keesokan harinya soobin melahirkan bayi secara normal, soobin menyusui bayi alpha nya "nama kamu taehyun iya" kata soobin tapi yeonjun datang dengan pengasuh ingin memisahkan bayi dari soobin seperti beomgyu sebelumnya
Yeonjun mengangguk singkat, tatapannya dingin saat menatap Soobin dan bayi yang baru lahir itu. "Bawa anak itu pergi," perintahnya kepada pengasuh itu. Hati Soobin hancur saat ia dipaksa menyerahkan bayinya, seperti yang pernah ia lakukan pada Beomgyu.
"Tidak, kumohon..." Soobin memohon, air mata mengalir di wajahnya. "Aku baru saja melahirkannya. Kumohon, biarkan aku menjaganya bersamaku..." Namun Yeonjun tidak tergerak oleh permohonannya. "Dia bukan milikmu," katanya dingin. "Dia milikku."
Pengasuh itu dengan hati-hati mengambil bayi itu dari pelukan Soobin, membungkusnya dengan selimut lembut. Soobin melihat tanpa daya saat mereka berjalan pergi, sambil menggendong bayi kesayangannya. Yeonjun melihat kejadian itu dengan acuh tak acuh, pikirannya sudah tertuju pada hal lain. "Kamu akan segera hamil lagi,"
katanya acuh tak acuh, menoleh kembali ke Soobin. "Benihku kuat, dan tubuhmu subur. Tidak akan butuh waktu lama." Soobin merasa mati rasa, hatinya hancur berkeping-keping. Dia telah kehilangan Beomgyun, dan sekarang dia juga telah kehilangan Taehyun.
Hari berganti minggu, Soobin merasa hampa, jiwa dan raganya merindukan anak-anaknya. Yeonjun terus memperlakukannya seperti induk kuda, sering membawanya ke tempat tidur untuk menanam benihnya. Ia menanggung semuanya dalam diam, jiwanya hancur. Sampai suatu hari...
Soobin terbangun dan mendapati Yeonjun sudah pergi, sisi tempat tidurnya terasa dingin. Ia menghela napas gemetar, lega karena bisa beristirahat sejenak dari kehadiran Yeonjun yang terus-menerus mengembiakkan nya. Ia turun dari tempat tidur, tubuhnya terasa sakit karena terus-menerus sex dengan Yeonjun ,soobin masih di kamar yeonjun bukan kamar obsidian nya yg ketat
Saat dia berjalan ke kamar mandi, dia melihat selembar kertas di lantai. Sambil mengambilnya, dia membaca catatan yang ditulis dengan tulisan tangan Yeonjun: "Aku dipanggil untuk misi penting. Jangan tinggalkan ruangan ini sampai aku kembali.".
Jantung Soobin berdegup kencang saat ia membaca catatan itu berulang-ulang, mencoba memahaminya. Sebuah misi? Misi macam apa yang mungkin dimiliki Yeonjun yang akan membuatnya menjauh begitu lama? Ia mondar-mandir di ruangan itu, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan, ketika tiba-tiba...
Sebuah ide muncul di benaknya. Ia bergegas ke lemari pakaian, mencari-cari barang-barang Yeonjun dengan panik. Setelah beberapa saat mencari-cari dengan putus asa, Yeonjun menemukan apa yang dicarinya - kartu identitas dan satu set kunci.
Dengan jantung berdebar kencang, Soobin segera berpakaian dan memasukkan barang-barang curian itu ke dalam sakunya. Ia melihat sekeliling ruangan sekali lagi sebelum keluar dari pintu, pikirannya hanya tertuju pada satu hal: menemukan anak-anaknya.
Ia berjalan melalui koridor mansion, menggunakan kartu identitas Yeonjun untuk melewati pos pemeriksaan keamanan. Sambil berjalan, ia mengeluarkan kunci dan memeriksanya dengan saksama. Ada beberapa kunci yang berbeda, masing-masing diberi label dengan nomor kamar. Pandangan Soobin tertuju pada satu kunci khususnya - kamar 314.
Kamar 314. Di sanalah mereka membawa Beomgyu pergi. Ia merasakan gelombang tekad dan bergegas menuju kamar bayi, langkah kakinya bergema di lorong-lorong yang steril. Ketika akhirnya mencapai pintu, ia berhenti, menarik napas dalam-dalam sebelum memasukkan kunci dan memutar gagang pintu.
Ruangan itu dipenuhi dengan boks bayi, yang masing-masing boks bayi yg kosong. Mata Soobin mengamati ruangan itu, mencari-cari wajah yang sangat dikenalnya. Dan kemudian, dia melihatnya - Beomgyu, yang sedang tidur nyenyak di boks bayi keempat dari kiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
Drabble yeonbin
HumorOnee-shot dari beberapa kapal yeonjun dan soobin Yeonjun top Soobin bottom Jan salpak ini bukan soobjun tapi yeonbin
