Freya Saka Alveria, cowok paling tua dan satu-satunya dari tujuh bersaudara, hidupnya udah kayak sinetron tanpa iklan. Bayangin aja, tinggal di gudang tua, adik-adiknya absurd semua kayak karakter bocor dari anime, dan sekarang... ibunya hamil lagi...
Tadinya Freya merasa senang karena ada orang yang menawarkan pekerjaan dengan upah tinggi. Tapi setelah melihat tempat yang ada di depannya, wajah Freya langsung datar. Tanpa pikir panjang, ia berbalik pergi. "Permisi," ucap Freya sambil melangkah mundur perlahan.
"Hei, tunggu dulu!" Pria itu berusaha menahannya. "Kenapa? Katanya tadi kau berminat?"
Mikir dong, bego! Masa gue jual diri? Dikiranya gue cowok apaan?! batin Freya. "Tapi bukan yang kayak gini..." ucap Freya gelisah. Ia mencoba kabur, tapi pria itu malah menarik bajunya.
"Tenang saja. Klub kami khusus untuk perempuan. Dan kami mainnya halus, kok," ujar si pria.
Freya makin kencang melangkah mundur.
"Kami nggak kasar, serius," pria itu terus nyerocos.
Eh, anak komodo! Main kasar apaan maksud lo?! Freya ingin teriak tapi tertahan.
"Honornya 300 ribu per jam. Bisa lebih, tergantung performamu. Semua tip untukmu," bujuk si pria.
Mendengar angka itu, mata Freya berubah menjadi simbol rupiah. Telinganya seperti parabola ketika menangkap sinyal. Mata duitan, nih anak.
"Kalau kamu rajin datang, sebulan bisa 100 juta, loh," lanjut si pria.
100 juta. Se-BU-lan. Orang goblok mana yang nolak?! batin Freya penuh dilema.
"Tapi sayang sekali, kalau kamu nggak mau..." Si pria mulai jalan mundur. Padahal itu cuma trik pancingan. Dia tahu Freya bakal nyangkut.
"Ka-kalau seminggu aja, boleh nggak?" tanya Freya sambil nyengir kaku.
"Seminggu? Yaelah, mana cukup!"
"Seminggu cukup," jawab Freya lemas. Rasanya mau meledak. Frey, hidup lo nyedih banget sih. Ganteng doang, nasib kucel.
"Oke, sepakat!" seru pria itu girang. "Ayo kita ke klub! Go! go! go!"
Pelan-pelan, anjing! Kalau nggak butuh duit, udah gue jegal dari tadi! Freya mencak-mencak dalam hati.
Sampai di dalam club, Freya bengong. Laki-laki di dalam klub itu semua cosplay. Ada yang memakai seragam dokter, lengkap dengan stetoskop. Ada yang mirip tentara beneran, bawa senapan. Freya ngeri, nggak tahu itu mainan atau asli.
"Silakan masuk," kata laki-laki berkostum dokter.
"Wah, Bos!" sapa laki-laki tentara.
"Saya dapet anak baru, loh," kata pria yang membawa Freya.
"Lucu juga," kata cowok gondrong telanjang dada sambil gendong boneka monyet. Serem tapi lucu.
"Ayo, Freya. Masuk saja," perintah si Bos.
"Ini Alfreya. Panggil saja Freya. Dia anak baru. Baru pertama kali kerja begini, tolong ajarin, ya," ucap Bos.
"Tolong ajarkan saya," kata Freya menunduk hormat. Rasanya pengen nangis. Ini tempat apaan sih?! Cowok semua kayak tulang lunak!
"Nggak usah khawatir, nanti juga terbiasa," kata si gondrong.
"Kalau udah biasa malah nagih," sambung satpam nyengir.
"Ceetah juga, ajar kan ya?" tanya si gondrong ke boneka monyetnya.
Syukurlah, ternyata nggak seaneh yang gue bayangin, pikir Freya lega setengah hati.
"Pakai kostum apa ya?" gumam Bos.
"Itu saja, yang baru itu," celetuk anak buahnya.
"Oh, iya! Bener juga," Bos setuju.
Sementara mereka mengobrol, Freya melirik-lirik ke sekeliling klub. Petugasnya cowok semua. Tamu yang datang, perempuan semua. Gue kayak algojo di negeri penuh wanita, pikir Freya.
Matanya tertumbuk pada poster aturan dan harga.
Biaya: Rp900.000 Pajak: 25% Member all time: Diskon Rp200.000 Perhatian:
* Tangan jangan gentayangan * Hanya boleh menyentuh dari pusar ke atas * Dilarang kasar
Freya menelan ludah. Wah, ini kerjaan apa lomba tebak rasa? Diam-diam ia ingin kabur. Tapi si Bos muncul dan menyentuh pundaknya. "Maaf, sepertinya saya tidak bisa..." Freya terkekeh gugup.
"Kalau bisa dapet 5 tamu seminggu, gaji per jam naik 500 ribu. Kalau 10 tamu, naik sejuta, loh." Freya bengong.
Bos langsung menyodorkan setelan baju aneh. "Pakai ini."
"Apa ini?" tanya Freya curiga.
"Kau nggak tahu? Itu kostum Evangelion, Sinji!"
Sepengetahuan Freya, Sinji itu seperti petugas di Jepang. Kayaknya si Ashel pernah ngomongin ini... Tapi, serius gue jadi Sinji?!
"Kita jarang pakai itu, tapi sekarang Bos ikut campur. Mulai hari ini kamu jadi Sinji, ya," jelas salah satu anak buah.
Freya menatap baju itu dengan pasrah. Ketatnya nggak kira-kira. Ya Tuhan, gue udah nggak tahu harus sedih apa ketawa.
"Ini, baca dulu," si Bos menyodorkan empat buku tebal. "Lebih enak nonton filmnya dulu sih, tapi kamu pasti sibuk. Besok udah harus kerja. Oh, iya. Rambutnya tolong dipotong sedikit, ya."
Freya akhirnya masuk kedalam kamar mandi. Potong rambut, ganti baju, lalu berdiri depan cermin. "Seperti ini?" gumam Freya, menatap pantulan dirinya.
Semoga saja nggak ada yang kenal gue. Kalau ada cewek sekelas dateng, tamat sudah hidup gue.
--||--
Cast
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Alfreya Saka / Freya
Seorang siswa SMA Swasta Jakarta. Orangnya Tampan, nilainya bagus, Siswa serba bisa, Tapi... Satu kekurangannya, Ia sangat miskin. Kini di tengah kehidupannya yang sulit, Ibu Freya akan melahirkan anak lagi, Yang akan menjadi anggota baru keluarga Saka. Bagaimana nasib Freya? Apakah pekerjaan Yang dia geluti akan tetap menjadi rahasia, Atau ada orang yang tau?
***
Pembaca yang Menyukai Cerita Author, Atau yang ingin memberikan dukungan melalui Finansial, Bisa memberikan Dukungan melalui Link Saweria, Yang author Sematkan Di Profil.
Penulis Juga Butuh makan, Namun Author tidak memaksa Para reader, Ok!!
Dukungan bisa melalui Link Saweria : https://saweria.co/Ussa