Bab 19

5 2 0
                                        

Sesampainya di rumah Aruna dan Kevin, Sabiru dan Alana langsung menghampiri mereka berdua yang ternyata menunggu di depan rumah. Basa basi sebentar dan langsung menuju meja makan untuk melangsungkan makan malam yang tertunda akibat Sabiru dan Alana yang memutari kota terlebih dahulu.

Makan malam kali ini adalah menu kesukaan Sabiru, dan ada juga menu kesukaan Awana. Iya Awana bukan Alana. Kenapa harus Awana? Silahkan tanya pada Aruna dan Kevin.

Makan malam berlangsung dengan baik tanpa ada halangan apapun, Sabiru yang begitu ceria bercanda gurau dengan kedua orang tuanya dan Alana yang tersenyum senang melihat keceriaan itu. Rasanya tidak ada hal lain yang bisa Alana rasakan kecuali hal yang satu itu.

"Ru, nanti kita menginap saja di sini, besok libur, kan?" ujar Alana memecah keheningan saat mereka membahas Awana.

Tatapan Sabiru yang awalnya terlihat sedih kini berganti menjadi tatapan malas, "Hm."

Alana harus terbiasa dengan jawaban Sabiru dan dia juga harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati istrinya. Tersenyum menanggapi, Alana pamit untuk ke kamar mandi karena tiba-tiba dia merasakan mulas.

"Sayang, kamu masih belum menerima Alana?" tanya Aruna mengelus rambut panjang Sabiru.

Anak gadisnya itu menggeleng, "belum, Biru belum bisa melupakan Awana."

"Diusahakan untuk menerima Alana, ya? Bagaimanapun juga dia tetap suami kamu, kamu juga bisa melepas rindu kamu ke Alana. Wajahnya sangat mirip dengan Awana," nasihat Aruna. Bagaimanapun kejadian yang menimpa anaknya, dia harus berada di posisi netral.

"Akan Biru usahakan, Ma, tapi Biru ngga janji, ya. Soalnya cinta Biru kayak habis di Awana." Sabiru berkata pelan, dia juga menunduk seolah takut jika Alana mendengarnya.

Aku akan menunggu saat itu, Ru. Saat di mana kamu mengatakan cinta dan tatapanmu padaku tidak lagi dingin seperti sekarang.

***

Sinar matahari menerobos melalui celah yang ada di antara jendela dan korden. Seorang gadis terbangun dari tidurnya, menghalau sinar yang masuk lalu menatap wajah laki-laki di sampingnya, wajah itu ... dia sangat merindukan wajah yang ada dihadapannya itu.

Na, bagaimana kabar kamu di sana? Aku merindukanmu, semuanya tentang kamu, Na, batin Sabiru mengelus wajah Alana dengan pelan, mencoba mematikan rasa rindunya pada Awana.

Lelaki di sampingnya itu terbangun, Sabiru langsung memejamkan matanya berpura-pura tidur. Alana menatap Sabiru dengan penuh arti, dia tidak tahu kenapa bisa seperti itu. Namun, senyuman terpancar dari wajahnya saat melihat mata istrinya yang bergerak-gerak.

"Bangun, Ru, sudah pagi." Alana mengelus lengan istrinya mencoba untuk membangunkan.

Sabiru memerjapkan matanya, berpura-pura bangun tidur. "Hm."

"Mandi, gih, nanti setelah sarapan kita jalan-jalan lagi keliling kota," titah Alana, tanpa sadar Sabiru mengangguk.

Tubuhnya secara alami langsung bangun dari tidurnya dengan sedikit lesu dan sempoyongan. Alana tersenyum melihatnya. Tak lama kemudian Sabiru keluar dari kamar mandi dengan baju yang lebih rapi.

Alana langsung bangun dari tidurnya dan bergantian untuk mandi. Lima belas menit berlalu, Alana keluar dengan tampilan lebih segar. Dia sengaja memakai baju yang sedikit mirip dengan baju yang dipakai Sabiru. Sama-sama warna maroon tanpa gambar.

Sabiru yang tidak menyadari akan kemiripan bajunya dengan sang suami, memilih untuk memoles wajahnya tipis-tipis. Tidak mungkin dia memakai make-up tebal, sedangkan dirinya sudah cantik.

"Sudah selesai, Mas?" tanya Sabiru tanpa menoleh, dia masih fokus untuk mempercantik wajahnya.

Alana mendengar pertanyaan Sabiru terdiam, bukan pertanyaan, melainkan kata terakhir yang terucap dari bibir Sabiru.

"Mas?" panggil Sabiru menolehkan kepalanya, ditangannya masih ada brush untuk blush-on.

"Kenapa? Kok, diam, Mas?" tanya Sabiru menatap bingung wajah Alana. "Atau ada yang salah dengan penampilanku? Makeup ku ngga terlalu tebal, kan?"

Mendengar pertanyaan beruntun dari Sabiru membuat Alana tersadar. "Engga ada, kok. Tadi kamu bilang apa?"

"Yang mana?"

"Yang pertama, Ru."

"Sudah selesai?" ulang Sabiru yang masih tidak paham.

"Setelahnya, Ru."

"Yang mana? Biru lupa," jawabnya meletakkan

"Yang ini, 'sudah selesai, Mas?'," ulang Alana.

Sabiru termenung, dia juga tidak sadar telah mengatakan hal itu, tapi pertanyaannya Alana juga sukses membuat dirinya sedikit berbunga. Ingat, sedikit berbunga ya guys. "O-oh ... i-itu ... a-aku ngga tau," gagap Sabiru mengalihkan pandangannya dari tatapan Alana yang terlihat bahagia.

"A-aku pergi dulu, selesaikan dulu bersiapnya. Aku tunggu di bawah," pamit Sabiru.

Awan Biru Alana [END]✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang