115

6.6K 834 49
                                        


Wendy hanya bisa menangis, di sampingnya ada Mark yang sejak tadi merangkulnya.

Dirinya hanya bisa menyentuh pintu kaca tersebut.

Disana putranya di nyatakan kritis dan dia tidak bisa melakukan apapun bahkan untuk masuk ke dalam menemani putranya pun tidak bisa.

"Sakit ya sayang?" Lirihnya.

Melihat tubuh putranya yang di penuhi berbagai alat yang dia tidak mengerti.

"Injun kuat kan nak? Injun gak akan ninggalin mama kan sayang?" Wendy kembali terisak, dirinya sungguh ingin menemani putranya di dalam sana, memberikan usapan agar putranya nyaman.

Mark semakin mengeratkan pelukannya pada mamanya.

"Mama, Renjun itu kuat, adik aku itu kuat, buktinya dia bisa bertahan selama ini agar kita bisa menemukan nya, dia gak mungkin ninggalin kita, kan Renjun bilang mau sekolah nanti," Mark ikut menatap ke dalam, memperhatikan adiknya yang terbaring di dalam ruangan dingin itu.



Chanyeol terdiam, dirinya menggenggam erat kertas putih di tangannya setelah tadi dia memaksa Suho untuk melakukan tes DNA kembali.

Chanyeol terkekeh pelan menatap kertas tersebut.

"S sudah aku bilang bukan, Renjun itu putraku, dia anak ku, bukan anak si sialan itu, bagaimana mungkin aku percaya bualannya begitu saja," Ujarnya.

Suho sendiri hanya terdiam, dia tidak pernah melihat Chanyeol yang seperti ini, dan ini adalah pertama kalinya dia melihat Chanyeol yang benar-benar lemah, selama ini dia selalu menjadi sosok yang kuat dan tegas tapi penyayang dan tidak pernah menunjukkan kelemahannya.

"Chan?" Suho menatap Chanyeol dengan sendu, dia tertawa namun menangis.

"Dia itu pembohong hyung, sejak dulu dia itu pembohong, bagaimana mungkin dia mengatakan Renjun bukan putraku, dia bilang Renjun putranya, padahal Renjun putraku hyung," lirihnya.

"Chan? Veros memang sempat menukar bayimu tapi aku menukar nya kembali, bayimu memang kritis tapi bukan mati." Suho menunduk tidak berani menatap adik sepupunya itu.

Chanyeol menatap Suho tidak percaya, berarti hanya dirinya yang tidak mengetahui apapun?

"Kau mengetahuinya juga, hyung?" tanyanya.

Suho mengangguk pelan menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Ya aku mengetahui semuanya, bahkan ibumu juga terlibat, dari dulu Veros sangat terobsesi dengan semua yang kau miliki bukan? Bahka dengan putramu, anak Veros juga sama kritisnya bahkan anak Veros tidak akan bisa bertaha saat itu, aku mengetahuinya karena aku melihat saat ibumu dan Veros menukar bayi kalian, aku ada di sana tanpa mereka sadari, Renjun hanya punya jantung lemah dan tidak terlalu parah, sedangkan putra Veros mempunyai komplikasi pada beberapa organnya karena terlahir prematur, sanya ibu mu yang tau istri Veros melahirkan di rumah sakit ini, sayangnya istrinya tidak bisa bertahan karena pendarahan hebat saat itu, setelah mereka pergi aku kembali menukar bayi itu, andai aku tidak menukarnya lagi mungkin bayi mu sudah berada entah di mana, karena aku mendengar sendiri ibu mu menyuruh Veros membuang bayi kalian." Suho menunduk sembari mengatakan itu semua, dirinya benar-benar tidak berani menatap Chanyeol saat ini.

"Sekarang semuanya sudah aman, Veros sudah tidak ada, sekarang kita berjuang bersama untuk Renjun." Suho mendekati Chanyeol.

"Kau harus kuat setidaknya masih ada istrimu dan anak anak mu yang lain, yang masih membutuhkan sosok penguat yang hebat seperti papanya." Suho memeluk Chanyeol beberapa kali menepuk pundaknya berusaha agar dia kuat.





Chenle dan Jisung berjalan pelan, menghampiri papanya yang kini terdiam dengan pandangan kosong sembari terduduk di lantai dan bersandar pada pintu ICU.

"Papa?" Panggilnya lirih.

"Hm, ada apa nak, dengan siapa kalian kesini?" Chanyeol berusaha tersenyum menatap kedua putra bungsunya.

Chenle dan Jisung sangat tidak tega melihat keadaan papanya seperti itu bahkan sangat kentara sekali mata papanya bengkak.

"Kenapa duduk di bawah pa, lantainya dingin, seharusnya papa duduk di kursi saja." Chenle membantu papanya berdiri hingga mereka berdua duduk di kursi tunggu depan ruang ICU.

Jisung sendiri hanya berdiri diam memegang sebungkus makanan di tangannya.

"Tadi hyung kalian nakal, buat papa panik, hyung kalian ngerjain papa kayaknya." Chanyeol terkekeh pelan.

Benar tadi saat dia masih berada di ruangan Suho tiba tiba seorang perawat datang dengan buru buru dan mengatakan detak jantungnya kembali lemah yang membuat Chanyeol dan Suho langsung berlari menuju ruang ICU tapi Chanyeol hanya bisa menatapnya dari luar tadi.

"Papa makan dulu, ini Jisung bawain makanan dari rumah, kata tante Yoona papa belum makan," ujar Jisung.

Chanyeol tersenyum menerima makanan itu.

"Kita makan bareng bareng aja ya" Chanyeol menatap putranya.

"Hyung sedang mengantri di kantin pa, mungkin sebentar lagi, sekalian tadi beliin makanan untuk oma karena tante Yoona lupa bawain makanan untuk oma" ujar Chenle.

Tak lama mereka mendengar suara langkah kaki yang mendekat.

"Papa, gimana keadaan Injun pa?" Mark menatap papanya yang tersenyum.

"Tadi sempat nakal, buat papa dan om Suho panik, tapi sekarang normal lagi kok jangan khawatir." Chanyeol berusaha membuat anak anaknya agar tidak terlalu khawatir sekarang.

"Echan? Lukanya udah gak sakit, lain kali hati hati dong nak." Chanyeol menatap haechan yang masih terdiam dirinya sudah tau karena Suho juga yang mengatakan nya.

"Gak apa apa kok pa, cuma lecet dikit jadi gak masalah," ujarnya.

"Kalian gak sekolah lagi Chenle Jisung, Mark Jeno Haechan Jaemin kenapa gak kuliah nak?" Chanyeol menatap semua anak anaknya yang kini menunduk.

"Jisung gak mau ninggalin Renjun hyung pa." Jisung menunduk membuat mereka semua kembali terdiam.

"Percuma pa, kita tidak akan fokus nanti nya," gumam Jeno.

Chanyeol hanya bisa menghelas nafas mendengar itu semua.

"Sekolah dong sayang, besok Chenle dan Jisung sekolah lagi, udah beberapa hari izin kan? Kalian juga, setelah selesai kalian bisa kembali ke sini, ada papa dan yang lainnya di sini juga, jadi gak perlu khawatir, papa gak mau sekolah kalian jadi terganggu, Mark katanya pengen lulus tahun depan" dirinya berusaha memberikan pengertian pada anak anaknya, bagaimana pendidikan penting.

"Jangan sampai bentar lagi Renjun yang lebih pintar loh" Chanyeol sedikit tersenyum.

"Ya udah kalian ke ruangan mama gih, kasian pasti oma udah nunggu juga, besok papa yang akan mengantarkan kalian semua" Chanyeol mengusap kepala putranya satu persatu.

"Aku dan Jisung mau nemenin papa si sini, kita makan bareng ya pa" Chenle langsung duduk kembali begitupun dengan Jisung mereka mengambil makanan yang di bawakan oleh hyungnya.

"Ya udah biar Mark hyung sama Jaemin aja yang keruangan mama, kita di sini aja sama papa nanti gantian," ujar Jeno.

Chanyeol hanya tersenyum, dirinya merasa bangga dengan semua putra putranya.

"Injun gak mau bangun nak? Jangan kayak tadi, papa gak suka becanda nya Injun sayang, Injun gak mau ikut makan bareng, gak kangen ayam kecapnya mama, kasian moomin di tinggal sendiri." Batinnya.

Chanyeol terus sesekali melirik pintu ruangan ICU di mana putranya sedang berjuang di sana.





Mark dan Jaemin membuka pintu kamar rawat mamanya dengan pelan, membuat oma segera menoleh.

"Maaf oma kita lama, tadi ke ICU dulu," ucap Mark.

"Gak apa apa, oma ngerti, sini, mama kalian baru tidur habis makan tadi" ujarnya menatap Mark dan Jaemin yang kini menggenggam tangan mamanya.

"Mama kapan keluar oma?" Jaemin menatap omanya yang tengah menyiapkan makanan yang mereka bawah.

"Kalau sudah membaik, mama kalian sudah mau makan jadi kata dokter Alan liat keadaan dua hari ke depan, kalau bagus mama kalian sudah boleh pulang" ujar oma.










Ayo jangan lupa vote sama komen oke

Stars Behind the Darkness (PO4)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang