan oleh Daren.
"Kakak, kau bahkan menyimpan foto ini." Teriak Ansara kesal.
Ya, foto saat Ansara berusia enam tahun. Wajah dengan noda cokelat, jepit rambut yang sudah tidak di posisinya, dan airmata yang menggenang di pelupuk mata.
"Kenapa?" Daren menyerit bingung.
"Ini jelek sekali, kak!" Rengek Ansara. Ia memanyunkan bibir sebal.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
