.
.
Mereka hanya pion-pion Allah.
Sama seperti kita.
.
.
***
"Adli!" panggil Yunan sambil setengah berlari mengejar Adli yang langkahnya panjang-panjang lantaran kakinya jenjang.
Yang dipanggil tidak memperlambat langkahnya, lurus mengarah ke pintu kamarnya, sehingga Yunan terpaksa berlari untuk menyamakan langkah.
Prama yang tadinya hendak menyapa tuannya, langsung urung begitu melihat suramnya wajah Adli. Dan karena Prama tadi sempat menonton siaran langsung sidang, tentunya dia paham alasan suasana hati Adli sangat buruk saat ini.
"Adli!" panggil Yunan sekali lagi, sembari menepuk pundak Adli dan membujuk Adli agar menoleh ke belakang menatap dirinya.
Mata Adli yang penuh amarah, kini tertuju ke netra Yunan. Yunan seolah sedang berhadapan dengan Yoga Pratama. Dulu tiap kali emosi Yoga terpancing, seperti inilah sorot matanya.
"Tenanglah, Adli. Memang dia seperti itu karakternya. Itu memang perannya. Kita jangan terpancing," kata Yunan. Yang dimaksud Yunan adalah Theo Hayden. Siapa lagi? Manusia yang berpotensi menyabet gelar manusia paling menyebalkan di muka bumi.
Bibir Adli gemetar sebelum berkata, "klien orang itu membunuh Kak Ilyasa, lalu karena kematian Kak Ilyasa yang mendadak, Ayah kena stroke sebelum wafat."
Air muka Yunan berubah. Rupanya bukan hanya Raesha dan Erika yang berat perjuangannya untuk melanjutkan hidup selepas ditinggal orang terkasih bersamaan. Tapi Adli juga -- padahal Adli terlihat tegar-tegar saja selama ini, menggantikan posisi Yoga di kantor dan di rumah. Mungkinkah sebenarnya Adli menyimpan dendam pada Sobri yang dianggap Adli sebagai penyebab kematian ayahnya?
"Lalu pembunuh itu nyaris memperkosa Kak Raesha. Peristiwa itu sebenarnya mengoyak harga diriku sebagai penerus Ayah. Menurut Kakak, apa reaksi Ayah seandainya masih hidup dan tahu putrinya nyaris diperkosa oleh orang bejat itu?" lanjut Adli dengan suara lebih lantang. Kini rasa sakit nampak di sorot mata Adli.
Prama buru-buru menjauh meninggalkan kedua pria itu. Dia lebih memilih ke ruang servis ketimbang menguping drama keluarga Danadyaksa.
"Walaupun Kak Raesha bukan putri kandung Ayah, tapi Ayah sudah menganggapnya putri kandungnya sendiri. Seandainya malam itu Kak Raesha benar-benar di -- a-aku tidak tahu mau ditaruh di mana mukaku di hadapan Ayah, nanti kalau aku bertemu Ayah di alam sana -- aku harus bilang apa pada Ayah?? Bahwa aku sudah gagal menjaga keluargaku sendiri? Gagal menjadi pengganti posisi Ayah?" jerit Adli terdengar setengah histeris. Basah mulai mengambang di pelupuk mata. Ia berusaha menutupi mukanya yang terasa panas akibat luapan emosi.
"Kakak ngerti, Adli. Kita semua ngerasain itu. Kakak juga -- makanya, malam itu --," ucap Yunan dengan suara lirih sebelum netranya berkaca-kaca. Adli terdiam. Benar. Bagaimana reaksi dirinya terhadap musibah malam itu ketika Raesha nyaris dinodai, bisa dibandingkan dengan reaksi Kak Yunan? Kak Yunan pastinya lebih tidak terima lagi jika Raesha sampai dibegitukan.
Adli menghela napas lelah sembari mengusap wajah. Ia menggeleng pelan. "Dan laki-laki itu malah bisa-bisanya memutarbalikkan fakta seolah kliennya terzalimi dan kita penjahatnya. Rasanya aku --," kata Adli dengan muatan emosi pada nada suaranya, mata memicing dan tangan mengepal. Ingin rasanya meninju muka pengacara menyebalkan itu. Dia dan penjahat yang dibelanya.
Yunan bisa melihat kertas yang perlahan menghitam dilahap api, pengelihatan batinnya saat melihat Adli.
"Sabar, Adli. Mereka hanya pion-pion Allah. Sama seperti kita. Yang mereka lakukan memang tidak baik. Membenci perbuatannya boleh, tapi kita jangan membenci orangnya," Yunan mengatakannya dengan lembut, seraya menyentuh pundak Adli.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANXI EXTENDED 2 (HIATUS)
SpiritualSemua berubah semenjak Ilyasa wafat. Yunan jadi lebih dekat dengan Raesha, jandanya Ilyasa, sekaligus adik angkatnya sendiri. Plus, Yunan jadi lebih akrab dengan Ismail dan Ishaq, kedua putra Raesha. Arisa sebagai istri Yunan, dibuat galau dengan p...
