First Kiss (1)

1.1K 72 1
                                        

Setelah menyegarkan tubuhnya dengan berenang, dan juga mengisi perutnya dengan makanan lezat buatan pembantu di rumah Haechan. Kini keduanya berada di ruang televisi untuk bermain PS seperti yang ditawarkan Haechan di sekolah tadi.

Jeno hanya memakai tanktop sleeveless warna putih dengan celana pendek warna abu-abu. Pakaian sehari-harinya ketika di rumah. Karena itu pakaian ternyaman walau di ruangan ber-AC.

"Bro Johnny, ayo main PS! Sudah lama kita tidak tanding

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bro Johnny, ayo main PS! Sudah lama kita tidak tanding. Aku pastikan, kali ini aku yang menang!" Haechan berseru dengan tiba-tiba ketika melihat Johnny turun dari lantai 2 sambil membawa mug yang sepertinya sudah kosong.

"Alcohol?" Bukannya menerima ajakan tanding putranya itu, Johnny dibuat terkejut karena melihat ada satu botol wiski yang menemani permainan 2 bocah SMA itu.

"Donghyuck, siapa yang mengizinkan kamu mengambil wiski saya?" tanyanya dengan suara rendah.

"Hyuck--, sudah ku bilang bukan, Daddy mu akan marah."

Johnny semakin terkejut ketika mendengar suara Jeno yang berubah, dengan wajah merah padam. Pemuda Taurus itu sudah dibawah pengaruh alkohol.

"Ayolah, Daddy. Ini hanya wiski. Lagipula kami di rumah, tak masalah jika mabuk."

"Donghyuck, temanmu sudah mabuk. Kau juga akan mabuk kalau minum satu gelas lagi. Jangan meminum wiski atau alkohol apapun tanpa izin saya." Johnny memperingatkan.

"Jeno tidak mabuk, Om. Hanya mengantuk!" jawab Jeno asal, tubuhnya mengambil posisi tengkurap lalu menenggelamkan wajahnya di atas tumpukan tangan.

"Pergi ke kamarmu, dan istirahat, Hyuck. Daddy akan membawa Jeno ke kamar tamu agar dia bisa istirahat lebih nyaman."

"Huh! Daddy tidak asik!"

Dengan bibir yang tidak berhenti mendumel, pemuda Gemini itu tetap menuruti perintah Johnny. Dia kembali ke kamarnya dengan langkah sempoyongan setengah sadar.

Johnny menatap Jeno lamban. Sahabat dari putranya, yang juga anak dari sahabatnya itu. Entah kenapa membangunkan sosok lain dalam dirinya yang sudah lama tertidur.

Bibirnya tersenyum smirk, "Menarik."

Johnny menggendong tubuh Jeno gaya bridalstyle dengan posisi tangan Jeno dikalungkan di lehernya. Hidungnya dapat menghirup aroma Gourmand yang manis melekat di tubuh putih bersih milik pemuda Taurus itu.

Dengan susah payah Johnny berhasil meletakkan Jeno di atas kasur.

"Don't go, please ...."

Baru saja Johnny berniat pergi, Jeno menarik tengkuknya membuat kedua wajah mereka semakin dekat. Mata hitam legamnya menatap intens bibir tipis dan mungil berwarna merah muda. Terlihat begitu menggoda untuk ia cicipi.

Perlahan, tangan Johnny menangkup pipi Jeno. Mulai mendekatkan bibir keduanya. Tanpa ragu, Johnny menempelkan bibirnya pada bibir ranum Jeno. Awalnya, hanya ditempelkan. Namun, karena merasa kurang puas. Johnny menggigit kecil bibir itu sampai sedikit terbuka. Lidahnya ia bawa untuk menyapu bersih rongga mulut Jeno.

Menyadari Jeno mulai kehabisan nafas, Johnny menghentikan aksinya. Bibirnya tersenyum puas, ibu jarinya membasuh sisa air liur di sekitar mulut Jeno.

"Sweet lips, I love it."

𝐘𝐨𝐮𝐧𝐠 𝐇𝐮𝐬𝐛𝐚𝐧𝐝 ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang