BAGIAN 102

1K 68 22
                                        

"Tuan.. apa ini masih jauh?" Tanya seorang laki-laki muda yang berjalan semakin masuk ke dalam hutan.

Pria dihadapannya itu menjawab pertanyaannya dengan berdehem saja. "Tuan.. kita harus beristirahat sebentar, aku lelah." Ujar laki-laki itu lagi. "Baiklah, aku juga lelah. Sepertinya di ujung sana ada sungai. Kita bisa beristirahat disana sejenak." Jawab pria yang dipanggil Tuan itu.

Keduanya berjalan menyusuri hutan yang sangat gelap itu. Tiba-tiba...

"Arrghh.. tolong.."

Kedua pria itu saling berpandangan. Semakin menajamkan pendengaran mereka. Langkah mereka semakin pelan dan mengamati situasi. "Tuan, Tuan Radif anda mendengar rintihan barusan tidak?" Bisik laki-laki itu dengan takut juga sebal karena Radif tak juga menjawab.

"Sssttt.. diamlah sebentar. Aku mendengarnya. Mari kita cari dimana suara itu berasal." Jawab Radif dengan mengarahkan senternya ke seluruh sudut hutan.

"Tolong..." rintih wanita itu lalu tak sadarkan diri.

Radif melihat seorang wanita terbujur di tepi sungai. Pelan-pelan dia mendekati wanita itu. Pria yang bersamanya juga memegang erat tas punggung milik Radif. Keduanya memeriksa wanita itu.

"Aaahhh astaga Tuan, Nyonya Salsa..." teriak pria itu terkejut dan ketakutan. Radif menatap wanita itu. "Dia masih hidup. Jack, ayo kita tolong dia." Perintah Radif.

"Ta..tapi Tuan dia bukan Nyonya Salsa. Dia hanya mirip. Badannya juga penuh luka. Siapa tahu dia ini buron atau istri mafia yang sedang dikejar musuhnya. Iihh serem Tuan.." cerocos Jack dengan gayanya yang kemayu itu. "Ssttt diamlah. Dia sedang sekarat. Kita harus membantunya. Aku tahu dia bukan Salsa adikku. Lagi pula Salsa sudah meninggalkan kita selamanya. Mana mungkin orang yang sudah mati bisa hidup lagi." Jawab Radif lalu mengangkat tubuh wanita itu.

******

Arya terus memandangi wajah cantik putri kecilnya itu. Saat ini hidup Amaira hanya bergantung pada alat-alat yang menempel pada tubuhnya. Akibat terkena ledakan itu, Amaira terbakar hampir 65%. Entahlah Arya sangat kacau.

Amanda juga belum ditemukan hingga saat ini waktu sudah berjalan enam bulan. Arya tak mau percaya apa yang terjadi padanya. Dia yakin istrinya masih hidup namun faktanya, istrinya tak kunjung kembali.

"Sweet heart, apa kau mendengar Daddy..?" Tanya Arya sembari memegang tangan mungil Amaira.

"Sweet heart, dengarkan Daddy. Kau... kau boleh pergi sekarang. Aku tak akan menahanmu lagi. Jika kau disana bertemu dengan Mommy katakan padanya jika Daddy dan Garsa sangat menyanginya dan juga menyayangimu." Tangis Arya pecah. Pria itu sesenggukan sambil mencium tangan putrinya.

"Kau boleh pergi sekarang. Terimakasih sudah ada di hidup Daddy yaa sweet heart. Terimakasih sudah mau bertahan dan menemani Daddy sampai detik ini. I love you." Ucap Arya lalu mencium puncak kepala Amaira. Tak lama berselang monitor tanda vital yang memantau keadaan pasien itu berbunyi. Tiiiiiiitttttt..

"Amairaaaaa..." teriak Arya lalu memeluk putrinya itu. Ikbal, Naya dan Erlin menangis berpelukan.

Selamat jalan Amaira.

******

Naya melihat bingkai foto Amaira dan Amanda. Air matanya jatuh bebas hingga dadanya terasa sesak. "Kenapa bukan aunty yang terkena ledakan itu sweet heart?" Tanyanya lirih. Ikbal yang mendengar itu memeluk istrinya.

"Sstttt kau tidak boleh berbicara seperti itu. Amaira pasti juga tidak suka mendengar ini darimu. Ikhlaskan dia sayang." Kata Ikbal membuat Naya semakin menangis. "Kasihan kakak, dia sudah kehilangan anak dan istrinya." Ujar Naya disela tangisnya.

INTERNAL LOVE (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang