Cakra

6 2 1
                                    

  
Sinar matahari mengintip masuk dari celah tirai, memberi aba aba bahwa pagi sudah di mulai. Ini minggu terkahir di bulan Juli. Sesayup angin menerpa tirai menyapa pada Juli yang dua hari lagi akan berakhir. Ya, angin bulan Agustus sudah datang.

Ini masih tentang Hellen.

Dia menatap kalut ponselnya terpampang wajah dengan senyum hangat yang selalu ia damba, bahwa ia memang tulus memuji dan perasaan ini benar adanya. Dia serius bahkan dia seperti orang bodoh yang sudah membayangkan jauh jauh hari kedepannya mereka akan tetap bersama. Itu harapan wajar bukan?.

Siapa yang tidak menginginkan hidup bersama orang terkasih?.

Cakra tidak berlebihan namun Hellen benar benar berarti di hidupnya.

Namun kini semua terasa tidak nyata.

Remaja itu melempar asal ponselnya, menyembunyikan wajah di balik bantal yang ia sendiri tidak tau alasan bertindak demikian. Ia tidak bersemangat, ini hari sabtu dan sejak pagi ia tidak juga beranjak dari sana. Hanya membolak balikan diri, melempar bantal tidak jelas, atau menghidup dan mematikan layar ponsel. Mood cowo itu tidak ada.

Ada sejumput rasa kecewa yang tidak bisa di jelaskan, mengenai hal yang tidak enak di hatinya. Bagaimana bisa kenyataan lagi lagi berhasil membuatnya muak. Ini curang. Namun ia tidak kuasa akan hal ini, sebab apa yang terjadi di depannya memang tidak bisa di kontrol. Bahwa semuanya memang mengalir tanpa ingin membuatnya senang.

Terima saja. Itu suara putus asa dari dalam dirinya, terkadang ia merasa terlalu lelah untuk banyak hal. Untuk berargumen ia lebih memilih diam.

Namun ini tidak seperti dirinya. Kemana ambisi dan semangatnya untuk mempertahankan apa yang ia inginkan.

Akan tetapi dia bisa apa jika hal yang sangat ia damba justru memilih mengakhiri.

Tidak ada.

Dan hembusan nafas kasarnya menjadi jalan buntu.

•••

Malam datang, sapaan hangat dari bulan membelai wajah cantik gadis yang kini mengadah ke atas, sedikit memuja namun ia memang menyukai langit malam. Damai sekali baginya. Hellen duduk manis di bangku itu, di taman kota dekat rumahnya. Di pangkuannya ada novel yang masih terbungkus plastik, itu adalah novel yang tadi sempat membuat Cakra jengkel. Bagaimana tidak untuk membeli satu Hellen memakan waktu hampir satu jam untuk memilih satu dari sekian banyak buku yang ada. Hellen suka semua namun ia tidak sekemaruk itu.

Hellen terkekeh kecil mengingat wajah masam Cakra yang kini datang menghampiri dirinya, membawa cilok dan beberapa makanan lain. Ia gemas meski ada rasa tidak enak membuat Cakra menunggu tadi, tapi dia memang tipe orang yang berulangkali berpikir sebelum membeli sesuatu.

" Ngga usah ngeledek" ucapnya masih belum bombong.

" Sorry" ujar Hellen tulus.

Cakra tidak menanggapi lagi ketika melihat Hellen mulai teralih dengan makanan di hadapannya, Cakra tersenyum kecil. Ia ingin selalu bersama gadis ini. Sungguh berada di dekat Hellen memiliki arti yang berharga, sebab ia tidak lebih dari remaja berantakan yang beruntung memiliki Hellen.

Setidaknya untuk saat ini.

" Kenapa?" Tanya Hellen menatap heran, ia sadar sejak tadi Cakra menatap intens dirinya.

Cakra mengalihkan pandangan, mengambil asal bungkus cilok itu dan memakannya. Ia sedikit canggung ketahuan memperhatikan Hellen.

" Ada yang salah?" Sekali lagi Hellen memastikan, takut ada yang tidak pas di dirinya namun Cakra tidak merespon sibuk mengunyah cilok.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Sep 15, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

Cakra Van  MahendraTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang