29 - Shadow

1.4K 128 12
                                        

Apa ini benar?

Mungkin itu yang digambarkan oleh raut dari remaja laki-laki yang kini dihadapkan dengan situasi tidak mengenakkan.

Orang yang tengah membentak dirinya itu adalah ayahnya sendiri. Dan di samping sang ayah, ada sang ibu yang melihatnya dengan tatapan tidak puas, terlihat sangat arogan.

"Dengerin gak sih kamu?" kata pria paruh baya itu. Suaranya tidak meninggi, tapi nadanya setajam silet yang mampu menyayat seluruh nadi.

"Denger lah, masih punya telinga juga." balas yang termuda di sana. Nadanya ikut serta menajam.

Yang mendengar tentu tidak puas. Anak yang mereka besarkan kini tumbuh menjadi seorang pembangkang.

"Pokoknya, kamu awasi terus enigma sialan itu."

"Mustahil, pa, indranya itu berkali-kali lipat lebih tajem di banding alpha dominan!"

"Kamu kira saya gak tau?"

Remaja laki-laki itu terdiam. Apakah papanya ini berniat menjadikannya seekor kambing hitam?

"Kalau perlu abisin juga mate nya itu." sambung wanita yang tak lain adalah sang ibu.

Pria paruh baya itu tersenyum, tampak puas dengan ide istrinya.

"Tapi--!"

"Diem! Saya gak peduli hubungan kamu sama dia itu apa. Lagian dia sering sendirian di rumah, bunuh dia itu gampang." ucapnya, feromon yang pria itu keluarkan seakan mencekik lehernya.

"Yang perlu kamu lakuin cuma ngikutin perintah saya. Jangan coba-coba berkhianat, atau nyawa alpha gadungan itu taruhannya."

Remaja laki-laki itu menggigit bibirnya. Saking kuatnya sampai ia bisa merasakan rasa asin darah.

Ia beranjak, berdiri dan menendang kursi tempatnya duduk sebelumnya kemudian melangkah keluar dari ruangan penuh sesak.

"Jangan lupa, ini akibat dari kamu sendiri yang ceroboh sampai saya tau apa yang kamu sembunyikan, dasar anak tidak tau diri."

Sialan, kenapa ia harus hidup dan tumbuh di keluarga bajingan?

***

"Rav, Karel mana? Katanya mau nyusul?" tanya Sephia pada Rava yang kini duduk di atas kasurnya. Kedua sahabatnya itu mengatakan jika mereka akan datang menjenguknya, tapi kini hanya ada satu dari dua orang yang datang. Dan parahnya, mereka sudah menunggu selama berjam-jam dari sejak Rava datang.

Kemarin Arshan dan Elisabeth yang datang, hari ini giliran kedua sahabatnya.

"Nah itu! Gue nyoba telpon dia dari tadi ga bisa mulu." jawab Rava, ia mengacak-acak rambutnya pening karena temannya itu tidak bisa dihubungi sama sekali.

"Udah coba ke rumahnya?"

"Belum, sih."

"Ya udah sana ege, lagian di samping doang!"

"Ya lu kira kagak jauh!? Mana ngelewatin pohon besar itu lagi, serem anjir. Kalo sendiri gak berani!"

Tentu Rava tidak melupakan fakta bahwa Sephia dan Karel itu bertetangga, tapi yang membuatnya enggan adalah letak rumah Karel yang ada di dekat pohon besar yang katanya keramat.

"Haduh, Rav! Lo mau temen lo kenapa-napa? Kalo bisa mah gua temenin, masalahnya ini gue masih puyeng! Dihina tak tumbang, disuruh jalan sempoyongan!"

Alpha Belongs To Me (re upload)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang