.
.
"Seperti sudah saya katakan tadi, kesaksian anda sangat diperlukan. Sangat."
.
.
***
Theo duduk sendirian di meja kafe, mengaduk minuman es kapucino. Batu-batu es nampak berputar di dalam gelas kaca. Dari tempat duduknya, melalui jendela kaca, Theo bisa melihat ke arah parkiran. Seorang pria yang ditunggunya, rupanya sudah tiba. Baru saja turun dari kendaraan hatchback hitam. Pria itu adalah staf pengajar di sebuah madrasah yang lokasinya tak jauh dari kafe ini. Saat Theo meminta ketemuan untuk membicarakan sesuatu yang penting, pria itu lebih suka bicara di jam istirahat siang saja, ketimbang menyita waktu malamnya bersama keluarga di rumah.
Theo memberi isyarat tangan, saat pria berambut keriting dan berkulit langsat itu memasuki pintu depan kafe. Dengan campuran ekspresi senyum formal dan was-was, pria itu duduk di hadapan Theo. Keduanya berjabat tangan, meski Theo sudah berkenalan dengannya melalui sambungan telepon.
"Maaf, saya tidak bisa terlalu lama di sini. Ada jam ngajar lagi setelah ini," kata pria itu dengan senyum kaku. Entah mengapa, berada di dekat Theo membuatnya gugup.
"Oke jangan khawatir. Ini tidak akan lama," sahut Theo dengan senyum seringai di bibirnya.
"Baiklah. Emm ... sebenarnya saya kurang paham, kesaksian apa yang perlu saya sampaikan di pengadilan nanti? Karena saya tidak terkait sama sekali dengan kasus yang menimpa Ustadzah Raesha dan keluarganya. Saya memang kenal dengan kakaknya, tapi --," tanya pria itu sambil sesekali melirik ke sekeliling. Beberapa orang nampak curi-curi pandang ke arah mereka berdua. Tentu saja. Theo adalah seorang pengacara terkenal. Dia makin terkenal sekarang karena membela pembunuh almarhum Ustaz Ilyasa sekaligus pelaku kejahatan kriminal yang melecehkan Ustadzah Raesha.
"Tenang. Akan saya jelaskan. Sebelumnya, saya ada beberapa pertanyaan untuk anda," jawab Theo sambil membuka buku agendanya.
"Oh? Tentu. Akan saya jawab jika memang saya tahu."
Keduanya terlibat tanya jawab. Pria itu nampak kebingungan dengan pertanyaan Theo.
"Maaf, saya sungguh tidak mengerti. Apa kaitan antara pertanyaan ini dengan kasus yang anda tangani?"
"Tolong dijawab saja dengan jujur. Saya hanya sedang mengumpulkan data saja."
Pria itu akhirnya manut menjawab satu per satu pertanyaan. Anehnya jawabannya entah bagaimana membuat mata Theo berbinar-binar, seperti bocah yang baru saja mendapat mainan baru.
"Oke! Sempurna! Sempurna sekali! Nanti anda tinggal hadir ke ruang sidang dan menjawab pertanyaan saya, persis seperti yang anda lakukan barusan. Ini kartu nama saya," kata Theo sembari menyodorkan selembar kartu nama.
Kartu nama Theo diterima oleh lawan bicaranya. "O-Oh. Baik. Eh ... anu. Saya masih bingung sebenarnya. Apa iya pengadilan memerlukan kesaksian saya? Sepertinya tak ada hubungannya dengan kasus Ustadzah Raesha," pria itu menggaruk pipinya meski tak gatal. Ia benar-benar heran, bagaimana bisa kesaksiannya yang tidak ada sangkut pautnya dengan kasus Ustadzah Raesha, diperlukan oleh pengadilan? Sungguh membingungkan.
"Seperti sudah saya katakan tadi, kesaksian anda sangat diperlukan. Sangat," ulang Theo dengan senyum puas.
"Eh ... kesaksian saya ini, bukan untuk memberatkan siapapun di keluarga mereka 'kan?" tanya pria itu lagi, dengan nada cemas pada suaranya.
"Bukan. Tentu bukan," jawab Theo sebelum kembali menyunggingkan senyum.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANXI EXTENDED 2 (HIATUS)
DuchoweSemua berubah semenjak Ilyasa wafat. Yunan jadi lebih dekat dengan Raesha, jandanya Ilyasa, sekaligus adik angkatnya sendiri. Plus, Yunan jadi lebih akrab dengan Ismail dan Ishaq, kedua putra Raesha. Arisa sebagai istri Yunan, dibuat galau dengan p...
