"Dokter bagaimana keadaan adik saya?"
Mark langsung memberondong Dokter yang menangani Jeno dengan pertanyaan. Ia khawatir bukan main pada adik bungsunya itu.
"Adikmu, laki-laki spesial. Dia sedang mengandung saat ini, usia kandungannya 9 minggu. Makanan terakhir yang dia makan itu memberi efek buruk untuk kandungannya. Untung saja cepat dibawa kemari, jadi janinnya masih bisa selamat."
Bagai tersambar petir di siang bolong, Mark oleng dan akhirnya jatuh terduduk, syok bukan main. Adiknya benar-benar sedang hamil. Bahkan kandungannya baru disadari setelah 9 minggu berlalu.
"Jadi, gua bakal punya adik ya, haha ...." gumam Haechan menertawakan dirinya sendiri begitu miris. Sahabatnya sedang mengandung adiknya.
"Kalian bisa menjenguknya. Pasien sudah siuman, dan saya juga sudah memberitahu kondisinya pada pasien sendiri."
Dokter itu berlalu pergi meninggalkan 2 pemuda itu yang kini sedang di selimuti kesunyian dengan pikirannya masing-masing.
"Gua izin menemui Jeno duluan ya, Hyung?" Mark mengangguk pelan untuk menjawab pertanyaan Haechan.
"Jeno, hai."
Pemuda Gemini itu terlihat canggung menyapa sahabatnya yang sedang duduk melamun sambil menatap dinding rumah sakit. Jeno mengalihkan pandangannya, menatap Haechan yang datang mendekatinya sambil tersenyum tipis.
"Gimana keadaan lu, Jeno?" Haechan merutuki dirinya sendiri yang terlalu basa-basi.
"Selamat ya, Haechan. Gak akan lagi jadi anak tunggal. Seperti keinginan lu, lu bakal punya adik." Bukan jawaban ini yang ingin Haechan dengar. Bukan ini juga yang Haechan harapkan. Ia memang dari dulu ingin punya adik, namun bukan dengan cara seperti sekarang.
"Jeno, sorry."
Jeno menggelengkan kepalanya pelan, "Ini bukan salah lu, gak usah minta maaf. Gua juga udah tau endingnya bakal seperti ini. Gua baik-baik aja, Chan. Gak usah khawatir."
"Tetap aja gua merasa bersalah, Jeno."
Jeno memukul kecil dada Haechan, "Berhenti merasa bersalah, dan persiapkan diri lu punya Mommy baru kayak gua. Bakal sering gua bully sih di rumah nanti." katanya sedikit terkekeh kecil.
"Gugurkan aja, Jeno. Jangan paksa diri sendiri. Lu gak akan bahagia kalau nikah sama Daddy. Dia laki-laki mesum, bisa-bisa lu di entot terus sama Daddy." Entah keberanian darimana Haechan bisa mengucapkan kalimat itu pada Jeno. Bahkan merendahkan Daddy-nya sendiri hanya karena ia berpikir bisa menyelamatkan Jeno.
Jeno tertawa kecil, "Wajar kali bersetubuh kalau udah nikah. Palingan gua pingsan karena kecapekan doang, bawa santai aja, Chan."
"Haechan, tolong bilangin Mark Hyung, gua mau pulang sekarang."
| | |
"Daddy, Mommy, Jeno hamil 9 Minggu."
Sarapan pagi itu ditutup dengan kabar yang menurut pasangan suami istri itu kabar buruk. 9 Minggu artinya sudah lebih 2 bulan, dan berarti sudah membentuk janin bukan lagi segumpal daging.
"Om Johnny belum Jeno kasih tau." Jeno menunduk, ia gak sanggup melihat respon kedua orangtuanya. Sedih dan kecewa sudah pasti menyelimuti keluarga ini.
"Jeno, memangnya kamu siap menikah dengan Johnny?" tanya Taeyong lembut.
Jeno mendongakkan wajahnya, menatap Taeyong. Senyum tipis terukir di bibirnya, "Mom, di perut Jeno udah ada janin, tidak mungkin digugurkan. Jeno juga gak mau, anak ini hidup tanpa Ayahnya. Lagipula, om Johnny juga berhak atas anak ini. Siap atau gak siap, Jeno harus tetap menikah sama om Johnny."
"Ah sial, kenapa kau harus menikah dengan bajingan gila itu Jeno? Daddy akan carikan calon lain yang bisa menerima kamu." decak Jaehyun.
Jeno menggelengkan kepalanya cepat-cepat, "Daddy, Jeno mohon mengertilah. Ini juga gak mudah buat Jeno. Tapi, beginilah takdir Jeno yang harus Jeno ambil." Matanya berkaca-kaca, menatap Jaehyun penuh harap.
"Dad, kalau dia melukai Jeno, Mark akan membunuhnya detik itu juga. Jadi, kita biarkan saja Jeno memilih jalan hidupnya kali ini." ucap Mark. Wajahnya begitu datar, tanpa emosi.
Mendengar ucapan Mark, Jeno langsung menatap kakak tertuanya itu. Sejak kejadian 2 bulan yang lalu, sang kakak jadi tidak memiliki ekspresi sama sekali. Jeno tahu, sama seperti kedua orangtuanya, Mark juga sama hancurnya mendapati Jeno menjadi laki-laki lemah.
"Jeno, maafin Noona ya. Seharusnya, Noona lebih berusaha menggagalkan janin itu tumbuh di rahim kamu." sesal Yumi.
Jeno menggelengkan kepalanya pelan. Apa yang terjadi saat ini bukan kesalahan keluarganya sama sekali. Jadi, tidak ada yang perlu minta maaf atau di maafkan.
"Daddy, Mommy akan punya cucu sebentar lagi. Aku harap, anak ini bisa menjadi cahaya baru untuk kita, khususnya aku."
KAMU SEDANG MEMBACA
𝐘𝐨𝐮𝐧𝐠 𝐇𝐮𝐬𝐛𝐚𝐧𝐝 ✓
Fanfiction"I hate you, Daddy." - H. "It's not funny, Bro." - J. MPREG! BXB! BOYSLOVE! Start: Oct. 15, 2024 Finish: Oct. 31, 2024 Rank: #1 JohnJen (10-11-24)
