"Enak kali, ya, kalo belajar di sekolah? Main bareng sama temen-temen di bawah sinar matahari ... ngebayanginnya aja udah seneng banget. Tapi gue yang dari lahir udah musuhan sama yang namanya matahari bisa apa?"-Bagas Rafardhan.
"Jika gue terlahir...
If I could turn back the clock
I’d make sure the light defeated the dark
I’d spend every hour of every day
Keeping you safe
(You Are The Reason-Calum Scott)
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
Pintu kamar Ardhan diketuk tiga kali dari luar. Ardhan yang sedang belajar itu harus berhenti dan membukakan pintu. Bundanya tersenyum, memberitahu kalau Jaffan ada di lantai bawah. Setelah Ardhan berkata bahwa ia akan menyusul ke bawah, Bunda berlalu memberitahu Jaffan untuk menunggu lalu kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam.
Langkah Ardhan melambat ketika melihat fisik Jaffan yang terlihat lebih kurus dari terakhir mereka bertemu. Ardhan memaksakan sebuah senyum meskipun matanya tak dapat berbohong memancarkan kesedihan. Lalu matanya turun ke bawah saat telinganya mendengar suara mengeong kucing. Di dekat kaki Jaffan, seekor kucing berusia kira-kira delapan minggu tampak mendongak melihat ke arahnya sambil mengangkat buntutnya ke atas. Bulu putihnya yang tebal kontras dengan matanya yang sebiru langit. Hidungnya yang kecil berjarak satu senti dari matanya mengendus-endus lucu. Kaki-kakinya terlihat pendek menandakan kalau ia adalah hasil persilangan antara kucing persian dengan munchkin.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Lo yang bawa kucing ini, Fan?" Ardhan yang tampak tertarik itu mendekat, berjongkok dekat dan memasukan beberapa jari untuk mengusap kepala kucing di dalam kandang berjaring itu.
"Iya. Lo suka?" Kini Jaffan ikut berjongkok.
Ardhan mengangguk. "Sekarang lo adopsi kucing?"
"Kucing ini hadiah buat lo."
Gerakan jari Ardhan terhenti, membuat si kucing kembali mengeong seperti melayangkan protes. Ardhan mendongak menatap Jaffan yang tersenyum.
"Lo inget waktu kita vc pas gue di supermarket? Di sana gue ketemu Bunda lo, dan beliau cerita kalo dulu lo pengen banget kucing sampe merengek-rengek," Jaffan berkata. "Jadi, gue kepikiran kenapa gak gue kasih aja mengingat lo merengek dulu?"
Ardhan kembali menunduk pada kucing kecil yang terus-menerus mengeong itu. Ardhan membuka kandang, membawa kucing itu ke pelukannya. Seketika, si kucing berhenti mengeong, kini tampak menikmati elusan hangat Ardhan.
"Lucu, ya?" Jaffan bersuara lagi. Ardhan mengangguk. "Namanya Filo. Waktu pertama masuk pet shop kemarin lusa, gue udah sreg banget sama dia. Dan entah kenapa, begitu gue peluk, Filo gak rewel. Dia malah betah seolah kita memang udah kenal lama. Makanya gue bawa dia buat gue kasih ke lo, karena gue yakin Filo juga akan nyaman sama lo seperti dia nyaman sama gue."
"Kalo Filo nyaman sama lo, kenapa lo malah kasih ke gue?" tanya Ardhan skeptis, tangannya tak henti mengelus Filo yang kini tidur di pangkuannya.
Jaffan membisu. Berusaha mencari kata-kata yang sekiranya tak membuat Ardhan curiga. Setelah hatinya yakin, pemuda itu tersenyum. "Kan udah gue bilang, gue pengen ngasih lo kucing karena tahu lo mau meliharanya dari Bunda lo. Lagian, lo lihat sendiri kan sekarang? Dia aja anteng sampai ketiduran gitu di pangkuan lo, artinya dia juga nyaman sama lo."
Ardhan menunduk pada kucing putih yang tampak mendengkur halus itu. Pemuda itu tentu senang karena akhirnya keinginannya untuk memelihara kucing bisa terwujud karena Jaffan. Tetapi, di satu sisi dia sedih karena dia tahu bahwa ada suatu alasan lain kenapa Jaffan melakukan semua ini.
"Setelah gue cari tahu, ternyata nama Filo itu berarti teman. Gue senang dengan fakta itu karena enggak hanya jadi kucing, dia akan jadi teman yang baik dan akan menjaga lo," ungkap Jaffan. "Dia akan selalu ada di saat gue...," Jaffan menggantung ucapannya. Tapi beberapa sekon kemudian, dia tersenyum. "Di saat gue gak ada buat lo."
Ulu hati Ardhan serasa dicubit. Air matanya nyaris keluar kalau saja dia tak menahan diri. Dengan suara bergetar ia bertanya, "Memangnya lo bakal ke mana?"
Jaffan malah tertawa, sumbang. "Gue gak akan selalu ada buat lo, Ardhan. Gue gak akan terus-terusan ada di rumah lo, punya waktu sama lo. Ada waktunya gue sekolah, bareng orang tua gue, bahkan terapi. Jadi dengan hadirnya Filo, lo gak akan gabut-gabut amat kalo di rumah. Lo bisa ajak dia curhat. Konon katanya, kucing juga punya rasa empati dan bisa jadi pendengar yang baik."
Ardhan memalingkan wajah, tak ingin mata berkaca-kacanya dilihat Jaffan. Ia kembali memperhatikan Filo yang tampak tenang di pangkuannya. Pikirannya melalangbuana. Ia sedih, marah, kecewa karena Jaffan menyembunyikan sesuatu yang besar darinya. Kendati demikian, entah mengapa Ardhan tak mampu untuk meluapkan emosinya.
***
Malam datang. Di luar sana, hujan membasahi bumi. Selaras dengan air mata yang menghujani pipi Ardhan. Di kamar yang hanya diterangi lampu redup, suasana begitu sunyi. Hanya suara Filo yang mengeong pelan saat Ardhan mengelus bulunya di atas kasur.
“Filo... tahu gak?" Ardhan mulai berbicara, suaranya rendah, nyaris berbisik. “Jaffan itu aneh banget. Dia kasih lo ke gue, bilang lo bakal jadi teman gue. Padahal, dia tahu kalau gue gak butuh pengganti dia."
Filo mendongak, menatap Ardhan dengan mata biru langit bulatnya, seolah mengerti setiap kata yang diucapkan.
"Well, jangan salah paham, ya. Gue senang atas kehadiran lo, tapi...," Ardhan menghela napas panjang. “Dia pikir gue gak tahu, ya? Dia pikir gue gak ngerti apa yang sebenarnya terjadi?"
Tiba-tiba Ardhan mulai terisak.
"Gue tahu semuanya, Filo. Gue tahu hidup dia gak akan lama lagi," lanjutnya dengan suara bergetar.
Filo mengeong, seolah mencoba menghibur.
"Gue gak ngerti kenapa dia gak cerita sama gue? Apa gue gak cukup bisa dipercaya sebagai sahabat? Gue juga marah banget sama keadaan. Kenapa Jaffan jadi sakit parah di saat gue dinyatakan sembuh dari kanker? Apa sakit yang gue derita akhirnya berpindah ke dia? Tapi kenapa?"
Filo kembali mengeong. Kali ini ia berdiri menghadap Ardhan. Kucing berkaki pendek itu bergerak seolah ingin memeluk pemuda tersebut.
"Apa gue gak pantas buat bahagia, ya, Filo? Apa gue memang ditakdirkan buat sendiri? Kepergian Harsa dan Gara udah cukup bikin hidup gue hancur. Sekarang ... sebentar lagi Jaffan bakal pergi. Mimpi yang gue punya sekarang seolah gak berarti."
"Meow," Filo kembali bersuara.
"Iya, Filo. Gue tahu, pasti ada alasan kenapa Jaffan gak cerita. Tapi gue ini kan sahabatnya. Kita udah janji buat selalu saling bergantung satu sama lain, berbagi bahagia dan sedih bersama. Kalo lo jadi gue kebayang gak bakal sesakit apa?"
"Meow ... meow..."
Ardhan mengusap kedua pipinya. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. "Kalo lo jadi gue saat ini, apa yang bakal lo lakuin?"
Seolah mengerti dengan jawaban Filo, Ardhan menganggukan kepala. "Lo benar, Filo. Gak ada yang lebih penting daripada membuatnya bahagia sekarang. Gue harus bersikap seolah gue gak tahu tentang dia supaya dia gak merasa bersalah atau sedih. Gue harus kuat kayak Jaffan, kan?"
"Meow..."
Ardhan memeluk Filo, mengusap punggungnya lembut. "Kalau hari itu benar-benar datang, setidaknya Jaffan harus pergi dengan senyuman. Gue harus ikhlas."
Ardhan memeluk Filo erat, membiarkan tangisnya tumpah kembali. Dalam pelukan itu, ia bisa merasakan detak jantung Filo yang beradu dengan detak miliknya. Melalui denyut yang seperti saling terhubung itu, Ardhan menemukan sedikit kekuatan untuk menghadapi menjalani hari-hari yang tersisa bersama Jaffan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
***
How this chapter going? Sedih? Sakit? Hancur? Emosi? Sok kita siap menerima roastingan kalian di komen. Tinggalkan jejak kalian :) Harus sering-sering komen soalnya bentar lagi say goodbye to this story🥺🥲 see you in the last chapter. Maybe?