Happy reading 🤏🏻
Pesta teh selesai saat sore hari. Elaralia menuju kereta kudanya dengan senyum puas, gadis itu benar-benar bahagia melihat wajah tertekan Anelish selama pesta.
"Lady Elara."
Suara lembut itu menghentikan langkahnya, Elaralia berbalik, ia melihat Anelish yang berjalan sendiri ke arahnya.
Menoleh ke belakang, Elaralia menatap kereta kudanya dan Nola yang menunggu disana.
"Ada apa?" tanya Elaralia. Jujur ia sedikit lelah, tubuhnya terasa lengket, ia rindu kasurnya.
Langkah Anelish berhenti lima langkah dari Elaralia, ia menatap gadis cantik dengan gaun hitamnya yang mempesona itu gentar.
"Bisakah Anda sedikit menegur kelompok Anda? Terkadang perkataan mereka menyakiti hati saya." ungkapnya, kedua tangan gadis itu meremas sisi gaunnya.
Elaralia diam, ia tak merespon membuat tubuh Anelish bergetar. Gadis itu trauma dengan segala yang Elaralia lakukan padanya.
Melangkah pelan, Elaralia mendekat, ia menatap Anelish yang sudah berkeringat.
"Bukankah persaingan kita sudah selesai? Yang Mulia sudah menentukan siapa yang pantas menjadi permaisuri." kata Anelish lagi, ia sudah mengumpulkan semua keberaniannya.
Bukannya jawaban, malah suara kekehan yang Anelish dapat. Ia menelan ludahnya susah payah.
"Itu yang saya inginkan Lady," ucap Elaralia pelan. Telunjuknya menekan dada Anelish, lalu bergerak hingga ke dagu gadis itu.
"Kau tahu? Pantas katamu tapi tidak bagi orang lain, dulu kubu kita memang sama, tapi tidakkah kau menyadarinya sekarang. Banyak lah mereka yang ada di pihakku dari pada di pihakmu. Kau tidak menyadarinya juga, jika mereka pindah ke sisiku karena kau tidak pantas akan hal itu." tambahnya dengan nonformal.
Elaralia mengabaikan Anelish yang tidak memberikan salam padanya.
Mencengkram dagu Anelish, Elaralia memajukan sedikit kepalanya. Posisi mereka jika di lihat dari jauh maka akan seperti teman yang saling berbisik.
"Dedikasi apa yang kau berikan pada kekaisaran sehingga kau menyebut dirimu pantas menjadi permaisuri, hm? Aku rasa, Catarina yang terkenal semena-mena dan manja bahkan lebih baik dari dirimu, wabah penyakit di wilayahnya dua tahun lalu ia berperan besar di sana. Sedangkan kau? Hanya kesana kemari menghadiri pesta, lalu berbelanja dan berbelanja," bisiknya pelan. "Anggap saja ini masih persaingan sebelum kau benar-benar menikah dengan Yang Mulia, tapi bukan untukku, melainkan untuk orang yang benar-benar pantas." tandasnya.
Elaralia memundurkan wajahnya, ia menatap wajah Anelish yang pucat pasih. Gadis itu menepuk-nepuk kepala Anelish pelan. "Berusahalah sebelum kau benar-benar menikah dengan Yang Mulia, jika tidak posisimu akan gampang di geser oleh orang lain. Anggap saja Yang Mulia buta sehingga memilihmu."
Setelah mengatakan itu, Elaralia berbalik pergi. Ia menatap Nola yang masih setia menunggu, duduk di salah satu kursi.
"Ayo Nola, aku sudah sangat lelah." keluhnya, membuat Nola dengan segera membantu nonanya menaiki kereta kuda.
Di tempat itu, hanya Anelish yang masih berdiri dengan wajah pucat. Ia menatap jejak kepergian kereta kuda milik Elaralia.
"Tidak mungkin, Yang Mulia sangat mencintaiku. Kami akan menikah dan hidup bahagia nantinya." gumam gadis itu dengan bibir bergetar.
Tapi tidak dengan pikirannya yang di penuhi gejolak, bagaimana jika ucapan Elaralia benar? Ia akan di gantikan, oleh orang lain atau Elaralia sendiri.
Wajahnya semakin pucat, ia menggeleng. Dirinya berusaha yakin jika akan menjadi permaisuri nantinya, menjadi wanita kaisar dan sangat di cintai oleh rakyatnya. Seperti di dongeng-dongeng yang selalu ibunya bacakan dulu saat ia masih kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
I Wanna Be Antagonist (end)
FantasyElaralia of Autheria adalah sosok antagonis sempurna di novel 'The Empress'. Sifatnya yang licik mampu membuat emosi para pembaca, apa lagi saat Elaralia lolos dari segala jerat hukum atas apa yang telah ia lakukan pada si pemeran utama. Lantas, bag...
