bab 17

9 2 0
                                        

Sesuai dengan janjinya, Alana dan Sabiru tengah berada dalam perjalanan menuju makam Awana. Sudah sepuluh menit mereka berkendara dari rumah Alana.

Setelah acara resepsi pernikahan selesai, Alana memang langsung memboyong Sabiru ke rumahnya, lebih tepatnya rumah orang tua Alana. Ada banyak pro dan kontra saat Alana menyerukan keinginannya itu, tapi semua langsung terdiam begitu Sabiru mengatakan dia yang memintanya pada Alana.

Perjalanan hanya tinggal sebentar, setelah melewati pertigaan lalu belok ke arah kanan dan kurang lebih seratus meter di depan sana adalah pemakaman tempat Awana.

"Biru, kamu baik-baik saja?" Sabiru mendongak, wajahnya sembab.

"Kenapa? Aku ngga papa, kok," jawabnya lemah. Bukan, sebenarnya bukan lemah, tapi suaranya yang begitu lirih dan menyayat hati yang mendengarnya.

"Maaf."

"Kenapa minta maaf? Ini bukan salah kamu, udah jadi takdir kalau aku sama Awana kayak gini."

Keduanya terdiam, entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Suasana di dalam mobil yang mewah itu begitu hening, canggung dan sendu.

"Harusnya aku yang minta maaf. Andai saat itu aku ngga minta Awana buat ke rumah, pasti dia masih ada di sini. Di sampingku dan menjadi suamiku," sambung Sabiru setelah sekian lama terdiam.

"Aku menyampaikan maaf Awana padamu," lirih Alana, "sudah, lebih baik kita turun. Sudah sampai di pemakaman."

Keduanya menuruni mobil dengan cuaca mendung yang menyambut. Tidak ada petir, hanya ada angin yang membuat suasana dingin. Alana mengajak Sabiru dan menuntunnya menuju makam Awana.

Sesampainya di depan makam, Alana membantu Sabiru untuk berjongkok dan setelahnya menabur bunga serta air yang dibawa dari rumah. Tatapan Sabiru begitu kosong saat menatap nisan Awana.

"Aku tunggu di bawah sana, kalau udah selesai kamu panggil aku aja." Awana menunjuk pohon yang tumbuh di sekitar sana, ada juga kursi yang memang digunakan untuk istirahat sejenak. Sabiru mengangguk.

"Sayang, apa kabar?"

"Kamu pasti kesakitan, ya? Maaf ... aku minta maaf."

"Awana-nya Sabiru."

"Biru kangen, tapi kita nggak bakal ketemu lagi."

"Aku mau ikut kamu, tapi aku ngga bisa. Kamu pasti marah, kan, lihat aku menikah dengan Alana, Kakak kembar kamu?"

"Aku sungguh berterimakasih atas jantung yang kamu berikan, tapi hidupku terlalu hampa kalau ngga ada kamu."

"Iya, sekarang aku udah nikah sama Alana. Walaupun masih sekolah, tapi pernikahan kami tetap terlaksana."

Sabiru memeluk nisan Awana, dia menumpahkan segalanya di sana. Air matanya terus mengalir tanpa henti.

"Kamu ingat waktu dulu aku tanya ke kamu, hm?"

"Awan, kamu gak akan pergi dari aku, 'kan?"

"Aku gak akan pergi, Ru. Aku akan selalu ada di sisi kamu."

Ucapan Awana terngiang-ngiang di kepala Sabiru, saat ini Sabiru tengah terduduk lesu di samping makam indah dengan berbagai taburan bunga. Terlihat, makam itu seperti baru saja dibuat beberapa hari yang lalu.

"Katanya kamu ngga bakal ninggalin aku, Na," lirih Sabiru, "nyatanya, kamu tetap ninggalin aku, Na."

"Kenapa ... kenapa kamu pergi secepat ini, Awana? Bahkan, kita belum merayakan anniversary kita yang ketujuh tahun, Na."

"Kamu jahat, Awana! Kamu jahat!"

"Kenapa semua ini harus terjadi? Andai saja lima hari yang lalu aku gak minta kamu datang ke rumah aku. Maka ini ... gak akan terjadi."

"A-aku yang udah bikin kamu meninggal, Awana!"

"Bukan kamu yang bikin Awana meninggal, Ru. Akan tetapi, takdir kalian hanya sampai di sini." Seseorang menyahut ucapan Sabiru, dia mengelus pundaknya pelan.

"Pulang, ya? Jangan terus menangis, Awana pasti ngga suka kalau kamu terus menangis," ajak orang itu. Sabiru mengangguk, dirinya berdiri dengan bantuan Alana. Lelaki yang tadi mengelus pundaknya.

"Maafin aku. Dan, terima kasih juga atas jantung yang kamu berikan untuk aku. Jantung kamu akan aku jaga dengan sepenuh hati dan aku juga akan hidup dengan baik."

"Semoga di kehidupan selanjutnya, kita bisa bersatu lagi, Awananya Sabiru."

Sabiru pergi meninggalkan makam sang kekasih, setelah dia selesai menumpahkan segala kesedihannya karena kepergian dari Awana, kekasihnya yang akan selalu abadi di dalam hatinya.

Alana membantu Sabiru untuk masuk ke dalam mobil. Langit sudah sangat gelap, juga angin yang terus berhembus dengan kencang tidak baik untuk kesehatan Sabiru yang notabenenya baru saja sembuh dan kelelahan akibat acara resepsi pernikahan mereka.

Mobil meninggalkan pemakaman bersamaan dengan hujan yang turun dengan derasnya. Dejavu dengan kenangan bersama Awana, Sabiru kembali menangis menatap hujan.

"Tenang di sana, Awana-nya Sabiru."

"Aku akan menjaga Sabiru, sesuai dengan janjiku padamu, Na."

Malam itu keduanya kembali terdiam, cuaca yang semakin dingin membuat Sabiru tertidur dengan menggigil. Alana melihatnya dan menghentikan mobil sebentar untuk melepas jaket dan memakaikannya pada tubuh Sabiru.

Perjalanan yang seharusnya tidak terlalu jauh kini terasa sangat lama. Entah karena apa.

Awana, laki-laki itu begitu berharga dalam hidup Sabiru setelah sang Ayah. Laki-laki ke dua yang memberikan kasih sayang. Laki-laki yang terus memanjakannya dengan berbagai makanan dan perlakuan hangatnya.

Orangnya telah tiada, tapi kenangannya masih terasa. Mau sehebat apapun orang yang menggantikannya tidak akan bisa menandingi seorang Awana. Namun kini takdir telah berubah, Alana telah menjadi suami Sabiru dan dia akan mengusahakan apapun untuk kebahagiaan sang istri. Gadis yang dia cintai, tapi baru bisa dia miliki.

Jodohnya bukan dengan Awana, melainkan dengan Alana. Laki-laki yang tidak dia sangka akan menjadi suaminya.

Awan Biru Alana [END]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang