Hancurnya keluarga Rome

26 0 0
                                        

****

Ares yang baru memasuki ruangan khusus Empat pilar, menyatukan kedua alisnya. Mengapa ruangan ini terasa menyeramkan hingga Ares bergidik lalu mengusap belakang lehernya pelan.

Dihadapannya saat ini, ada Daren dan Louise yang duduk berseberangan. Louise dengan tatapan tajam serta Daren dengan tatapan biasanya yaitu datar.

"Gue gak ganggu, lanjut aja." Ujar Ares. Ia berjalan kearah kulkas yang ada dibelakang sofa yang diduduki oleh kedua sahabatnya.

"Kau, memindahkan seluruh saham milik keluarga Adiwiguna keluar negeri?" Tanya Louise sambil membuka bungkus permen karet dengan varian rasa strawberry, memasukan kedalam rongga mulutnya lalu mengunyahnya pelan.

"Hm, kenapa? Aku bahkan menggantikan keluargamu sebagai penanam modal utama. Bukankah ini kemauanmu?" Jawab Daren santai. Ia mematik api untuk memghidup rokok yang ada disela jarinya.

"Tidak perlu gunakan cincin itu lagi," sindir Daren.

"Kau dan Tasya, bukan sepasang tunangan lagi saat ini." Sambungnya lagi, ia menyeringai tipis, menghisap rokoknya dengan pelan lalu menghembuskan asapnya membentuk bulatan.

Louise menggebrak meja, membuat Ares terkejut hingga memuntahkan minumannya keluar.

"Kau keterlaluan, Ren!" Seru Louise kesal.

"Tidak lebih darimu tentunya," balas Daren. Ia menyenderkan punggungnya pada sofa.

"Kau terlalu egois, untuk hidup sebagai laki-laki." Ucap Daren kembali dengan pelan namun cukup menyentil perasaan Louise.

"Lou, terkadang kita akan merasa kehilangan saat dia tidak ada lagi." Ujar Ares. Ia melemparkan sekaleng minuman pada Daren, yang ditangkap laki-laki itu dengan baik.

"Hiduplah yang baik dengan pilihanmu, lepaskan yang bukan menjadi tujuanmu." Seru Daren. Entahlah, saat ini Daren sudah merasa cukup banyak mengeluarkan kata dari mulutnya untuk Louise.

"Dua hari yang lalu, seluruh keluarga Adiwiguna sudah pindah keluar Negeri. Dan, kemungkinan besar tidak akan kembali lagi." Beritahu Daren. Ia menekan rokok miliknya pada asbak berwarna cokelat. Lalu menatap Louise dengan seringai tipis yang sangat menyebalkan di mata Louise saat ini.

Louise berdiri, ia menunjuk Daren. "Sialan kau, Daren!" Umpat Louise. Ia segera mengambil kunci mobilnya dan berlalu meninggalkan Daren serta Ares yang hanya duduk dengan santai di tempatnya.

"Benar ucapan lo?" Tanya Ares kembali.

Daren membuka minuman kaleng ditangannya, meneguknya dengan pelan. "Iya, aku tidak suka bercanda." Jawab Daren.

"Apa Louise akan merasa kehilangan?" Gumam Ares pelan.

"Tidak tahu," sahut Daren. Ia tidak mengalihkan pandangannya pada undangan dari pihak pemerintah untuk acara amal tahunan. Ia menyeringai tipis rencananya untuk menghancurkan Rome akan terlaksana nanti malam.

***

Ansara dan Karina sedang menikmati waktu sore mereka dengan membaca Majalah dan Novel, kedua wanita yang merupakan ibu dan anak itu, memiliki hobby yang sama yaitu melukis dan membaca.

Ansara menutup Novel yang ada ditangannya, memandang sang ibu, yang sedang fokus pada Majalah di tangannya. "Mom, apa kau menyayangiku?" Tanya Ansara. Ia menopang dagu dengan kedua tangannya, menatap sang ibu dengan senyum manisnya.

Karina menurunkan majalahnya, ia menatap Ansara dengan lembut. "Adik, tidak ada di Dunia ini, ibu yang tidak mencintainya putrinya." Jawab Karina. Ia menaruh Majalah diatas meja, lalu mengelus pelan Surai hitam Ansara.

The VillainTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang