****
AHS pagi ini begitu riuh, murid yang baru saja datang dan memasuki lobby dibuat menyerit heran akan banyaknya petugas kepolisian yang sedang berbincang dengan kepala sekolah serta ada Khazama yang sudah diamankan menggunakan borgol.
Semua murid yang ada disana langsung membuka ponsel masing-masing saat mendengar ada notifikasi masuk. Mereka menganga tak percaya atas video yang saat ini mereka saksikan. Dimana ada Khazama yang sedang melakukan transaksi jual beli obat-obatan dan video penjualan beberapa murid perempuan AHS saat sedang membersihkan diri atau berganti pakaian.
"ANJINGGGG!!"
"SIALAN NIH ORANG!"
"HUKUM MATI AJA GAK SIH!"
"SEUMUR HIDUP AJA DIPENJARA! ORTU GUE BAKALAN SEWA PENGACARA HEBAT!"
itulah beberapa umpatan murid perempuan AHS, setelah selesai menyaksikan bukti dari kejahatan yang dilakukan Khazama. Dan, yang lebih parah lagi, dia adalah bandar dari obat yang dijual Ilham.
Khazama mengedarkan pandangannya, ia mendongak keatas. Disana ada Empat Pilar sedang menatap dengan penuh ejekan. Menunjukan pada Khazama, bahwa laki-laki itu bukan lawan yang sepadan dengan mereka.
Khazama mengepal kuat tangannya, yang sudah di borgol saat ini. Ia bisa melihat dengan jelas seringai tipis dari Daren. Sudah dipastikan jika rekaman kamera pocketnya selama ini berada ditangan Daren. Dan, gadis berkacamata yang membeli obat dengannya pasti suruhan dari Daren, itulah pikir Khazama mencoba menerka, selama ini ia selalu melakukannya dengan rapih. Dia mengumpulkan semua uang itu, untuk pergi dari Rome membawa sang ibu. Maka dari itu Khazama memilih jalan pintas dan cepat dengan cara ilegal seperti itu.
"Gue akan balas lo, Daren!" Umpat Khazama. Daren hanya menyunggingkan salah satu bibirnya.
Khazama mencoba memberontak, saat petugas kepolisian membawanya untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut atas perbuatan kejahatan yang ia lakukan.
"Vin, beritahu kepala sekolah. Untuk melakukan tes urine pada seluruh siswa maupun siswi AHS. Buang yang terindikasi menggunakan obat-obatan terlarang, buat mereka tidak bisa diterima di sekolah manapun di Negeri ini." Titah Daren. Ia akan membersihkan hama yang membuat citra sekolah keluarga-nya hancur. Membuang beberapa hama tidak akan merugikan untuk keluarga Aldrich, akan lebih banyak lagi anak-anak petinggi yang mengantri untuk masuk ke AHS.
Kevin mengangguk paham, " besok siang, kau sudah mendapatkan hasilnya, Ren." Balas Kevin.
Daren berjalan meninggalkan ketiga sahabatnya. Ia merogoh saku blazer-nya untuk menghubungi Ansara. Padahal hari masih pagi, tapi, Daren merasa sangat lelah. Ia butuh pelukan nyaman yang hanya ada pada tangan kecil nan lembut milik Ansara.
***
Rome melempar dengan kasara ponsel miliknya. Setelah mendapat kabar dari assisten pribadinya tentang penangkapan Khazama di sekolah. Masalah kemarin belum menemukan jawabannya, kini anak laki-laki harapannya membuat masalah besar lagi. Rome tidak mungkin menunjukan diri di depan media sebagai ayah kandung dari Khazama, ini akan semakin membuat citranya semakin memburuk.
"BEDEEBAHHH!!" Amuk Rome. Ia menghempas seluruh barang yang ada di meja kerja.
"Kenapa, aku memiliki anak-anak yang tidak bisa diandalkan!" Umpatnya kesal.
"Daren! Ya, pemuda itu harus membantuku menemukan siapa yang mengancamku selama ini. Hanya dia, yang bisa aku andalkan saat ini." Gumam Rome.
Tadi pagi, ia kembali mendapatkan paket berisi bukti bahwa dia adalah pelaku utama penembakan yang hampir membunuh Daren beberapa bulan yang lalu. Sebelum Daren mengetahui bahwa Rome adalah pelakunya, ia harus meminta pada laki-laki itu untuk membantunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Villain
RomansaHugo Darendra Aldrich, hanya tahu, Dunia itu indah, jika ada Ansara Mahatma.
